Bukber dimana kamu hari ini?

Jelang minggu minggu terakhir pasti kamu menerima banyak ajakan berbuka puasa bersama, ya kan?
Bukber dengan teman SMA, Kuliah, Genk cantik, Organisasi, teman sehobby, Kantor, atau apa aja yang penting judulnya bukber. Carut marutnya lalu lintas di Jakarta karena THR yang sudah cair ditambah gempuran Sale dimall- mall penjuru jakarta ditambah hujan yang kadang turun di sore hari, nampaknya tidak menyurutkan semangat warga Jakarta yang memang punya agenda bukber belakangan ini.

Kalau pertanyaannya diganti, buka puasa dimana yang paling berkesan buat kamu?, aku punya jawaban yang mungkin berbeda sama kamu.

Jumat kemarin, saat warga Jakarta di sore hari sepertinya tumpah ruah ke jalan raya, plus Jakmania yang aksinya mewarnai pemberitaan situs berita, saya juga berencana untuk datang ke bukber yang diadakan oleh Sunco #BukberSunco, iya minyak goreng kesayangan itu lho. Bukan karena kesayangan aja tapi karena aku kangen sama teman teman yang ada di acara itu plus jeung @blanthik_ayu yang mengundang yang selalu punya sejuta cerita yang kadang engga ada hubungannya dengan minyak goreng.

Yang menarik adalah cerita perjalannya menuju kesana. Acara diadakan di kawasan jalan Pakubuwono, sebuah resto yang makanannya memang endess. Dengan penuh kesadaran akan menghadapi kemacetan yang menggila akupun memulai perjalanan sore itu. Dari kawasan Depok disetiri suami, karena saya juga harus sekalian kirim barang via gojek, alhasil sayapun ikutan bergojek karena sejak kawasan lenteng agung macetnya menggila.

Jadilah saya bergojek ria dengan Pak Wahyudi sebagai pengendara, yang awalnya saya ngga yakin dia bisa gercep alias gerak cepat, karena saat pertama ketemu saya dia udah kesulitan mengklik aplikasinya untuk konfirmasi ambil penumpang, ya handphone buatan China nya error kak!
Duh mana udah buru buru, pikirku. Akhirnya setelah beberapa kali dicoba, bisa juga.. Dan diapun mengingatkan saya buat pake penutup kepala yang tadinya saya malas pakai karena dia bilang : Dipake aja mbak tutup kepalanya, helmnya sudah dari tadi pagi pake dipake.. Oke deh, daripada rambut saya yang nantinya bakal mirip model helm karena lumayan jauh perjalanan bakal dapat bonus wangi apek helm yang sudah mengembara sejak pagi, akika setuju pake penutup rambutnya!.

Sepertinya baru kali itu saya bermotor di Jakarta yang lalu lintasnya super duper padat. Motorpun kehabisan ruang gerak, dan jarak tempuhpun sama saja dengan naik mobil rasanya. Langit mendung membuat udara engga terlalu menyiksa walau dalam hati deg degan jangan sampai hujan turun sebelum sampai tujuan. Pak Wahyudi tetap sabar dan memegang aturan haram berkendara di trotoar. Dan engga disangka, diapun ternyata hafal jalan jalan potong di Jakarta. Sampai di kawasan Hang Lekiu, yang ditakutkan pun kejadian. Hujan turun dengan derasnya memaksa kami buat berteduh di sebuah pos satpam salah satu rumah mewah disana. Di pos sudah ada seorang laki laki berteduh, nampaknya pengendara ojeg juga. Dugaan saya benar karena dia bercerita sudah belasan tahun mengembara di Jakarta dengan kendaraan roda duanya.

Di depan pos ada bangku kayu, panjangnya sekitar semeter. Tidak lama satu wanita datang berteduh bersama gojeknya, dan satu lagi datang yang ternyata tujuannya sama dengan aku. Lokasi bukber sebenarnya sudah dekat, tapi hujan yang derasnya ampun ampunan itu memaksa kami berteduh. Bonus angin kencang pun membuat kami tetap kebasahan walau sudah berteduh. Pengendara gojek kedua, berinisiatif memanggil taksi untuk penumpangnya karena dia bilang hujan kayak gini bakalan lama, kasian Mbaknya, biarlah katanya dia tidak usah dibayar karena gagal mengantar sampai tujuan. Taksi datang, Mbak kedua yang kalem itu pun berlalu.

Adzan maghrib berkumandang, Mbak ketiga yang tujuanya sama dengan saya mulai menggigit takjilnya sambil mencoba memesan uber. Pak Wahyudi bertanya apa saya perlu jaket karena hujannya mulai membuat rambutku yang sudah mirip Dora the Explorer pun lepek macam tercebur selokan, aku bilang tidak usah. Akupun bertanya apa Pak Wahyudi puasa, dia bilang sudah bawa air minum untuk berbuka. Akhirnya aku bersepakat naik uber berdua dengan Mbak yang juga mau kelokasi sama. Ubernya dapat, tapi karena lokasi yang macet, jarak 5 menit untuk menjemput kami jadi molor. Sang pengendara Uberpun bingung akan lokasi penjemputan karena hanya tertulis pos satpam jalan Hang Lekiu 1 :)). Bapak Ojek yang sudah pertama kali ada di pos ini pun berbaik hati menjelaskan detil lokasi kami via handphone saya. Akhirnya datang juga sang Uber, Pak Wahyudi dengan sigap memakaikan helm ke kepalaku maksudnya supaya engga kehujanan, dia sempat menolak tips lebih yang aku berikan karena katanya dia tidak sampai lokasi mengantarnya.

Duh, aku jadi merasa bersalah di awal tadi meragukan dia ya.. Bahkan waktu Bapak Ojek pertama bilang kalau Pak Wahyudi harus dapat rating bintang lima, Pak Wahyudi cuma tersenyum dan bilang dia tidak berani minta, terserah penumpang saja.

IMG_2906

Tidak pernah terbayang berbuka puasa bersama para pengojek di tempat sempit dan harum selokan plus badan basah kuyup karena hujan yang lebatnya engga kira kira.
Pengojek yang mungkin seringkali dianggap sebelah mata oleh banyak orang (salah satunya aku sebelumnya) tapi mereka adalah para pencari nafkah halal buat keluarga. Rasanya ini bukan berbuka puasa paling enak buatku tapi paling indah. Setelah ini aku masih bisa melanjutkan acara makan enak dan nyaman, sementara mereka masih harus menembus macet Jakarta dengan sisa air hujan yang menempel dibadan.

Kalau kamu, berbuka paling indah dimana?

Best Classic Belgian Waffles Recipe Ever!

IMG_1362 (1)

Hidup di Jakarta dan engga punya asisten rumah tangga kayak apa ribetnya? Atau kamu malah memang sudah menjalaninya selama beberapa tahun terakhir? yup, same with me.

Bangun pagi dengan kenyataan cucian menumpuk, lantai yang harus disapu dan pel, jemuran kering yang masih nyantol di gantungan, kucing yang belum dikasih makan, belum lagi aroma pupupnya yang semerbak, dan satu hal yag senantiasa hadir dan bikin kita mau pingsan rasanya kalo kehabisan ide, masak apa hari iniiii???

Jangan sedih ya Moms, kapan-kapan kita bahas betapa menyenangkan sekaligus bikin stressnya hidup tanpa asisten rumah tangga, yang pasti aku cuma punya Mbak harian yang datang seminggu sekali buat menyetrika dan bebersih, sisanya ya dikerjain bersama sama dengan yang ada dirumah.

Sarapan apa pagi ini ya? Menu dirumahku biasanya, roti tawar kampung lembut dari abang lewat, bubur ayam motor (karena jualannya naik motor dan cuma ini yang enak), nasi goreng ayam, teri, smooked beef, telor asin, dan sekian banyak variasi nasi goreng yang pernah di praktekkan, buah porong (kalau lagi stress lihat timbangan), martabak mie instan, atau omellete dan segala pelengkapnya yang kebarat-baratan, atau juga cuma segelas kunyit asem Mbok Jamu, nah yang ini cuma bisa diminum sama aku yang notabene paling cantik dirumah.

Pernah juga bikin pancake, tapi sampai sekarang belum pernah dapat resep yang pas banget atau mengembang dengan sukses ala di resto resto itu.

Hari ini, setelah terpending sekian hari, karena melihat postingan Mbak Ienas Tsuroiya seputar sarapan Classic Belgian Waffle, resep dari Emeril Lagasse yang bikin penasaran itu, mulailah minggu pagi dibuka dengan memisahkan putih dan kuning telur.

Biasanya resep selalu menggunakan buttermilk yang di Jakarta agak susah dicari, jadi harus bikin sendiri dengan mencampurkan susu dan perasan air jeruk lemon atau cuka, tapi sejatinya saya selalu gagal kalau bikin ini. Tapi resep ini Engga Pake Buttermilk!

Metodenya cuma memisahkan putih dan kuning telur dan mengocoknya masing masing. Bahannya pun sederhana, persiapannya cuma sebentar, bisa dikerjain walau mata masih belekan, atau nahan pipis karena belum sempat ke kamar mandi sejak bangun tidur.

Syaratnya, ya harus punya kemauan kuat kalau bikin waffle itu gampang, engga seribet bikin rendang. Lalu, jangan lupa punya cetakan waffle, iya, cetakan waffle aneka bentuk baik itu yang bisa di beli di pasar tradisional ataupun yang canggih sudah pake listrik.

Lantas apa resepnya? silahkan buka google kamu dan carilah resep Classic Belgian Waffle by Emeril Lagasse. Ih! Males banget sih copy paste? Bukan begitu Moms, hidup di Jakarta tampa asisten rumah tangga itu memaksa kita buat kreatif dan tak kenal lelah, dan kalau meng-google sendiri resep itu siapa tau kamu bisa dapat resep lain yang ternyata lebih ciamik dan gantian dong share ke aku :)

Aku menggunakan margarine dalam resep ini karena memang lagi kehabisan butter, dan pake vanilla extract yang baik, lebih baik lagi kalau ada vanilla bean, kalau engga ada pakai essence yang baik juga boleh. Jangan lupa pake susu fresh biasanya rasanya akan lebih enak walaupun engga jauh beda jika menggunakan susu UHT.

Jangan lupa juga berdoa, bikin adonan dengan penuh cinta, jangan pas lagi berantem dengan suami atau sambil ngomel ke anak yang susah banget dibangunin pagi. Jangan pikirin juga soal cucian piring yang harus dikerjain karena bikin waffle ini, percaya deh, menggigit waffle ini dalam keadaan hangat, dicocol ke nutella, selai coklat, kacang, menambahkan es krim, dan sejuta ide lain bisa melupakan kalau masih ada kerjaan rumah yang harus dilakukan setelah wafflenya tandas!

Selamat hari minggu Moms, waffle ini bisa dibikin di hari kerja kok, karena buatnya juga engga memakan banyak waktu! This one is the best waffle recipe ever!

Happy Baking Moms!

Ada Apa Dengan Pasar Santa

Pasar Santa

Cuaca panas berdebu menyambut kedatangan saya di parkiran belakang Pasar Santa. Bulan Juli 2014 lalu saya jarang memasuki parkiran belakang, karena area parkir masih banyak yang kosong di depan. Sekarang, kalau datang agak pagi masih memungkinkan saya parkir dibelakang, bukan karena manja harus membawa kendaraan, tapi bawaan saya biasanya terdiri dari satu cool box besar berisi pint pint es cream gelato yang di buat dirumah, beberapa tumpukan box bening isi sus buah dan sus kosong, dan beberapa kantong isi keperluan kios selalu memenuhi bagasi belakang hingga kursi penumpang yang membuat saya tidak mungkin naik kendaraan umum membawa semua ini sendirian. Seringkali saya tidak membawa kendaraan, tapi suami men-drop saya dan menurunkan semua barang, lantas dia pergi ke kantor. Tapi kalau dia dinas keluar kota terpaksa saya bawa semua sendiri.

Bapak penjaga parkir yang bertugas hari itu sibuk mengatur kendaraan, meminta saya menunggu untuk mencari tempat supaya saya bisa mudah menurunkan barang. Setiap hari bertemu mereka membuat kami biasa saling sapa, bercanda atau kadang curhat colongan singkat soal apa saja yang asik dibahas hari itu.

Pak Maman, petugas kebersihan lantai basement yang saya kenal cukup baik saat bekerja sama untuk kegiatan lomba masak di lantai basement tahun lalu pun sudah siap menunggu saya untuk membantu membawa barang yang saya tidak kuat angkat sendiri. Kami bersama sama mengangkut modal dagangan hari ini ke kios, sambil sedikit bercerita soal pasar hari itu dan Sedikit rejeki saya berikan buat Pak Maman sekedar untuk dia membeli minum dan sedikit kue dari rumah saya siapkan untuk teman kopinya. Continue reading →

live, laugh, love @SepotongKue #pasarsanta

choux @abcd_coffee

Satu hari Intan @badutromantis mengirimkan pesan via whatsapp,
“Mbak, Jual sus kamu dong diwarung aku..”
“Dimana?”
“Pasar santa, tapi bukanya dua kali seminggu ☺”
“Lha…kok bisa?”
“Aku telepon yaaa..”

PicsArt_1404664295339

Jadilah kami bertelepon dan saya dapat keterangan kenapa di Pasar Santa hanya buka dua kali seminggu waktu itu. Sayapun untuk pertama kalinya melihat @substore_ kios yang menjual vinyl, kaos dan jeans unik yang ada di santa milik Intan dan Aria yang saat itu masih pacaran belum menjadi suami-istri :)

Singkat cerita sampailah sus buah krim diplomat saya ke @abcd_coffee sebuah sekolah kopi yang dimotori Barista luar biasa handal dan mendunia, Mas Ve dan Mas Hendrik. Setiap saya bawa kesana, selalu habis. Memang saya engga bawa banyak, karena semuanya harus dibuat fresh dan kadangkala saya buatnya sekalian dengan pesanan teman yang sudah order duluan.

Sesekali saya membawa ice cream yang saya buat dirumah sebagai test food, sekaligus mencari tau respon dari siapa saja yang hadir disana.

Disinilah saya berkenalan lebih jauh dengan Pasar Santa, yang dulunya hanya saya tahu satu kalimat : Sate Padang Ajo Ramon.

Hanya dua toko yang sudah buka saat itu dilantai atas Pasar Santa, @Substore_ dan Sekolah Kopi A Bunch Of Caffeine Dealer atau @abcd_coffee ini. Diujung sana ada @Laid Back Blues Record Store yang juga sudah siap memulai perjalanannya. Sesekali saya melihat Bang Levi yang sibuk me-roasting kopi di sudut salah satu kios di pasar ini Orkide Coffe

Sisanya hanya lorong kosong gelap dan kumuh, yang sekitar tujuh tahun mati hampir tak berpenghuni, rasanya ngeri untuk dijelajahi di malam hari. Sampai sayapun harus menahan pipis setiap kesana, karena belum berani masuk ke dalam toiletnya yang ternyata tidak seburuk yang saya bayangkan sebelumnya. Continue reading →

Sunday Food Market-nya @SepotongKue

foto taken by Mbak @unilubis

Laki laki berpakaian casual dan istri bule-nya mendekat ke booth kami yang berukuran 2,5 x 2,5 m2 di selasar antara jajaran café dan resto cilandak town square.

Sang suami berkata : ‘Bisa pake debit card engga?” . Saya cuma tersenyum dan bilang : “ Bapak mau borong ya, hehe belum bisa Pak, ini kan Bazaar ☺”

#SundayFoodMarket adalah event bazaar yang di organisir oleh ThinkTank yang digelar setiap hari minggu di bulan Juni lalu.

Saya, tukang kue amatir yang sesekali terima order dari teman- teman dapat infonya dari @tenit di twitter seputar pop up bazaar ini. Sebelumnya saya pernah datang di event sejenis di Kemang Village, dan terkesima, senang rasanya melihat booth booth yang unik, kreatif, jenis makanan yang disajikan, dan para pesertanya yang kebanyakan anak muda yang engga malu-malu menjajakan dagangannya.

Sebagai pecinta kuliner rasanya terpanggil buat ikutan hal serupa walaupun saya belum punya persiapan apa apa. Nah, baca info dari Teh Nita Sellya tadi, rasanya terbayang-bayang bagaimana si @sepotongkue ini bisa eksis atau hadir di event itu atau lebih tepatnya memberanikan diri buat memperkenalkan produknya ke pasar yang sesungguhnya.

Tanpa buang waktu saya telepon penyelenggara menanyakan persyaratan dan lain lain. Lantas mendapatkan kabar bahwa space masih tersedia, budget ya masuk sih, karena target saya bukan omset tapi menantang keberanian diri buat jualan sesungguhnya. Saya pun daftar. Continue reading →

Antara Anyer, Joe Taslim, Juke, Tongsis dan…. Jakarta

anyer

Anyer? Pernah dong kesana…..:)

Joe Taslim

Joe Taslim? Hah? Atlit Judo? Pemain Film? Model? Fast and Furious 6? Ya.. bisa jadiii! Eh iya bener yang ini!

Juke? Nissan Juke mobil dengan jenis crossover yakni perpaduan antara SUV dengan Sedan, mobil SUV yang pertama kali diproduksi oleh pabrikan Nissan.

Tongsis? Tongkat Narsis?? Benda yang awalnya bernama Quik Pod ditemukan oleh Fromm Work, perusahaan yang dimiliki oleh pasangan ayah dan anak bernama Wayne Fromm dan Sage fromm, yang pernah diundang ke acara Oprah Winfrey.

Jakarta? Ibukota tercinta yang selalu menjadi titik poin awal keberangkatan sebuah perjalanan dan tentunya.. Ke Jakarta Aku.. kan Kembaliiii…

Kalau bukan karena PolimoliDotCom dan Nissan Motor Indonesia, maka ke lima kata ini tidak akan menjadi sebuah cerita.

Yak sip… Continue reading →

Catatan Kecil di Gerakan Unjuk Rasa Mahasiswa 1998

Kirana, Keponakanku..

Umurmu belumlah setahun saat aku menuliskan sedikit catatan ini.

Disini aku berfoto bareng dengan seseorang, dulu dia idola Ibumu. Ibumu dulu tahun 1998 tidak mau aku jemput pulang dari kampus UI Salemba. Karena dia kekeuh mau turun kejalan untuk ikut aksi unjuk rasa mahasiswa yang mungkin yang terbesar yang pernah terjadi di era orde baru. Dia hanya minta dibawakan baju dan celana jeans untuk baju gantinya.

Sehari setelah itu, aku menerima telpon dari RS Jakarta yang mengabarkan kondisi ibumu yang katanya tertembak dibagian kepala. Panik, kaget dan tak karuan rasanya, segera aku, Pakdhe Iqbal dan Ayah Ario mencari ibumu diantara ratusan mahasiswa dan mahasiswi dan bergeletakan dari mulai lobby hingga seluruh pojok kamar pasien yang ada di RS Jakarta. Aku akhirnya menemukan Ibumu terbaring diatas ranjang salah satu kamar di sana, masih menggunakan kaos milikku yang dia pinjam saat dia menolak kujemput pulang sehari sebelumnya, yang berhias noda lumuran darah dari pelipisnya plus bonus memar cap sepatu tentara dipunggungnya.

Ibumu sendiri tidak ingat apa yang terjadi sesungguhnya, dia cerita kepadaku, yang dia ingat hanyalah dia bergabung berunjuk rasa bersama tim medis dari UI, tiba tiba suasana tak terkendali, dia hanya ingat menarik jaket dari orang yang posisinya terdekat dia saat itu tapi hanya jaketnya saja, orangnya entah kemana. Ibumu melihat oknum yang mengarahkan senjatanya jarak dekat ke kepalanya, syukurlah peluru hanya mampir melintas disisi kepalanya tapi setelah itu dia tidak ingat apa apalagi.

Sejak siang Ibumu tergeletak di RS tanpa bisa mendapatkan obat sakit kepala atau penawar rasa sakit yang dia minta dari rumah sakit. Mungkin karena situasi begitu tak karuan saat itu dan banyaknya pasien yang ada disana hingga untuk sebutir obat sakit kepalapun belum dia dapatkan. Kalau saja dini hari saat itu Pak Mar’ie Muhammad tidak datang bercelana pendek dan melihat keadaan semua mahasiswa mahasiswi disana yang terluka, mungkin ibumu tidak bisa diobati maksimal.

Jelang subuh ibumu di evakuasi ke RSCM, masih dengan kaos yang sama, aku duduk diambulans menemani ibumu, melintasi jalan Jenderal Sudirman yang masih diselimuti asap tebal dari ban ban mobil yang dibakar dan sampah sisa unjuk rasa. Sepi,.. Ngeri… Gelap,… Mencekam… Continue reading →

Terjebak Nostalgia

Hujan sempat turun cukup deras sore tadi, bahkan pelangi pun sempat hadir di langit senja tapi walaupun tidak utuh. Sekarang, sisa hujan berupa hawa dingin tapi bau tanah segar tersiram air menggoda saya untuk mematikan AC mobil dan membuka kaca, menikmati udara malam sisa hujan, melintas jalan sepi, menuju rumah lengkap dengan kabut ikut menciptakan nuansa yang teduh, temaram, dan cukup bikin galau.

Di radio terdengar suara indah Raisa menyanyikan lagu “Terjebak Nostalgia”. Coba bayangin kalau kamu yang ada di belakang kemudi seperti saya sekarang, pasti pikiranmu tergoda menerawang entah kemana, belum lagi suara serangga malam hari sayup sayup terdengar karena kaca jendela mobil yang terbuka tadi.

Kalau belum bisa ngebayangin juga karena engga tau lagunya, ih tapi terlalu deh kamu kalau engga tau lagu ini. Jangan jangan kamu itu angkatan 66 jaman Supersemar, atau angkatan 45? yang lebih akrab sama lagu-lagu perjuangan macam ‘Halo Halo Bandung’ atau ‘Kopral Jono?’ . Sebentar, jadi kepikir kenapa Ismail Marzuki sang pencipta lagu Halo Halo Bandung itu memberi judul karyanya pake kata ‘Halo’ ya?. … apa karena beliau dapat idenya habis teleponan dengan sahabatnya atau seandainya lagu itu diciptakan di sekitar tahun 90-an atau tahun 1995 gitu saat perusahaan telekomunikasi Telkomsel baru berdiri, pasti lagu ini bisa jadi akan diendors oleh Telkomsel, ah.. sudahlah, saya cuma mau nulis kalau kamu memang engga tau lagunya Raisa tadi nih saya kasih sepenggal, maksudnya sedikit kutipan liriknya : Continue reading →

Satu Hari yang Sarat Makna

Selama lebih dari dua puluh hari melakukan aktifitas yang memerlukan fisik wajib dalam kondisi prima, emosi yang stabil yang tentunya sulit dilakukan dalam keadaan lelah dan bukan hanya lelah, tapi berada dalam situasi emosi yang naik turun karena menemukan hal hal yang belum pernah ditemukan, dilihat, dilakukan sebelumnya bukanlah hal yang mudah.

Ya pertama kali saya pergi ke Jazirah Arab adalah di tahun 2012, bukan hanya untuk berumroh, tapi juga berhaji. Pengalaman yang rasanya tidak akan pernah dapat dilukiskan, dituangkan, diceritakan dengan lengkap karena memang akan menjadi cerita yang sangat panjang untuk ditulis,. Mungkin pelan pelan saya akan menuliskan bagian bagian yang setiap detiknya itu akan selalu teringat dalam sepanjang kehidupan saya, karena sampai sekarangpun saya masih belajar memaknai, mengerti, mensyukuri, menikmati ataupun menerapkan apa yang saya dapat ataupun apa yang tersirat dari setiap detik perjalanan spritual yang indah itu dalam kehidupan saya sehari hari.

Tapi satu hal yang menarik untuk diingat adalah setelah melalui perjalanan panjang itu saya mendapat kesempatan untuk melepas lelah, penat, juga melakukan perenungan lebih dalam soal perjalanan itu di sebuah tempat yang sangat indah.

Hari itu kami dan rombongan tidak menyangka akan dibawa ke tempat seperti apa, atau tepatnya pasrah saja akan dibawa kemana, karena mengingat perjalanan panjang yang dimulai dari sebuah apartemen yang sederhana tapi konon ratenya lebih dari hotel bintang lima di daerah Aziziah, karena pada musim haji daerah ini bagaikan lokasi emas bagi para jamaah. Dari situ perjalanan di lanjutkan denga bermalam di Mina, kawasan yang memang menjadi sentral kegiatan berhaji, disinilah kami bergabung dengan jutaan umat muslim dari seluruh penjuru dunia, tinggal di salah satu tenda besar diatas padang pasir yang dikelilingi oleh gunung bebatuan, dimana keberadaan Air Conditioner di sana terasa menjadi tidak penting lagi, plus antrian kamar mandi yang rasanya lebih dari antri sembako ditanah air tapi tetap meninggalkan sejuta kenangan indah. Melempar jumrah, wukuf di Arafah, bermalam di Muzdalifah, satu persatu kegiatan kami lalui, kemudian berangkat ke salah satu hotel di Madinah yang dekat dengan Masjid Nabawi, masjid yang akan selalu meninggalkan kerinduan di hati setiap jamaah yang pernah datang dan shalat atau bahkan melantunkan doa dengan khusuk dimakam Baginda Rasulullah SAW. Lanjut ke sebuah hotel di Mekkah dimana setiap detiknya terasa mengaduk aduk perasaan kami karena menyaksikan langsung jutaaan jamaah yang sepertinya tiada henti melakukan thawaf mengelilingi Ka’bah dan bukan hanya karena kemegahan dan aura dari Masjidil Haram, tapi kesempatan untuk melakukan Shalat Fardhu disetiap sudut atau lantai masjid, Shalat Jenazah, Multazam, Hajar Aswad, Rukun Yamani, Hijr Ismail, suara Muadzin, lantunan ayat ayat suci dari Imam besar disana, rasanya sudah menguras habis seluruh energi lahir dan bathin yang berbalut kepasrahan, keringat dan airmata, tapi terbayar dengan semua rasa syukur bahwa satu persatu rukun haji sudah terlaksana dengan baik. Ya karena tentu itulah tujuan utama kami para jamaah yang berangkat kesana. Continue reading →