live, laugh, love @SepotongKue #pasarsanta

choux @abcd_coffee

Satu hari Intan @badutromantis mengirimkan pesan via whatsapp,
“Mbak, Jual sus kamu dong diwarung aku..”
“Dimana?”
“Pasar santa, tapi bukanya dua kali seminggu ☺”
“Lha…kok bisa?”
“Aku telepon yaaa..”

PicsArt_1404664295339

Jadilah kami bertelepon dan saya dapat keterangan kenapa di Pasar Santa hanya buka dua kali seminggu waktu itu. Sayapun untuk pertama kalinya melihat @substore_ kios yang menjual vinyl, kaos dan jeans unik yang ada di santa milik Intan dan Aria yang saat itu masih pacaran belum menjadi suami-istri :)

Singkat cerita sampailah sus buah krim diplomat saya ke @abcd_coffee sebuah sekolah kopi yang dimotori Barista luar biasa handal dan mendunia, Mas Ve dan Mas Hendrik. Setiap saya bawa kesana, selalu habis. Memang saya engga bawa banyak, karena semuanya harus dibuat fresh dan kadangkala saya buatnya sekalian dengan pesanan teman yang sudah order duluan.

Sesekali saya membawa ice cream yang saya buat dirumah sebagai test food, sekaligus mencari tau respon dari siapa saja yang hadir disana.

Disinilah saya berkenalan lebih jauh dengan Pasar Santa, yang dulunya hanya saya tahu satu kalimat : Sate Padang Ajo Ramon.

Hanya dua toko yang sudah buka saat itu dilantai atas Pasar Santa, @Substore_ dan Sekolah Kopi A Bunch Of Caffeine Dealer atau @abcd_coffee ini. Diujung sana ada @Laid Back Blues Record Store yang juga sudah siap memulai perjalanannya. Sesekali saya melihat Bang Levi yang sibuk me-roasting kopi di sudut salah satu kios di pasar ini Orkide Coffe

Sisanya hanya lorong kosong gelap dan kumuh, yang sekitar tujuh tahun mati hampir tak berpenghuni, rasanya ngeri untuk dijelajahi di malam hari. Sampai sayapun harus menahan pipis setiap kesana, karena belum berani masuk ke dalam toiletnya yang ternyata tidak seburuk yang saya bayangkan sebelumnya.

Saat ramadhan saya dan keponakan saya Puput yang masuk di 8 besar Junior MasterChef season 1 ikutan charity, menjual kue disana, dimana semua hasil penjualan kami donasikan untuk anak anak pasar Santa yang kurang beruntung.

Puput

Dari setiap perbincangan dengan orang orang yang saya temui saya menemukan banyak hal , saya juga ketemu dengan @okaoke yang akhirnya membuka warung mie karet @miechino. Waktu itu dia baru pulang dari sekolahnya di Melbourne dan sempet nyicip kue sus andalan. Dia pun mengajak saya seperti yang Intan ajak sebelumnya, Yuk, kita buka disini.

Hm… kenapa engga, harga sewa masih terjangkau, tempat masih banyak yang kosong… tanpa buang waktu saya cari Pak Bambang sang kepala pasar, dan… jadilah saya merenda impian lama, untuk punya warung kecil yang dulu saya tak pernah bayangkan ada dimana letaknya.

Pasar? Warung? Ih, kok mau… di lantai atas sana masih kotor dan gelap gulita. Nyamuknya banyak, dan hffft…. Komentar miring saya dengar dari beberapa kerabat yang pernah saya ajak diskusi. Mungkin mereka belum merasakan aura positif dari teman teman yang datang ke sana, orang orang yang terpanggil untuk melakukan sesuatu untuk pasar ini, orang orang yang membutuhkan ruang untuk kreatifitas mereka, para start up yang masih harus mempertimbangkan banyak hal jika memulai usaha mereka di tempat yang sewanya belasan digit.

Barang barang property bazaar kemarin yang berserakan dirumah mulai saya kumpulkan untuk dibawa ke pasar santa. Gambar design warung mulai dicorat coret, dan Mbak Tini dan Mas Adnan sahabat saya pun ikut repot mempersiapkan warung sambil mereka ikut buka disebelah saya, ADDA, tempat kaos kaos band keren keren dan hasil jahitan tangan Mbak Tini berupa tas tas lucu dan untuk disiapkan untuk dipamerkan disana.

Rencana buka warung setelah lebaran pun harus bergeser karena persoalan tukang yang mudik dan tukang yang sulit dicari. Saat memulai pun harus bermasalah dengan tukang yang memang saya engga kenal, sembarang ambil karena pengen cepat selesai.

kios ku

Beberapa sahabat sudah tau rencana saya soal warung ini akhirnya memberikan deadline, jumat 19 November tiba tiba Mbak @UniLubis bilang kepingin ngumpul dipasar bareng teman teman lain.

“Ni, kamu bikin nasi sama urap aja, nanti kita bawain lauk pauknya… pot luck-an deh” Begitu kata Mbak Uni.

Ya engga tega rasanya kalau cuma buat urap, tumpeng dan kerupuk, jadilah saya buat sambel goreng ati juga.

Sore itu mulailah teman teman berdatangan, Mbak Uni dengan masakan udang andalannya, Eny Firsa dengan tumis jambal pedas andalan, Mbak Djuni Soehardjo dengan tahu pedas yang luar biasa banyak dan pedas, Mbak Ventura Elisawati dengan pepes dan kerupuk, Minus Mbak Febry Meuthia yang ngga bisa datang hari itu, tapi ada Nadya Kamka dengan kue lapis Surabaya coklatnya dan Rara dan Mbak Ochand adik Mbak Uni juga! .. dan voila…. Warung yang belum sempurna itu tetiba menjadi full dan penuh makanan!

Sahabat sejak SMP Winie dan Dewi pun hadir sejak sore sambil tak bosan berkeliling pasar mencari tau apa yang baru. Mas Nukman, Mbak Ira, Mamah Wiwiek pun sempat mampir walaupun hanya sebentar.

tumpengan

Tumpeng keroyokan pun dipotong, sedikit kata pengantar dari Mbak Uni seolah membuat semua jerih payahku resmi dimulai. Bukan Soft Opening, apalagi Grand Opening, tapi ketulusan dari para sahabat yang tidak henti hentinya memberi dukungan.

Sesungguhnya saya terharu biru melihat kehadiran teman teman yang jauh lebih bersemangat melihat warung impian ini dimulai, merasakan supportnya yang rasanya sepadan dengan rasa capek mencari properti warung, membuat menu, test food tiada henti, ah entah bagaimana cara saya berterimakasih atas semua kebahagiaan ini.. biarlah Allah SWT yang membalas semua kebaikan sahabat semua.

:)

Sejak hari itu, mulai resmilah saya jadi #anakpasar yang membuka gembok rolling door kios di upper floor #119, menyapu dan mengepel kiosnya, menyiapkan dagangan, hingga merapikan semua sampah, mencuci semua alat yang digunakan, menyapu dan mengepel lagi dan menutup rolling door dan menggemboknya lagi. Sayapun mulai akrab dengan siapa saja yang ada dipasar setiap harinya, mulai dari abang parkir, pengurus pasar, cleaning service hingga penjaga toilet.

from Mbak Uni

Sejuta cerita penuh warna saya temui dari hari kehari, bertemu teman teman baik, sahabat baru, menjadi rangkaian hari yang selalu indah untuk dijalani walaupun lelah terasa setiap malamnya. Tentu saja dengan perubahan drastis yang terjadi di Pasar Santa dari hari ke hari, semakin banyak hal yang saya dapat, bukan soal materi tapi pengalaman hati yang pasti nanti akan saya bagi :)

Sunday Food Market-nya @SepotongKue

foto taken by Mbak @unilubis

Laki laki berpakaian casual dan istri bule-nya mendekat ke booth kami yang berukuran 2,5 x 2,5 m2 di selasar antara jajaran café dan resto cilandak town square.

Sang suami berkata : ‘Bisa pake debit card engga?” . Saya cuma tersenyum dan bilang : “ Bapak mau borong ya, hehe belum bisa Pak, ini kan Bazaar ☺”

#SundayFoodMarket adalah event bazaar yang di organisir oleh ThinkTank yang digelar setiap hari minggu di bulan Juni lalu.

Saya, tukang kue amatir yang sesekali terima order dari teman- teman dapat infonya dari @tenit di twitter seputar pop up bazaar ini. Sebelumnya saya pernah datang di event sejenis di Kemang Village, dan terkesima, senang rasanya melihat booth booth yang unik, kreatif, jenis makanan yang disajikan, dan para pesertanya yang kebanyakan anak muda yang engga malu-malu menjajakan dagangannya.

Sebagai pecinta kuliner rasanya terpanggil buat ikutan hal serupa walaupun saya belum punya persiapan apa apa. Nah, baca info dari Teh Nita Sellya tadi, rasanya terbayang-bayang bagaimana si @sepotongkue ini bisa eksis atau hadir di event itu atau lebih tepatnya memberanikan diri buat memperkenalkan produknya ke pasar yang sesungguhnya.

Tanpa buang waktu saya telepon penyelenggara menanyakan persyaratan dan lain lain. Lantas mendapatkan kabar bahwa space masih tersedia, budget ya masuk sih, karena target saya bukan omset tapi menantang keberanian diri buat jualan sesungguhnya. Saya pun daftar.

Kemudian baru terfikir seperti apa penampakan boothnya, property yang saya punya apa, material promonya apa.. dimana saya engga punya persiapan apapun. Apalagi penyelenggara minta di kirimkan foto draft layout dari penampakan booth karena pihak citos engga mau ada peserta yang cuma pasang meja dan taplak. Semakin unik, semakin baik.

Duh pusing engga sih…. Ya harus dicicil, sesegera mungkin. Sayapun bongkar bongkar gudang untuk melihat property apa yang saya punya. Kebanyakan sih hanya barang barang display kecil yang saya punya plus lampu. Hunting pun dilakukan, meja, papan tulis menu, barang perintilan yang unik, bikin taplak di tukang jahit dipasar, langsung saya kebut. Ruang tamu dirumah saya sulap sebagai booth sementara, dan fotolah pake kamera handphone, lantas kirim.
Done!. Untungnya hasilnya gag jelek jelek amat sih ☺

Problem selanjutnya, Standing Banner, Kartu Nama , Food Tag… Nah beruntung saya punya keponakan cantik yang masih belajar design design yang bisa saya karyakan. @afliansa.. ☺ baru masuk UI dan punya banyak waktu buat bantu.

Icha panggilan sayang keponakanku, masih amatir, sayapun demikian, jadilah kita berdua mendesign keperluan promo disana sebisa bisanya. Untungnya untuk logo saya sudah siapkan jauh jauh hari saat pertama kali jatuh cinta dengan kata : Sepotong Kue.

Persiapan produksi, apa aja yang mau dijual, berapa banyak stok semuanya belum terbayang. Semuanya saya kerjakan berdasarkan ilmu kira kira. Belum lagi proses loading in yang harus dilakukan pagi buat, loading out–nya tengah malam.

Ketar ketir, puyeng, yaaah Bismillah aja… kalaupun ada yang kurang kurang, selalu ada yang saat yang pertama untuk memulai sesuatu.

Bukan cuma persiapan eventnya. yang bikin saya deg-degan salah satunya apa ya kira kira pendapat orang-orang soal produk saya nanti… kalau dikomplain langsung, apa saya siap?. Ya Harus!

Tanggal 1 Juni datang, semangat 45 saya melakukan loading barang, dibantu keponakan tercinta, suami, saudara dan #siganteng anakku tercinta. Mereka jadi penyemangat saya di saat saat kayak begini ☺

Booth sudah set, jreng jreng…… Pagi, masih sepi, ya iyalah siapa yang mau dateng ke mall pagi pagi kecuali yang mau nge-gym. Siang.. sudah mulai bermunculan, semangat 45 kami memperkenalkan produk walaupun engga seagresif SPG kartu kredit. Tanggapannya berbagai macam, cuma lewat, mampir sebentar untuk tanya – tanya, beneran beli, ataupun cuma PHP. Semua saya hadapi dengan lapang dada hehehe. Kehadiran teman teman penyemangat seperti Mbak @unilubis @VenturaE @blanthik_ayu @pasarsapi dan teman teman yang pernah mengorder kue soes dan ice cream andalanku jadi hal yang berhargaaaa banget.

Terkadang geli melihat anak kecil yang melet-melet melihat gambar ice cream sementara ibunya engga mau mampir. atau sedih saat orang hanya melintas tanpa terlihat tertarik sedikitpun melirik ke booth kami padahal senyum lebar sudah disiapkan walaupun jaraknya masih puluhan meter dari area booth.

Sebulan penuh setiap hari minggu saya mencoba peruntungan saya dalam artian memperkenalkan produk ke orang orang yang murni saya belum kenal. Berbagai masukan positif dan negatif menjadikan saya tambah semangat untuk lebih serius lagi. Capek badan karena kami harus loading pagi dan unloading tengah malam tidak saya rasakan sebagai gantinya adalah warna warni pengalaman yang kadang rasanya pahit tapi saya jadikan bekal untuk lebih fokus membuat segalanya lebih baik.

Kembali ke cerita awal, selang satu jam kemudian, Lelaki yang menanyakan perihal kartu debit tadi kembali ke booth saya, dia bilang : “Gara-gara kamu nih, saya jadi harus ke ATM” tapi kemudian dia memesan kue dan es krim saya, sambil bilang.. ini enak.

Satu hal yang saya catat untuk diri sendiri, jangan pernah takut atau malas untuk melangkah atau membuat sesuatu yang baru. Jangan pernah takut untuk di kritik, jangan pernah ragu untuk melakukan hal yang kamu suka atau kamu idamkan sejak lama. Karena kalau kamu engga pernah memulai, ya engga akan pernah ada hasilnya, dan jangan pernah takut untuk gagal!

IMG-20140622-WA0066

IMG-20140601-WA0000

IMG-20140601-WA0002

IMG-20140601-WA0005

Antara Anyer, Joe Taslim, Juke, Tongsis dan…. Jakarta

anyer

Anyer? Pernah dong kesana…..:)

Joe Taslim

Joe Taslim? Hah? Atlit Judo? Pemain Film? Model? Fast and Furious 6? Ya.. bisa jadiii! Eh iya bener yang ini!

Juke? Nissan Juke mobil dengan jenis crossover yakni perpaduan antara SUV dengan Sedan, mobil SUV yang pertama kali diproduksi oleh pabrikan Nissan.

Tongsis? Tongkat Narsis?? Benda yang awalnya bernama Quik Pod ditemukan oleh Fromm Work, perusahaan yang dimiliki oleh pasangan ayah dan anak bernama Wayne Fromm dan Sage fromm, yang pernah diundang ke acara Oprah Winfrey.

Jakarta? Ibukota tercinta yang selalu menjadi titik poin awal keberangkatan sebuah perjalanan dan tentunya.. Ke Jakarta Aku.. kan Kembaliiii…

Kalau bukan karena PolimoliDotCom dan Nissan Motor Indonesia, maka ke lima kata ini tidak akan menjadi sebuah cerita.

Yak sip…

Rasanya kepingin buat selametan atau mungkin berlebihan ya.. waktu pertama kali dikabari kalau aku termasuk dari blogger yang diajak jalan jalan liburan ke Anyer #JoeandJuke minggu lalu, bareng dengan @pasarsapi @blanthik _ayu @pashatama @chikastuff dan @NitaSellya buat liburan ke Anyer, sama JOE TASLIM, dan tentunya mengendarai Nissan Juke.

6 blogger

Sejak dulu aku jatuh cinta dengan jenis kendaraan SUV, tapi sampai sekarang saya masih menggunakan city car dengan pertimbangan aktifitas yang memang lebih banyak menjelajah dalam kota. Punya kesempatan nyobain Nissan Juke udah pasti bikin girang bukan kepalang dong.

Berbagai persiapan buat mengawali hari yang bakal bikin sirik banyak teman teman wanitaku pun sudah siap, dari mulai power bank, sun block, sampe tolak angin cair yang sekiranya badan engga mau diajak kompromi padahal masih mau narsisan setengah mati dipinggir pantai karena ada Joe Taslim disitu..:))

Keseluruhan perjalanan ini terangkum dalam dokumentasi baik dari yang aku ambil sendiri, teman blogger lain, ataupun lewat tongsis dan kamera juragan @OnlyAcel yang canggih luar dalam dunia akhirat karena mau ambil gambar dimanapun…. Jadi!

Mas David presentasi soal Nissan Juke

Setelah mendapat pembekalan dari Mas David yang pagi itu sudah pake jas supaya engga kalah ganteng sama Joe Taslim supaya kita terbiasa dengan kecanggihan yang ada didalam Juke ini, berangkat kitaaaa..

Starting Point

Saya berada dalam satu kendaraan dengan @chikastuff yang ternyata walaupun perbedaan usia kita cukup lumayan ya Dik, urusan perlagu-an selera kita sama ☺

gambar ini diambil dari www.nissan.co.id

gambar ini diambil dari www.nissan.co.id

Begitu masuk ke dalam mobil, aku #barutau Interior Juke keliatan modern stylish, persis sama dengan kita berdua loh..:)

Coba deh dibandingkan dulu..^_^

Me & Chika

Buat wanita yang agak rempong kayak kita, Juke ternyata punya Clever Storage! Tempat kita meletakkan sesuatu yang engga pingin dilihat orang lain loh!

foto ini diambil dari www.nissan.co.id

foto ini diambil dari www.nissan.co.id

Smart Key – Intelligent Key, Push Botton Start Engine adalah wujud teknologi terkini yang digunakan Juke dan bikin aku berasa ada di mobil yang siap balapan, walaupun sempat terjadi sedikit ke-gaptekan karena engga terbiasa men-starter mobil dengan teknologi ini, tapi itu biarlah jadi cerita aku dan @chikastuff yang tau.. :)))

foto ini dari www.nissan.co.id

foto ini dari www.nissan.co.id


E..sama loh, kita juga harus smart atau pintar-pintar cari posisi foto bareng Joe Taslim ya, usahakan jangan terlalu jauh sama target, sebelum siapapun yang mengambil gambar ‘push botton’ kameranya…contohnya kayak disini nih…

foto ini dari polimoli.com

foto ini dari polimoli.com

Begitu duduk dibelakang kemudi, bucket seat-nya menopang tubuh saya yang terbilang engga tinggi tinggi amat, jadi terasa nyaman dan terlindungi apalagi untuk rute keluar kota yang ditempuh kemarin itu.

Sama dengan permainan jaga lilin kemarin yang dimainkan di pinggir pantai, yang entah kenapa sih kita harus melindungi nyala api lilin yang dipegang salah satu teman satu team kita. Coba seandainya yang dilindungi itu Joe Taslim..duh makin mepet aja itu lingkaran yang kita buat…

jaga lilin

Juke memberikan kita pilihan berkendara, yang semuanya tinggal diatur salam satu display monitor dengan teknologi I-CON (Integrated Control System), sebuah fitur dengan display monitor yang terintegrasi dengan tombol driving mode dan climate control.

foto ini dari www.nissan.co.id

foto ini dari www.nissan.co.id

Selama perjalanan tol dalam kota hingga arah tangerang, dari tiga opsi mode berkendara saya mencoba “ECO” karena kondisi jalan lumayan padat. Setelah gerbang tol Cikupa baru lah menjajal opsi “SPORT” dan terasa perbedaannya saat mencoba bermanuver dijalan yang lumayan sepi. Dan urusan pengereman di opsi Sport ini kerasa banget cengkramannya.

Barulah saat menuju Jakarta, sebelum kembali memasuki ruas tol aku mencoba opsi “Normal” karena harus berjuang melintas jalan raya anyer yang tidak terlalu lebar dan banyak lubang di kanan kiri, belum lagi berpacu dengan iring – iringan motor anak anak SMP yang merayakan kelulusan dengan nekat berkonvoi tanpa helm.

Aku dan @chikastuff bergantian menjajal Juke, bergantian mengambil gambar selfie, bergantian menggunakan GPS (gunakan penduduk sekitar) karena sempat kurang yakin dengan real GPS saat sedikit berputar-putar didalam komplek Krakatau Steel, atau juga bergantian mengupdate kabar ke grup whatsap dadakan soal kendala dan posisi terakhir, dimana grup wa dadakan ini diberi mana #JoeandJuke dan punya icon gambar Joe Taslim yang lagi senyum bikin kita meleleh dan pingin nekan pedal gas makin dalem supaya cepat sampe Anyer.

Yang pasti engga ada yang mau gantian ada diposisi paling belakang saat om @OnlyAcel beraksi dengan tongsisnya di setiap kegiatan termasuk didalam kolam renang! Gag peduli muka kita udah kayak ikan mas koki karena antara pingin keliatan senyum didepan kamera dan menahan nafas didalam air, pokoknya paling depan!

IMG-20140614-WA0048

System Xtronic CVT Continuously Variable Transmission yang dimiliki Juke bikin aku engga merasakan perpindahan transmisi yang biasanya terasa di mobil matic jika menekan pedal gas sedikit dihentak akan terasa efek “ndut-ndut’-an pada tarikan kendaraan.

Tapi kalo foto deketan sama Joe Taslim begini sik… tetep terasa ndut ndutan di hati…. Halaaaah…..

me & Joe Taslim

Sampai dilokasi tempat kita menginap, keceriaan pun dimulai, bermain games di pinggir pantai, kambing guling dimalam hari, terus dapat sessi curcol sendiri sendiri sama JOE TASLIM!!… kebayang gag sih… ngobrol berduaan sama Joe Taslim, habis makan kambing pulak!… ya jangan dibayangin apa apa sih.. soalnya nanti tambah iri ngebayanginnya hihihi…. Tapi jangan kuatir karena segala sesuatunya aman, persis kayak system Safety Shield yang ada di Nissan Juke, yang memberikan pengendaranya perlindungan berlapis lapis.

Disini, Joe Taslim bilang kalau kadang kadang dia kangen untuk bisa jalan jalan sandal jepitan ke warung, dan dia bukan a kind of morning person, karena malam hari dia bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk menonton ratusan film laga koleksinya.

Semakin malam curhat semakin dalam (soalnya aku kebagian yang hampir paling akhir sih!), Joe pingin banget ajak Ibunda tercintanya keliling dunia, dan menghabiskan masa tuanya di Bali atau pulau lain, sambil menemani anak cucunya tumbuh dewasa…. Joe itu termasuk lelaki yang romantis juga ternyata… soalnya waktu ditanya soal hadiah terindah yang pernah dia terima, dia menjawab kalo itu adalah anak pertama yang diberikan istrinya…:)

Aku juga penasaran bingit sama perasaannya dia saat satu scene dengan alm Paul Walker, Vin Diesel di Fast Furious 6, apa dia ngerasa deg degan atau grogi (persis kayak aku waktu berduaan sama dia nih ☺ ), dia bilang dia memang ngerasa grogi, tapi justru itu bikin dia makin focus dan jangan sampe bikin kesalahan. Dia engga pernah sok asik sama para aktor Hollywood itu, tapi melakukan segalanya dengan professional. Itulah yang membuat para aktor laga Hollywood ini juga respect ke seorang Joe Taslim.

Muka kenyang, ngantuk dan puas,.. maksudnya puas ngobrol sama Joe pun tergambar di foto yang ini….

kenyang

Malamnya kita bobok dengan tenang dan hati berbunga-bunga, eh ngga lebay juga gitu sik.. karena pingin siap di pagi hari ber-watersport-ria di pantai, atau sekedar menikmati kolam renang yang menantang banget untuk dicoba, tentunya lengkap dengan aksi narsis bertongsis punya Om Acel.

Nah beginilah penampakan teman teman seperjalanan saat kekeuh jumekeuh mau selfie-an diatas banana boat.

banana boat

tongsis

Akhirnya matahari semakin tinggi… dan sebelum rombongan khilaf untuk menambah semalam lagi, kamipun beranjak pulang ke Jakarta.

Sebelum Pulang, tongsis pun beraksi dalam kondisi lapar membahana dan menyantap makanan yang rasanya paling enak sedunia karena kita udah lapar bangeeeet!

IMG-20140614-WA0049

Nah, kembali ke mobil yang bakal mengantar kita pulang ke Jakarta nih…

Engga heran kalau seorang Joe Taslim memilih kendaraan ini sejak 2011, bahkan sebelum dia belum dikenal sebagai aktor film laga, dia memilih karena kelincahan Juke bermanuver dan juga kedinamisan dari design Nissan Juke ini. Dan bukan keputusan yang sulit bagi Joe untuk menerima pinangan sebagai Brand Ambassador Juke di tahun 2013.

Juke

Rasanya engga berlebihan juga kalau aku mempertimbangan mobil ini untuk jadi teman baikku sehari-hari nanti..

IMG-20140614-WA0051

Keseruan soal perjalanan liburan #JoeandJuke ini yang bisa di intip di timelinenya @nissanID atau berbagai acara seru seru lainnya juga bisa kamu dapetin kalo follow @POLIMOLIdotcom di twitter.

Dua hari yang penuh keceriaan, histeria, persahabatan, dan indah ini harus diakhiri. Again, Terimakasih PolimoliDotCom, terimakasih Nissan Motor Indonesia

But anyway.. kemanapun tujuanmu dan dengan kendaraan jenis apapun yang kamu gunakan, selalu ingat apa yang tertulis digambar ini ;)

Drive safely, everyone!

warning

jalan jalan ke Bandung…*lagi* :)

Selfie Uti

Ketemu temen baru itu bisa dimana aja, ketemu, ketawa ketiwi, jalan-jalan, dan selfie…itu kata temen baruku @utiwitu. Jangan salah, dia bukan Marshanda, iya sih… tapi versi KW :))

Kemarin sempat jalan jalan bareng @Sunco_ID, seperti biasa sih kalau jalan jalan bareng Sunco bukan cuma jalan, tapi wiskul dan dapet ilmu..

Karena acaranya adalah final battle dari kreasi bento yang digelar di Trans Studio Bandung jadilah sempurna acaranya.

Finalis Bento Sunco

Selama para finalis itu bertanding, jadilah saya memandu Chef @BillyKalangi yang kasih kita ilmu gimana membuat kreasi bento yang simple dan unik!

Billy Kalangi Bento Demo

Bukan @Sunco_ID kalo engga manjain lidah kita dengan kuliner terbaik di kota Bandung, Iga Bakar si Jangkung dan Alas Daun jadi tempat pelampiasan kita saat perut lapar…!

IgaBakar SiJangkung

Alas Daun

Dua tempat ini kudu dikunjungi kalo kamu mampir ke Bandung. Dan kalo kamu pengen ikutan jalan jalan lagi.. ya follow aja twitter @Sunco_ID pasti ada info info ciamik seputar kuliner, menu, dan rencana seru seruan selanjutnya…

Catatan Kecil di Gerakan Unjuk Rasa Mahasiswa 1998

Kirana, Keponakanku..

Umurmu belumlah setahun saat aku menuliskan sedikit catatan ini.

Disini aku berfoto bareng dengan seseorang, dulu dia idola Ibumu. Ibumu dulu tahun 1998 tidak mau aku jemput pulang dari kampus UI Salemba. Karena dia kekeuh mau turun kejalan untuk ikut aksi unjuk rasa mahasiswa yang mungkin yang terbesar yang pernah terjadi di era orde baru. Dia hanya minta dibawakan baju dan celana jeans untuk baju gantinya.

Sehari setelah itu, aku menerima telpon dari RS Jakarta yang mengabarkan kondisi ibumu yang katanya tertembak dibagian kepala. Panik, kaget dan tak karuan rasanya, segera aku, Pakdhe Iqbal dan Ayah Ario mencari ibumu diantara ratusan mahasiswa dan mahasiswi dan bergeletakan dari mulai lobby hingga seluruh pojok kamar pasien yang ada di RS Jakarta. Aku akhirnya menemukan Ibumu terbaring diatas ranjang salah satu kamar di sana, masih menggunakan kaos milikku yang dia pinjam saat dia menolak kujemput pulang sehari sebelumnya, yang berhias noda lumuran darah dari pelipisnya plus bonus memar cap sepatu tentara dipunggungnya.

Ibumu sendiri tidak ingat apa yang terjadi sesungguhnya, dia cerita kepadaku, yang dia ingat hanyalah dia bergabung berunjuk rasa bersama tim medis dari UI, tiba tiba suasana tak terkendali, dia hanya ingat menarik jaket dari orang yang posisinya terdekat dia saat itu tapi hanya jaketnya saja, orangnya entah kemana. Ibumu melihat oknum yang mengarahkan senjatanya jarak dekat ke kepalanya, syukurlah peluru hanya mampir melintas disisi kepalanya tapi setelah itu dia tidak ingat apa apalagi.

Sejak siang Ibumu tergeletak di RS tanpa bisa mendapatkan obat sakit kepala atau penawar rasa sakit yang dia minta dari rumah sakit. Mungkin karena situasi begitu tak karuan saat itu dan banyaknya pasien yang ada disana hingga untuk sebutir obat sakit kepalapun belum dia dapatkan. Kalau saja dini hari saat itu Pak Mar’ie Muhammad tidak datang bercelana pendek dan melihat keadaan semua mahasiswa mahasiswi disana yang terluka, mungkin ibumu tidak bisa diobati maksimal.

Jelang subuh ibumu di evakuasi ke RSCM, masih dengan kaos yang sama, aku duduk diambulans menemani ibumu, melintasi jalan Jenderal Sudirman yang masih diselimuti asap tebal dari ban ban mobil yang dibakar dan sampah sisa unjuk rasa. Sepi,.. Ngeri… Gelap,… Mencekam…

Alhamdulillah Ibumu masih bisa kami temukan diantara ratusan yang terluka disana, dan akhirnya bisa mendapatkan pengobatan yang terbaik di RSCM.

Ibumu juga dulu pernah menjenguk orang ini di LP Cipinang, karena dia dulu adalah aktivis penentang orde baru yang paling juara. Foto ini diambil saat dia menerbitkan buku yang berjudul Anak-Anak Revolusi

Budiman Soedjatmiko

Namanya Budiman Soedjatmiko, dia bilang dia masih akan terus mengingat sejuta duka dan perjuangan semua aktivis jaman itu.

Semoga ya Kirana, semoga pitak dikepala ibumu itu tidak sia sia…

Terjebak Nostalgia

Hujan sempat turun cukup deras sore tadi, bahkan pelangi pun sempat hadir di langit senja tapi walaupun tidak utuh. Sekarang, sisa hujan berupa hawa dingin tapi bau tanah segar tersiram air menggoda saya untuk mematikan AC mobil dan membuka kaca, menikmati udara malam sisa hujan, melintas jalan sepi, menuju rumah lengkap dengan kabut ikut menciptakan nuansa yang teduh, temaram, dan cukup bikin galau.

Di radio terdengar suara indah Raisa menyanyikan lagu “Terjebak Nostalgia”. Coba bayangin kalau kamu yang ada di belakang kemudi seperti saya sekarang, pasti pikiranmu tergoda menerawang entah kemana, belum lagi suara serangga malam hari sayup sayup terdengar karena kaca jendela mobil yang terbuka tadi.

Kalau belum bisa ngebayangin juga karena engga tau lagunya, ih tapi terlalu deh kamu kalau engga tau lagu ini. Jangan jangan kamu itu angkatan 66 jaman Supersemar, atau angkatan 45? yang lebih akrab sama lagu-lagu perjuangan macam ‘Halo Halo Bandung’ atau ‘Kopral Jono?’ . Sebentar, jadi kepikir kenapa Ismail Marzuki sang pencipta lagu Halo Halo Bandung itu memberi judul karyanya pake kata ‘Halo’ ya?. … apa karena beliau dapat idenya habis teleponan dengan sahabatnya atau seandainya lagu itu diciptakan di sekitar tahun 90-an atau tahun 1995 gitu saat perusahaan telekomunikasi Telkomsel baru berdiri, pasti lagu ini bisa jadi akan diendors oleh Telkomsel, ah.. sudahlah, saya cuma mau nulis kalau kamu memang engga tau lagunya Raisa tadi nih saya kasih sepenggal, maksudnya sedikit kutipan liriknya :

Telah lama ku tahu engkau
Punya rasa untukku

Kini saat dia tak kembali
Kau nyatakan cintamu

Namun aku takkan pernah bisa

Ku 
Takkan pernah merasa
Rasakan cinta yang kau beri

Ku terjebak di ruang nostalgia
Semua yang ku rasa kini

Tak berubah sejak dia pergi

Maafkanlah ku hanya ingin sendiri
Ku di sini

Naah… dahsyat ya… intinya lagu ini pokoknya ya sesuai sama judulnya itu tadi: Terjebak Nostalgia… ya iya laaah….

Bicara soal nostalgia, jadi teringat sama satu kawan saya, baiknya engga usah disebut namanya, karena kalau disebut namanya sebagai ‘Bunga’, nanti mirip mirip sama kasus yang biasanya berhungan dengan kekerasan seksual dan ada hubungannya sama benda tumpul. Halah, sudahlah.. pokoknya ada kawan saya yang sempat curhat kalau beberapa hari terakhir ini dia sedang dalam kondisi Terjebak Nostalgia.

Ya.. jalan ceritanya sih engga mirip banget dengan syair lagunya Raisa, tapi dia itu sedang galau karena tetiba dia ketemu lagi sama kawan lamanya lebih tepatnya seseorang yang dia taksir jaman dulu, tapi orangnya engga pernah tahu. Maklum, waktu itu dia masih SMA, ya SMA jaman dulu memang beda dengan SMU jaman sekarang. Dari A sama U – nya saja sudah beda kan… Maksudnya, jaman kawan saya SMA di tahun 90-an ini, kalau perempuan atau wanita naksir cowok, belum tentu punya nyali buat ngomong sama gebetannya itu. Jangankan ngomong, lewat depan orangnya aja udah mau pingsan duluan. Boro boro bisa caper atau cari perhatian, misalnya sok sok jatuhin sapu tangan gitu? Ih.. jadul amat sih modusnya.

Singkat cerita mereka ketemuan lagi ya gara gara facebook itu, jangan nyalahin facebooknya deh, menurutku sih facebook cukup berjasa punya andil untuk menjalin lagi tali silaturahmi antar teman sekolah atau kuliah sampai sampai yang namanya reuni itu jadi happening banget beberapa waktu lalu kan. Kalau banyak yang reuni, ya berarti omset resto yang dipilih untuk jadi tempat reuni jadi naik, ngumpulinnya cukup tulis di grup, bisa puas nulis komentar sampe pegel bacanya. Belum lagi kalau bulan puasa kan, acara buka puasa bersama atau bukber jadi penuh, dari teman SD, SMP, SMA, kuliah, komunitas, teman kantor lama, teman kantor baru, teman tongkrongan, duh pokoknya jadwal bukber penuh, kadang harus absen karena acaranya berbarengan.

Okelah, sampai dimana tadi? O iya.. kawan saya ini naksir sama kakak kelasnya, tapi dia engga berani ngomong kan.. kenapa? Ya ternyata dulu si cowok ini sudah punya pacar, ya kakak kelas juga. Bayangin, apa engga dibully kalo ngegebet kakak kelas yang udah punya pacar satu angkatan? Bisa bisa mau mesen bakso dikantin aja engga berani karena dipastikan akan ada banyak tatapan nanar para kakak kelas khususnya yang cewek juga, yang seolah olah mau melahap bulat bulat semacam adegan sinetron yang di zoom ke arah mata pemainnya saat marah, tatapan mata penuh kedengkian, amarah, diiringi efek suara symbal yang berulang-ulang sama halnya dengan zoom in zoom out yang dilakukan oleh cameraman, tatapan melotot dan bibir bergetar mirip orang yang sedang demam tinggi, amat sangat berlebihan dan hampir dipastikan adegan ini akan berulang di setiap sinetron yang sebaiknya sih mendingan tidur daripada nonton sinetron begituan.

Lalu, karena saking engga beraninya kawan saya ini bilang atau paling engga kasih sinyal ke cowok dambaan hatinya itu… dia memilih untuk menutup rapat rapat perasaannya sampai sekarang, eh kemarin itu deh.

Lantas dia cerita kalau si cowok dambaan hatinya jaman SMA itu tetiba menyapa dia di facebook sampai akhirnya mereka bisa chatting, jreng jreng… mulailah sang cowok melakukan manuver yang entah itu manuver basi atau beneran, dia bilang kalau dulu itu sebenernya si cowok ini pernah jatuh cinta sama si kawan ini. Lho kok bisa? Ya bisa aja… namanya juga lelaki normal kan, bukan itu maksudnya….. si cowok ini juga dulu ngakunya engga berani ngomong… karena dia pikir kawan saya ini cuek banget. Padahal mereka itu rumahnya hampir berdekatan dan intensitas ketemunya lumayan sering, ya namanya juga tetangga.

Mendengar pengakuan itu, sontak aja kawan saya termehek mehek dan engga tahu harus bilang apa dong, sampai akhirnya diapun mengakui kalau dia pernah punya perasaan yang sama. Nah lho…. Terus , lalu, kemudian, apa yang terjadiiiiii?? Sementara sekarang keadaannya keduanya sudah punya pasangan kan…. Akankah CLBK itu benar benar terjadiiiiii…

Tenang dulu, saudara saudara…

Ditengah kegalauan hatinya itu., dia curhat ke saya. Dan saya juga bingung mau bilang apa ya… Apalagi kawan saya ini beberapa bulan terakhir sering banget cerita soal hubungannya sama pasangannya lagi ada aja cekcoknya. Saya sih engga mau jadi kompor, kalau saya di posisi dia pasti akan bingung juga sih. Tapi karena saya bukan penasihat perkawinan, apalagi penasihat raja, eh.. profesi penasihat raja itu kan selalu ada di dongeng dongeng bukan?…. maksud saya, saya engga mau banyak bicara apa apa ke kawan saya ini. Satu hal yang saya bisa lakukan ke kawan saya itu adalah mengirimkan gambar yang saya ambil Path kawan saya, Mas Hasan. Kalau yang ini engga akan saya samarkan namanya menjadi nama binatang, kan kalau perempuan nama bunga, masa laki-laki nama binatang sih? Semut gitu? atau Landak? engga asik banget yah kalau ada surat kabar yang menyamarkan nama laki laki dalam pemberitaannya dalam sebuah kasus kriminal dengan nama binatang.
Jadi.. apa sih gambar yang ada di path-nya Hasan itu?

Ini dia…

So.. selamat malam kawan..☺

Satu Hari yang Sarat Makna

Selama lebih dari dua puluh hari melakukan aktifitas yang memerlukan fisik wajib dalam kondisi prima, emosi yang stabil yang tentunya sulit dilakukan dalam keadaan lelah dan bukan hanya lelah, tapi berada dalam situasi emosi yang naik turun karena menemukan hal hal yang belum pernah ditemukan, dilihat, dilakukan sebelumnya bukanlah hal yang mudah.

Ya pertama kali saya pergi ke Jazirah Arab adalah di tahun 2012, bukan hanya untuk berumroh, tapi juga berhaji. Pengalaman yang rasanya tidak akan pernah dapat dilukiskan, dituangkan, diceritakan dengan lengkap karena memang akan menjadi cerita yang sangat panjang untuk ditulis,. Mungkin pelan pelan saya akan menuliskan bagian bagian yang setiap detiknya itu akan selalu teringat dalam sepanjang kehidupan saya, karena sampai sekarangpun saya masih belajar memaknai, mengerti, mensyukuri, menikmati ataupun menerapkan apa yang saya dapat ataupun apa yang tersirat dari setiap detik perjalanan spritual yang indah itu dalam kehidupan saya sehari hari.

Tapi satu hal yang menarik untuk diingat adalah setelah melalui perjalanan panjang itu saya mendapat kesempatan untuk melepas lelah, penat, juga melakukan perenungan lebih dalam soal perjalanan itu di sebuah tempat yang sangat indah.

Hari itu kami dan rombongan tidak menyangka akan dibawa ke tempat seperti apa, atau tepatnya pasrah saja akan dibawa kemana, karena mengingat perjalanan panjang yang dimulai dari sebuah apartemen yang sederhana tapi konon ratenya lebih dari hotel bintang lima di daerah Aziziah, karena pada musim haji daerah ini bagaikan lokasi emas bagi para jamaah. Dari situ perjalanan di lanjutkan denga bermalam di Mina, kawasan yang memang menjadi sentral kegiatan berhaji, disinilah kami bergabung dengan jutaan umat muslim dari seluruh penjuru dunia, tinggal di salah satu tenda besar diatas padang pasir yang dikelilingi oleh gunung bebatuan, dimana keberadaan Air Conditioner di sana terasa menjadi tidak penting lagi, plus antrian kamar mandi yang rasanya lebih dari antri sembako ditanah air tapi tetap meninggalkan sejuta kenangan indah. Melempar jumrah, wukuf di Arafah, bermalam di Muzdalifah, satu persatu kegiatan kami lalui, kemudian berangkat ke salah satu hotel di Madinah yang dekat dengan Masjid Nabawi, masjid yang akan selalu meninggalkan kerinduan di hati setiap jamaah yang pernah datang dan shalat atau bahkan melantunkan doa dengan khusuk dimakam Baginda Rasulullah SAW. Lanjut ke sebuah hotel di Mekkah dimana setiap detiknya terasa mengaduk aduk perasaan kami karena menyaksikan langsung jutaaan jamaah yang sepertinya tiada henti melakukan thawaf mengelilingi Ka’bah dan bukan hanya karena kemegahan dan aura dari Masjidil Haram, tapi kesempatan untuk melakukan Shalat Fardhu disetiap sudut atau lantai masjid, Shalat Jenazah, Multazam, Hajar Aswad, Rukun Yamani, Hijr Ismail, suara Muadzin, lantunan ayat ayat suci dari Imam besar disana, rasanya sudah menguras habis seluruh energi lahir dan bathin yang berbalut kepasrahan, keringat dan airmata, tapi terbayar dengan semua rasa syukur bahwa satu persatu rukun haji sudah terlaksana dengan baik. Ya karena tentu itulah tujuan utama kami para jamaah yang berangkat kesana.

Sebenernya sih, setelah melakukan rangkaian perjalanan yang luar biasa itu dibawa kemanapun kami para jamaah pasti akan merasa tempat itu indah, karena yang terpenting buat kami dan saya tentunya adalah niat utama sudah tertunaikan dengan baik.

Jeddah adalah persinggahan terakhir kami sebelum kembali ke tanah air. Penyelenggara haji kami memilihkan sebuah tempat yang menurut mereka pantas untuk didatangi setelah melakukan perjalanan panjang yang indah itu.

Bus kami memasuki kota Jeddah, pemandangan yang sangat berbeda dengan kota Mekkah, jalanan yang besar, bangunan bangunan megah, mobil mobil mewah terparkir di pinggir jalan, kota yang modern, dan laut merah. Kami sempat terbengong-bengong melihat banyaknya mobil mobil mewah, motor besar wara wiri dijalan besar dan mulus, juga bangunan rumah yang pantas disebut istana mewarnai perjalanan kami di kota itu . Konon Guardian pernah mengutip dari Wikileaks bahwa ada beberapa kediaman Pangeran disana yang memiliki bar di bawah tanah, bahkan klub pribadi untuk para muda mudi jet set disana menghabiskan malam.
Bus kami berhenti disebuah hotel yang letaknya persis menghadap laut merah, bangunannya berbentuk bulat dan eksteriornya terlihat megah dan mewah. Tentu saja kami semangat 45 turun dan bus dan memasuki lobby, bahkan beberapa teman sempat berfoto didekat mobil mewah yang terparkir di lobby hotel. Bukan karena hasrat narsis yang membara saja, tapi hari itu memang terasa berbeda, beban yang ada dipundak terasa sudah terlepas, dan kami hanya ingin menikmati hari itu dengan segala keceriaan. Rosewood Corniche Hotel, itu nama hotelnya.

rosewood corniche

Di lobby kami disambut oleh staff yang sangat ramah dan professional, mereka menyapa dengan ramah juga langsung menawarkan welcome drink yang dingin dan terasa sangat nikmat karena perjalanan panjang yang sudah masuk hitungan dua puluh hari lebih itu, bahkan salah satu dari mereka ada yang berasal dari Indonesia tentu saja langsung diberondong dengan sejuta pertanyaan dari teman teman yang memang masih ternganga dengan kemegahan hotel ini yang terlihat jelas dari dalam. Sebelumnya pihak penyelenggara perjalanan kami memang sudah membocorkan bahwa hotel yang kami singgahi ini memang bintang lima tapi fasilitasnya masuk dalam kategori diamond.

Kami menghabiskan waktu beberapa saat disebuah lounge megah yang juga merangkap salah satu restaurant sambil menunggu daftar kamar dan kunci dibagikan. Akhirnya kunci sudah ditangan dan kamipun langsung sibuk menuju kamar masing masing.

Danah Room

Saya dan suami mendapat kamar yang tipenya setelah pulang saya baru tahu dari website hotel ini jenis kamar itu adalah : Danah Room. Begitu kamar terbuka saya langsung kegirangan bukan saja karena kamarnya yang begitu luas bernuansa arab kontemporer. King size bed dengan sentuhan kanopi diatasnya membuat saya serasa tidur di kamar Aladdin, dua flatscreen tv berukuran besar dengan berbagai pilihan channel, akhirnya kamipun bisa menonton channel HBO disini tanpa sensor hehehe. Kamar mandinya pun sangat luas, 2 washtafel, satu closet duduk, satu urinoir, bath tube berbentuk oval dengan tombol whirpool dilengkapi dengan garam mandi dan sabun madu untuk berendam, dan di sudutnya ruang shower bukan hanya shower tapi juga shower steam yang dilengkapi dengan fasilitas untuk mandi uap, tidak ketinggalan satu unit TV flatscreen membuat saya bisa menghabiskan waktu berjam jam dikamar mandi ini, ah rasanya begitu sempurna.

bathroom

Satu set sofa empuk bahkan terasa memanggil manggil saya untuk leyeh leyeh sejenak menikmati sajian buah dan beberapa majalah yang tersedia dimejanya. Satu set mesin pembuat kopi berstandar internasional dan beberapa jenis kopi pun siap menemani kami disana

Kamar saya memang tidak langsung menghadap ke laut merah, tapi saya masih kebagian sedikit pemandangan laut merah dari jendela kamar saya, karena hotel ini berbentuk bulat jadi saat saya keluar dari lift tadi saya bisa melihat kamar kamar lain mengelilingi seluruh lantai dan bagian tengah dari semua lantai di bangunan ini dibiarkan kosong sehingga sayapun bisa melihat langsung ke lobby dari bangunan ini dari lantai berapapun.

Waktu makan siang datang, kami langsung beranjak ke restaurant yang sudah siap menjamu lidah kami dengan menu andalan mereka, rasanya menu apapun yang disediakan, pasti akan segera kami lahap mengingat hari itu semua terasa nikmat. Selesai makan siang kamipun langsung menunaikan shalat dikamar masing masing sementara para pria menunaikan ibadah sholat jumat di masjid terdekat. Sayapun tergoda untuk menikmati kamar mandi yang megah dan lengkap itu sampai akhirnya terlambat untuk masuk bus lagi memulai tur sore itu. Selesai shalat Dzuhur saya dan beberapa teman wanita mencoba menjelajahi hotel dengan menaiki lantai teratas di hotel itu karena disana ada sport center dan kolam renang. Disana kami sempat berfoto dan menikmati suasana di tepi kolam renang tapi tidak bisa lama menikmati karena harus kembali mengikuti agenda selanjutnya.
Lucunya pada saat malam selepas tur keliling kota, kami kesana lagi kami dilarang memasuki tempat itu karena menurut penjaga disana tidak umum para wanita keluar kamar tanpa ditemani para suami, setelah kami balik lagi dengan para suami pun kami gagal memasuki roof top hotel itu karena menurut informasi ada salah satu Pangeran yang datang menginap menggelar acara dan sepertinya membooking area itu. Ya apa boleh buat, kamipun cukup puas siang tadi sempat bersantai sejenak di area itu.

rosewood rooftop

Sore hari kami berbincang dan bercanda dengan teman seperjalanan, sambil menikmati tur keliling kota menuju sebuah Chinese resto di kawasan Ballad atau resminya bernama Corniche Commercial Centre yang agendanya selain makan malam tentu berbelanja oleh oleh disana. Ballad memang surga untuk berbelanja di Jeddah. Toko Ali Murah yang terkenal itupun kami datangi, kurma, coklat dan oleh oleh khas Arab menjadi pilihan yang bisa dibeli disini, beberapa teman berbelanja parfum dikawasan ini yang memang terkenal lebih murah disana ataupun barang elektronik seperti jam tangan walaupun harus hati hati dengan keaslian barang barang disana bukan berarti kita tidak bisa mendapatkan barang yang asli dengan harga yang bersahabat.

Disini banyak pedagang yang bisa berbahasa Indonesia, bahkan pembayaranpun bisa dilakukan dengan rupiah kalau kita kehabisan riyal dengan nilai tukar yang baik. Soal kuliner, jangan lupa untuk mencoba Bakso Mang Oedin sebagai obat kangen makan bakso, ataupun mampir ke kedai kedai yang menjual nasi goreng, sop buntut dan pecel lele.

Makan malam kami di sebuah Chinese Resto di kawasan ini merupakan makan yang paling enak karena memang menunya sangat pas dilidah kami orang Indonesia selama berada di kawasan Jazirah Arab ini.
Mungkin tempat ini dipilih karena penyelenggara haji karena mereka tahu persis apa yang diinginkan oleh para jamaah setelah puluhan hari menikmati menu yang monoton. Restonya sederhana ada di sebuah ruko yang liftnya sudah tua dan hanya satu, mampu membawa hanya sekitar 8 orang saja. Bangunan rukonya sangat biasa saja, seperti memasuki kawasan Melawai Plaza yang hits banget di tahun 90-an. Karena tidak sabar beberapa dari kami memilih naik tangga saja. Awalnya kami merasa kecewa karena penampakan restonya tidak seindah yang kami kira, apalagi setelah pemandangan hotel megah yang baru kami temui siang tadi, tapi semua terbayar dengan rasa makanan yang amat sangat nikmat dilidah, pas dengan selera lidah Indonesia.

Ini adalah hari terakhir kami berada dikawasan Jazirah Arab sebelum bertolak kembali ketanah air. Rasa suka cita, syukur yang rasanya tiada henti ingin saya ucap mengingat betapa perjalanan ini tidak menemui kendala apapun. Bahkan dihari terakhir ini saya masih diberi nikmat kamar yang begitu sempurna, kenapa? Karena tidak semua teman bisa mendapat kamar yang sama. Bukan karena berapa besar biaya yang kita dikeluarkan saat mendaftar, bisa dipahami karena ada puluhan jamaah dalam rombongan kami tentunya belum tentu bisa mendapat kamar yang serupa. Bisa dibilang saya dan suami beruntung mendapat kamar yang kami tinggali.

Ada seorang teman yang sejak awal sampai di Jeddah dia berniat untuk berbelanja di sebuah mall mewah dikawasan Thalia Street. Tempat ini memang terkenal sebagai kawasan belanja tempat mencari barang barang bermerk disana. Konon para konglomerat, pangeran, dan keluarga raja Arab Saudi menghabiskan riyalnya disana. Brand brand Internasional seperti Louis Vuitton, Roberto Cavalli, Cartier, Channel hadir disana, harganya pun disebut-sebut sedikit lebih murah dibanding kita berbelanja di tanah air ataupun negara tetangga yang disebut surga belanja seperti Singapura. Tetapi karena hari itu adalah hari jumat yang merupakan hari libur disana, maka kawasan itupun tutup. Mengetahui hal itu sang kawan ini mulai komplain ke pihak penyelenggara, sambil terus bersikukuh ingin kesana. Sepertinya hal ini menjadi masalah besar untuk sang kawan ini sampai dia tidak bisa menikmati hari terakhir ini dengan indah karena disetiap tempat yang kami datangi hanya keluhan dan komplain saja yang terdengar dari dia. Dan rasa kesalnya pun semakin memuncak saat dia tahu bahwa kamar yang dia dapatkan tidak sama dengan yang saya atau kawan lain dapat. Ya itu tadi, karena ada puluhan jamaah tentu tidak semua bisa mendapat kamar yang sama persis fasilitasnya, walaupun jumlah yang kami bayarkan sama. Bisa dibayangkan bagaimana rasa kesal sang kawan ini mengetahui bahwa harga room nite kamar yang saya dapat ini jika dirupiahkan bernilai sekitar 5 juta rupiah permalamnya, itupun kalau di cek di situs Agoda yang ratenya terkenal lebih murah banding jika kita melakukan booking langsung ke hotel.

Saat itu saya berfikir kenapa sih dia harus komplain bertubi-tubi sampai membuat beberapa teman lain menjadi tidak nyaman, padahal tujuan utama keberangkatan kami adalah beribadah, perkara belanja dan wisata itu adalah bonus dan bukanlah menjadi prioritas. Tapi ya sudahlah, bukankah manusia kan punya pola berfikir yang berbeda. Mungkin dia berfikir tidak setiap saat bisa kesini dan kapan lagi bisa belanja disana. Suka atau tidak, baik atau buruk, dia adalah kawan seperjalanan haji yang buat saya layak dikategorikan sebagai keluarga.

Sejenak saya mengingat ingat, sejak awal saya berniat melakukan perjalanan indah dan penuh makna ini saya berusaha untuk tidak komplain dalam hal apapun. Kamar mandi yang atapnya bocor, antrian mandi yang disela berkali kali, bolak balik mencari kerabat yang akhirnya ketemu setelah susah payah, susah, senang, sakit, capek, lelah, lapar, haus, keringat, panas, dingin, kesal, semua saya coba terima dengan ikhlas walaupun memang tidak semudah yang dibayangkan, Ustadz pembimbing kami tidak bosan bosannya mengingatkan bahwa kunci dari semua perjalanan ini agar lancar hanya satu, Ikhlas. Ikhlas dengan seutuhnya memang sulit, tapi bukan berarti tidak bisa dicoba kan?

Bird in front of my hotel room @Jeddah

Bird in front of my hotel room @Jeddah

Satu hal lagi yang saya ingat, saat kami menjalani pemeriksaan di imigrasi saat kepulangan kami ke tanah air, secara umum hampir semua rombongan kami berjalan lancar, hanya satu saja, satu koper harus dibongkar karena alarmnya berbunyi dan itu milik dari Sang Kawan saya tadi, hanya dia yang akhirnya harus susah payah membongkar kopernya karena petugas harus mencari tahu ada benda apa dalam koper itu yang membuat alarmnya berbunyi, yang ternyata berasal dari gantungan kunci yang sedianya dia beli untuk oleh oleh untuk kerabatnya di tanah air.

Maya

Saya mengenal Maya, Gadis cantik yang sekarang usianya 18 tahun dari Ibunya.
Ibunya sudah seperti keluarga buat saya, dulu aktif sebagai relawan di salah satu radio yang saya pernah bekerja. Kami sering kerja bareng setiap ada kegiatan menggelar posko bencana. Ibunya aktif dari mulai mendengar radio, menggalang bantuan, bawain kopi untuk para relawan, terjun langsung ke posko, sampai pernah mengantar saya muter muter di pasar rumput untuk mencari salah satu preman di pasar itu, karena ada seorang nenek yang jatuh sakit berhari hari di pasar itu tanpa ada yang mengurus dan akhirnya meninggal. Karena sebatang kara, dan nenek itu kesehariannya ada dipasar itu, maka untuk mengurus surat jenazah sebelum dikuburkan harus ada tanda tangan ‘keluarga’ dari sang nenek, yang otomatis harus ditanda tangan oleh sebut saja Bang Bosi ini karena dialah penguasa pasar pada saat itu.

Ibunya Maya pekerja keras, kesehariannya dia menjahit baju kebaya. Pelanggannya banyak, dari orang biasa sampai orang orang terkenal. Dari ketekunannya inilah dia bisa membesarkan anak anaknya termasuk Maya.

Sedari kecil Maya memang sudah kelihatan cantik. Kulitnya putih, bersih, darah blasterannya mungkin memang ada dari keturunan nenek kakek dari Ibunya.

Pernah satu kali saya, Maya dan si Ganteng anakku niat banget foto foto di seputar UI karena selain mereka memang berteman, kedua anak kecil ini unyu banget buat difoto. Maya usianya berjarak cukup jauh dengan siGanteng.

Maya dan siGanteng

Maya dan siGanteng

Maya

Maya

maya kecil dulu

maya kecil dulu

Seiring berjalannya waktu, saya jarang ketemu Maya dan Ibunya. Ketemu hanya pada saat saya perlu menjahitkan baju, gaun, atau kebaya aja.

Kemarin setelah sekian lama engga ketemu, saya kaget lihat Maya yang sekarang sudah 18 tahun, makin cantik, tingginya 175 cm, kulitnya putih bersih dan sikapnya masih sama, sopan dan senyum terus. Saya sempat nanya, kamu cantik banget May, emangnya engga mau jadi artis?, dia cuma senyum dan bilang, kalau dia sukanya difoto dan modeling aja.

Berceritalah sang Bunda soal Maya, saat Maya usianya 13 tahun, mereka berdua sedang jalan jalan di sebuah plasa di Jakarta. Tiba tiba ada seseorang yang mengaku suruhan musisi Ahmad Dhani mendekat dan mengundang Maya kerumah sang Musisi. Singkat cerita, Maya diundang datang ke studionya sang musisi itu untuk di tes kemampuannya bernyanyi ditemani sang Bunda. Ya.. Maya memang engga pandai menyanyi walaupun jaman sekarang semua itu bisa diakali. Walaupun sudah dijelaskan panjang lebar oleh sang Musisi, tetap saja Maya engga mau. Dan sang Bunda, tentu saja bukan tipikal orang yang mau memaksakan kehendaknya demi popularitas sang anak pun mengajak anaknya pulang.

Karena kepiawaian sang Bunda menjahit kebaya, ada beberapa kliennya yang melihat Maya kemudian meminta Maya untuk menjadi model foto butik kebayanya. Ya itu masih mau Maya lakukan karena dia memang suka di foto.
Kegiatan pemotretan nya memang engga banyak, karena Maya masih sekolah. Ibunya bercerita, setiap anaknya dapat honor, berapapun hasilnya Maya engga pernah lupa untuk menyisihkan ke anak yatim dan memberikan ke Ibunya. Bahkan, Maya masih mau loh nganter jahitan ke rumah pelanggan Ibunya. Mereka sekarang tinggal di seputar selatan Jakarta, Ibunya masih mengontrak rumah disana.

Jaman sekarang, di era rata rata anak muda banyak yang mengambil jalan pintas untuk menjadi terkenal, Maya santai saja. Saya jadi teringat saat mengantar siGanteng anak saya untuk diajak casting figuran iklan vitamin anak anak, saya banyak menemui ibu ibu yang luar biasa berambisi meng’artiskan’ anaknya.
Anaknya didandani sedemikian rupa, di cubit kalau engga mau beraksi bagus saat casting, sampai diiming imingi hadiah kalau lolos casting.
Sementara saat itu saya mengantar siGanteng karena memang diminta datang oleh kawan yang mau buat iklan, dan saya juga pasti akan langsung ajak pulang dia kalau dia engga happy atau bête disana, karena misi saya cuma memberikan siGanteng pengalaman seperti apa sih proses casting sebuah iklan. Ya akhirnya siGanteng memang beraksi sebagai figuran iklan TV yang durasinya sangat sebentar itu, tapi prosesnya melelahkan.

Kembali ke Maya, hm.. kamu hebat May, tetaplah rendah hati dan percaya diri kalau memang kamu berbakat suatu saat nanti pasti kamu akan jadi ‘seseorang’.
Jaga baik baik Bundamu ya.. dia wanita hebat, pekerja keras yang tidak mudah menyerah, dan tahu benar bagaimana cara membesarkan anak gadis yang amat cantik seperti kamu, yang rasanya sulit banget ditemui dijaman sekarang ini.

Maya dan siGanteng sekarang

Maya dan siGanteng sekarang

Maya and Me

Maya and Me

Untitled

Butuh banyak waktu untuk memulai menuliskan sesuatu yang sebenarnya masih terasa sedih untuk ditulis. 15 February 2013, hari terakhir saya mengudara di sebuah stasiun radio yang enam tahun lebih bahkan hampir tujuh tahun saya bergabung. Bukan karena engga bisa menuliskan apa apa tapi lebih karena beberapa rentetan kejadian yang rasanya begitu menusuk perasaan saya begitu dalam….

Last Day

Last Day

Sekitar dua minggu setelah siaran terakhir saya di program Delta Delight 99,1 Delta FM Jakarta, Minggu sore 3 Maret 2013, saat sedang mengantri dikasir sebuah tempat perbelanjaan bersama Ibuku, antrian yang panjang dan bikin bête, tiba tiba telepon saya berdering ternyata dari sahabat yang justru bukan dari lingkungan radio tempat saya pernah bekerja yang menanyakan kebenaran kabar kepergian sahabat saya Bipi Nastoto, Penyiar, Teman, Sahabat yang saya kenal sejak pertama bergabung di Delta FM. Sontak saya kaget dan membuka semua pesan di bbm, twitter, sms, dan ternyata banyak missed call disana, salah satunya dari sahabat saya sesama mantan penyiar Delta FM, Adenita, semua mengabarkan dan menanyakan hal yang sama.

Beatles Nite

Beatles Nite

Saya engga serta merta percaya, langsung saya telepon ke nomor Bipi, dan terdengar suara wanita, saya engga yakin itu istrinya karena kalaulah memang kabar itu benar, engga mungkin Mbak Irma yang kerap disapa Mbak Aping ( istri Bipi ) yang mengangkat, pasti dia sedang berduka, ternyata.. Mbak Aping sendiri yang mengangkat dan membenarkan kabar itu. Lutut saya lemas, dan seketika saya sibuk mengontak teman teman.
Entah kenapa saya memang engga kepingin untuk datang ke Java Jazz, sebuah perhelatan musik akbar yang digelar sejak jumat saat itu.. ngga tau deh.. hampir tiap tahun saya hadir, karena harus bertugas jadi MC atau sekedar nonton. Mungkin jenuh karena yang saya rasa toh saya udah engga tugas ngeMC lagi dan tempatnya jauh, lagipula saya lagi seneng senengnya menghabiskan waktu sama keluarga karena baru aja jadi pengangguran.

Bergegas saya mengantarkan Ibu dan Ayah saya pulang, ganti baju dan meluncur kerumah duka. Ah… masih engga percaya….Saya datang saat almarhum sudah dimandikan, rapi, akan disholatkan. Saya pun engga sampai hati atau tepatnya engga berani membuka kain putih tipis yang menutup wajah sahabat saya itu.. Yang belakangan saat obrolan saya di obsat dengan mas Rivo Pamudji, sahabat Bipi di komunitas Bike to Work dia bilang, engga ada salahnya melihat untuk yang terakhir kali.

Perasaan saya engga karuan, melihat ketegaran Mbak Aping, Istri Bipi, yang tegak berdiri dengan mata yang bengkak, satu persatu menyalami begitu banyak tamu yang datang, melihat Luthfi si Sulung yang tidak lagi terlihat menangis, juga Aaliyah putri cilik Bipi yang selalu dia banggakan, sering di ajak ke kantor dan kadang bermain dengan siGanteng jagoan saya ketika ada moment bertemu.

Diantara sekian banyak pelayat yang datang, seorang pendengar Radio Delta yang bahkan hanya mengenal Bipi di udara pun hadir, Dia, Abah Utun panggilannya sempat menanyakan rumah duka ke saya via twitter. Kami, perkerja radio memang bukan publik figur yang raut mukanya dikenal banyak orang, walaupun sekarang banyak publik figur yang juga bekerja sebagai penyiar radio. Kehadiran Abah Utun disana, pertanyaan pertanyaan di facebook, inbox, sms, twitter dari sekian banyak pendengar, yang sampai saat ini pun masih saya terima, menandakan Bipi adalah pekerja radio yang dicintai banyak orang.

Pagi keesokan hari dilalui dengan menunggu kedatangan rombongan jenazah di TPU Jeruk Purut, disana saya bertemu dengan teman-teman lama, Ibor yang dulu bekerja sebagai Operator Siaran, Teh Ria Singawinata, Shahnaz Haque, Gilang Ramadhan, Bondan, Mbak Norma, teman teman JDFI lain, dan Mas Rivo juga keliatan hadir bersama teman teman Bike to Work. Bahkan Mas Indra Prasetijo, fotografer yang sering mengabadikan kegiatan radio kami di Delta FM pun ikut hadir, tentunya kali ini dengan suasana berbeda tapi tetap dengan kameranya.

Pemandangan paling mengharukan yang saya lihat adalah saat posesi tabur bunga, Mbak Aping terlihat gemetar menabur bunga di makam Bipi yang dimakamkan bertumpuk dengan almarhum Ibundanya tercinta yang wafat di tahun 2007 tepat saat Bipi pertama kali siaran di morning show Delta FM. Si Sulung Luthfi yang raut wajahnya mirip dengan Bipi, tingginya sudah melebihi Ibunya, merangkul lengan Ibunda, sambil menuntun menabur bunga. Aaliyah putri kecil Bipi tegar menabur bunga dengan mimik yang terlihat masih bingung ataupun tidak percaya.

Makam Bipi

Makam Bipi

Selamat jalan Bip, cuma doa yang bisa aku kirim untukmu, terimakasih untuk ilmu mixing yang kamu ajarkan saat pertama kali aku di training di JDFI di jalan Borobudur dulu, untuk semua sessi ngeMC bersama dimanapun itu, terimakasih untuk pertemanan yang rasanya sudah menjadi sebuah tali persaudaraan yang indah, maafkan aku ya Bip.. buat semua hal yang mungkin jadi sebuah kesalahan direntang waktu persahabatan kita. Tidak ada lagu yang tepat untuk mengantarkan kepergianmu, suara “kotak kotak” (begitu Farhan menyebut karakter suara Bipi) yang pernah mengisi Tajuk Delta yang skripnya ditulis Mas Reza Indragiri Amriel hingga mendapatkan penghargaan Fitur Radio Anti Korupsi itu. KIS FM ( as Tony Silver), M97, Delta FM adalah tempat dimana ‘suara sukma’ seorang Bipi Nastoto pernah mengudara.

Hampir seminggu berlalu, saya dan teman-teman mulai merencanakan untuk hadir di tahlilan hari ke 7 almarhum Bipi. Jumat siang 3 Maret saya dan siGanteng lepas dia sekolah berencana untuk menonton bioskop. Paginya saya sempat berbalas twitter dengan Irwin Novianto, @DJWinz, music director Delta FM, sahabat saya yang saya tau dia sedang ada di Cirebon untuk perawatan sakitnya. Dije (begitu kami biasa memanggil dia) komentar soal maraknya harlem shake.

Last Tweet

Last Tweet

Sayapun BBM untuk mengajak dia melihat aksi harlem shake siGanteng di YouTube. Dije bilang oke dia akan lihat dan perbincangan berlanjut ke seputar kepergian Bipi, Dije bilang seminggu sebelum Bipi pergi, dia datang ke kantor Delta FM dan mengabsen satu persatu teman teman disana, minus saya tentunya karena sebelumnya saya sudah bbm-an dengan Bipi soal kepergian saya dari Delta FM.

Sedihnya, Dije malah meminta saya untuk ikhlas mendoakan alm Bipi.

BBM @DJWinz pagi itu

Satu telepon masuk dari sahabatku Faisal di Delta FM saat sedang memesan pancake sambil menunggu film dimulai soal kepergian Irwin tentunya membuat lututku lemas untuk kedua kalinya. Disusul dengan bbm dari Mbak Nining kakak dari Irwin yang mengabarkan hal yang sama, membuat saya tidak bisa menonton dengan konsentrasi penuh ke film Jack Giant Slayer yang terlanjur sudah terbeli tiketnya. Setengah film saya lalui dengan airmata dan berkomunikasi via bbm dan twitter dengan teman teman soal kepergian Irwin.

Minggu pagi, 10 Maret saya, Farhan, Mbak Aya, Sandy berangkat ke Cirebon, disusul Heka dan Istri juga si Chubby Tristan putra Heka, karena ketinggalan kereta. Rumah keluarga Irwin cukup luas, dikawasan jalan raya Palimanan, bangunannya sudah berusia lebih dari seratus tahun, tapi sudah beberapa kali direnovasi, terasa adem, terlebih ada kolam ikan yang cukup luas ditengah rumah menjembatani bagian belakang rumah. Sang Bunda cerita rumah ini sering dijadikan markas Irwin berkumpul dengan teman temannya. Mobil Lancer Dan Gan kesayangan Irwin terparkir rapi disamping rumahnya, tenda masih digelar, juga beberapa bunga duka cita masih terpajang disana. Hati saya terasa sesak tak karuan, mengingat di bbm terakhir Irwin masih mengajak ketemuan di Majalengka engga jauh dari Cirebon, kampung halaman Ibu saya. Ya, Irwin sering kali mengajak kami teman teman kantornya untuk datang ke rumah Ibunya, hampir saja terjadi saat libur lebaran lalu, tapi entah kenapa engga jadi.

Ibunya menyalamiku dengan derai airmata, sang istri tercinta, Mbak Fitri terisak memeluk erat saya. Kenangan menghabiskan setiap malam tahun baru di rumah Farhan, dipojokan ruang tamu rumah Farhan, Dije memainkan musik klasik diskonya dari sana terekam dengan jelas di ingatan saya. Disana aku tau bahwa kamu sempat pulang kerumah persis seperti katamu di bbm, kalau kamu segera pulang kerumah karena sudah merasa jauh lebih baik dari sakitmu, bahkan kamu bilang ke suster dirumah sakit ingin mandi yang lama dan sebersih mungkin sebelum kamu pulang kerumah. Sampai dirumahpun kamu sempat minta diusap perutnya oleh Ibumu, memintanya membuatkan sup tahu sebelum kamu rebahan beristirahat dikamarmu dan Allah memanggilmu. Panjang lebar sang Bunda, Istri dan kakak perempuan Irwin bercerita, betapa sosokmu adalah seseorang yang tak bisa ditulis dengan kata kata. Irwin sudah menjadi anak yatim sejak dia sekolah di SMP. Cita cita dia untuk menjadi seorang Music Director disebuah stasiun radio berjaringan sudah tercapai. Keinginannya beristrikan wanita yang merawat dia sampai akhir hayat pun sudah, keinginan dia untuk mendatangkan kami teman teman baiknya kerumahnya disana pun juga sudah tercapai, hanya saja kami tidak bisa bertemu Irwin, hanya pusaranya saja.

Farhan menggambarkan sosok Dije adalah sahabat bahkan keluarga yang tak tergantikan, karena begitulah adanya dia untuk kami. Kerendahan hati, kejujuran, semangat kerja, senyum bahkan omelannya semuanya terlalu indah untuk di ingat. Saya dan Farhan pun jarang bertemu walaupun kami bekerja di radio yang sama, tapi berbeda jam kerja, tapi pekerjaan kamilah yang membentuk sebuah ikatan yang membuat itu lebih dari hubungan kerja semata, tapi keluarga. Beranjak sore kami berjalan menuju makam Dije, tak jauh dari rumah Ibundanya, konon Dije memang sudah berpesan agar dimakamkan disitu yang justru lebih dekat dengan rumah Ibunya padahal makam keluarga Irwin sendiri letaknya agak jauh dari rumah Ibunya, katanya agar sang Istri sering datang menengok rumah Ibunya.

Rest in Peace @DJWinz

Rest in Peace @DJWinzRest in Peace @DJWinz

Gemetar kaki saya menginjak tanah merah yang masih penuh dengan taburan bunga, rasa tidak percaya masih ada walaupun dengan jelas terpampang nama di nisanmu sahabat. Kamu pergi dalam tidur, damai dan tidak merepotkan siapapun seperti yang sering kamu bilang ke teman temanmu. Maafkan aku ya Dije, maafkan untuk semua kejahilan yang kulakukan saat kita bekerja sama. Aku ingat betul di hari hari terakhir siaranku kamu pingin dibuatin kopi Vietnam karena hari itu aku membawa kopi plus Vietnam drip-nya. Terimakasih untuk semua rekaman hasil mixingmu yang berserakan dimobilku yang sampai hari ini aku belum berani memutar karena aku takut tak bisa menahan sedihku. Terimakasih untuk ucapan kesedihanmu saat siaran terakhirku di Delta FM, terimakasih untuk semua alunan musik yang kamu mainkan untuk kami, terimakasih untuk semua lagu yang kamu pilihkan untuk dapat diputar disiaranku dan semua pendengar. Terimakasih untuk senyum yang selalu tulus kamu beri kesiapapun.

my tweets

my tweets

Terimakasih juga untuk seorang sahabat yang menuliskan tentang @DJWinz Karya yang akan selalu dikenang sebagai hasil kerja seorang Music Director, DJ, Sahabat, Brother, yang tak tergantikan

Ya.. dua sahabatku pergi dalam waktu seminggu berturut turut. Bukan hal yang mudah untuk dihadapi apalagi bertepatan saat saya memutuskan untuk jeda dari segala kegiatan. Mereka pergi diusia yang belum mencapai empat puluh, tapi tiga puluh sembilan. Dan sayapun sama sekali tidak punya ide untuk memberi judul dari tulisanku sendiri kali ini.

Doaku untukmu agar terang dan lapang kuburmu disana, agar semua yang kamu cinta juga tabah dan tegar menghadapi ini.

Innalillahi wa inna illaihi rajiun

Bipi Nastoto Abdoel Kadir
28 Juni 1973 – 3 Maret 2013

Me n Bipi by Indra Prasetijo

Irwin Novianto
10 November 1973 – 8 Maret 2013

Me n DJWinz @Delta FM Event

Me n DJWinz @Delta FM Event

Kita pasti akan bertemu lagi bro, suatu saat nanti. Carikan tempat terbaik untukku disana ya kawan….

Nidji dulu, Nidji sekarang, Nidji di Karnaval Mandiri

Nidji

Nidji

7 Oktober 2012, siang hari saat memasuki area parkir timur senayan hingar bingar suara musik sudah terdengar dari kejauhan. Saya kenal betul vokal dari sang penyanyi, yang tentu juga disambut dengan riuh rendah penonton yang sebagian dari mereka yang menyebut dirinya “Nidjiholic”

Ya, Nidji hadir meramaikan ulang tahun Bank Mandiri ke 14 di event Karnaval Nusantara. Giring, sang vokalis memang tidak pernah kehilangan aura “star”-nya dari tahun ke tahun. Saya sendiri mengenal Nidji saat masih bekerja diperusahaan, digital entertainment yang juga content provider di tahun 2006. Saat itu perusahaan tempat saya bekerja dipercaya oleh Musica Studio, Label yang menaungi Nidji untuk bekerja sama menjual produk mobile content dari Nidji . Saat itu bisnis mobile content sedang berkembang pesat di Indonesia.
Tidak mudah menjalin kerjasama dengan salah satu label besar seperti Musica Studio, dan saat itu kamilah yang pertama.

Nidji saat itu baru akan merilis album pertama mereka yang berjudul “Breakthru”. Saat itu belum banyak pihak yang percaya akan kesuksesan Nidji, kami sempat menawarkan ke salah satu perusahaan produsen gadget yang sedang mencari duta untuk produknya, dan kami memperkenalkan mereka ke Nidji, tapi mereka menolak ☺.

Karena salah satu tugas kami adalah membuatkan mini website untuk Nidji, kami sempat mengundang Nidji Band, utk datang ke kantor dan ‘manggung’ di koridor kantor kami yang saat itu lokasinya di Cyber Bulding, Jakarta.
Semua personil Nidji hadir tepat waktu, berkumpul di meeting room sebelum persiapan manggung seadanya di kantor kami. Sayup sayup kami mendengar suara gitar yang dan lirik lagu “Bila Aku Jatuh Cinta” oleh beberapa personil Nidji yang sedang ‘nongkrong’ santai di karpet depan meeting room.
Giring, sang vokalis yang khas dengan rambut keritingnya, melepas blazer kemudian memakai lagi sambil melakukan sedikit pemanasan vokal. Sayapun bertanya apakah dia merasa gugup atau nervous, dia mengaku sesekali masih suka nervous sebelum manggung, walaupun mereka sudah sering manggung di panggung-panggung indie band.

Singkat cerita pementasan alakadarnya di koridor kantor kamipun berjalan lancar. Kami terpesona oleh vokal Giring yang ‘bening’, yang jarang rasanya ditemukan dari band band Indonesia yang sekarang pun mungkin sudah dalam kategori band yang sudah terkenal.

Selepas itu hubungan kami dan Nidji secara profesi berjalan dengan baik. Saya sempat menghadiri acara tumpengan sederhana di markas mereka dikawasan perdatam untuk selamatan ulang tahun, ataupun diundang pihak Musica untuk hadir diacara acara yang berhubungan dengan artis yang dinaungi mereka.
Penampilan Nidji diacara Karnaval Mandiri tentunya jauh lebih matang ketimbang saat pertama kali saya mengenal mereka.

Siang itu saya melambaikan tangan kemereka karena saya berdiri tidak jauh dari panggung, Randy sang keyboardist dan Giring membalas lambaian saya, saya pikir itu adalah cara mereka menghargai para Nidjiholic, karena mereka memang dikenal sangat ramah kepada para penggemar, bukan karena mereka masih mengingat saya.
Selesai acara, karena siGanteng anakku ingin berfoto saya mendekat ke sisi panggung, saya kaget karena ternyata Randy masih mengenal saya dan langsung mengajak utk berfoto di belakang panggung tempat mereka beristirahat karena petugas keamanannya cukup galak saat itu.

Jadilah saya dan siGanteng berfoto dengan leluasa disana, sayapun kaget karena Andro, sang bassist juga masih bisa mengenal dan menyebut nama saya dengan benar, karena tentulah Nidji yang sekarang bukanlah Nidji yang dulu yang masih suka nervous saat mau manggung dan mereka sudah dikenal bukan hanya di Negara ini.
Keramahan para personilnya, sepi dari gossip yang aneh anah, aksi panggung yang memukau, vokal Giring yang tidak jauh berbeda dari hasil rekamanpun menjadi nilai plus.

Siang itu menjadi sempurna karena hanya berbekal e toll card saya bisa menikmati banyak pilihan makan siang yang harganya di discount hingga 50%!
Dari mulai es Justmine Pisang Ijo, Kedai Kak Ani, Baso Kota Cak Man, Burger Aussy, Mpek Mpek Abing, Javapuccino, karya dari para entrepreneur kuliner jebolan wirasaha Mandiri, dinikmati dengan potongan harga sambil menikmati aksi three on three di area basket. Asal bersabar, bisa deh menikmati semua jajanan disana dengan harga yang fantastis.

Saya bisa kenyang membeli Burger Aussy, tiga porsi, membawa pulang 3 bungkus abon Rani, minuman dingin sampai kembung, dan beberapa cemilan lain, tidak lebih dari Rp. 120.000,- saja.
Sayapun pulang sebelum bisa menikmati aksi Maliq & d’Essentials yang jadi aksi pamungkas, sayang banget memang, tapi yah apa mau dikata harus segera pulang untuk persiapan hari senin, nasib pekerja diJakarta ☺

Tapi sehari sebelumnya saya puas mengelilingi area JCC karena digelar juga Pasar Nusantara dimata sejauh mata memandang ada rasa bangga bahwa banyak hasil hasil karya anak negeri yang indah bahkan dibanderol dengan harga tinggi karena memang sudah selayaknya kita menghargai produk produk negeri sendiri.

Selamat Ulang Tahun Bank Mandiri, semoga perhelatan ulang tahun dari tahun ke tahun bisa terus menginsiprasi dan menambah kecintaan pada negeri ini.