Ada Apa Dengan Pasar Santa

Pasar Santa

Cuaca panas berdebu menyambut kedatangan saya di parkiran belakang Pasar Santa. Bulan Juli 2014 lalu saya jarang memasuki parkiran belakang, karena area parkir masih banyak yang kosong di depan. Sekarang, kalau datang agak pagi masih memungkinkan saya parkir dibelakang, bukan karena manja harus membawa kendaraan, tapi bawaan saya biasanya terdiri dari satu cool box besar berisi pint pint es cream gelato yang di buat dirumah, beberapa tumpukan box bening isi sus buah dan sus kosong, dan beberapa kantong isi keperluan kios selalu memenuhi bagasi belakang hingga kursi penumpang yang membuat saya tidak mungkin naik kendaraan umum membawa semua ini sendirian. Seringkali saya tidak membawa kendaraan, tapi suami men-drop saya dan menurunkan semua barang, lantas dia pergi ke kantor. Tapi kalau dia dinas keluar kota terpaksa saya bawa semua sendiri.

Bapak penjaga parkir yang bertugas hari itu sibuk mengatur kendaraan, meminta saya menunggu untuk mencari tempat supaya saya bisa mudah menurunkan barang. Setiap hari bertemu mereka membuat kami biasa saling sapa, bercanda atau kadang curhat colongan singkat soal apa saja yang asik dibahas hari itu.

Pak Maman, petugas kebersihan lantai basement yang saya kenal cukup baik saat bekerja sama untuk kegiatan lomba masak di lantai basement tahun lalu pun sudah siap menunggu saya untuk membantu membawa barang yang saya tidak kuat angkat sendiri. Kami bersama sama mengangkut modal dagangan hari ini ke kios, sambil sedikit bercerita soal pasar hari itu dan Sedikit rejeki saya berikan buat Pak Maman sekedar untuk dia membeli minum dan sedikit kue dari rumah saya siapkan untuk teman kopinya. Continue reading →

live, laugh, love @SepotongKue #pasarsanta

choux @abcd_coffee

Satu hari Intan @badutromantis mengirimkan pesan via whatsapp,
“Mbak, Jual sus kamu dong diwarung aku..”
“Dimana?”
“Pasar santa, tapi bukanya dua kali seminggu ☺”
“Lha…kok bisa?”
“Aku telepon yaaa..”

PicsArt_1404664295339

Jadilah kami bertelepon dan saya dapat keterangan kenapa di Pasar Santa hanya buka dua kali seminggu waktu itu. Sayapun untuk pertama kalinya melihat @substore_ kios yang menjual vinyl, kaos dan jeans unik yang ada di santa milik Intan dan Aria yang saat itu masih pacaran belum menjadi suami-istri :)

Singkat cerita sampailah sus buah krim diplomat saya ke @abcd_coffee sebuah sekolah kopi yang dimotori Barista luar biasa handal dan mendunia, Mas Ve dan Mas Hendrik. Setiap saya bawa kesana, selalu habis. Memang saya engga bawa banyak, karena semuanya harus dibuat fresh dan kadangkala saya buatnya sekalian dengan pesanan teman yang sudah order duluan.

Sesekali saya membawa ice cream yang saya buat dirumah sebagai test food, sekaligus mencari tau respon dari siapa saja yang hadir disana.

Disinilah saya berkenalan lebih jauh dengan Pasar Santa, yang dulunya hanya saya tahu satu kalimat : Sate Padang Ajo Ramon.

Hanya dua toko yang sudah buka saat itu dilantai atas Pasar Santa, @Substore_ dan Sekolah Kopi A Bunch Of Caffeine Dealer atau @abcd_coffee ini. Diujung sana ada @Laid Back Blues Record Store yang juga sudah siap memulai perjalanannya. Sesekali saya melihat Bang Levi yang sibuk me-roasting kopi di sudut salah satu kios di pasar ini Orkide Coffe

Sisanya hanya lorong kosong gelap dan kumuh, yang sekitar tujuh tahun mati hampir tak berpenghuni, rasanya ngeri untuk dijelajahi di malam hari. Sampai sayapun harus menahan pipis setiap kesana, karena belum berani masuk ke dalam toiletnya yang ternyata tidak seburuk yang saya bayangkan sebelumnya. Continue reading →

Sunday Food Market-nya @SepotongKue

foto taken by Mbak @unilubis

Laki laki berpakaian casual dan istri bule-nya mendekat ke booth kami yang berukuran 2,5 x 2,5 m2 di selasar antara jajaran café dan resto cilandak town square.

Sang suami berkata : ‘Bisa pake debit card engga?” . Saya cuma tersenyum dan bilang : “ Bapak mau borong ya, hehe belum bisa Pak, ini kan Bazaar ☺”

#SundayFoodMarket adalah event bazaar yang di organisir oleh ThinkTank yang digelar setiap hari minggu di bulan Juni lalu.

Saya, tukang kue amatir yang sesekali terima order dari teman- teman dapat infonya dari @tenit di twitter seputar pop up bazaar ini. Sebelumnya saya pernah datang di event sejenis di Kemang Village, dan terkesima, senang rasanya melihat booth booth yang unik, kreatif, jenis makanan yang disajikan, dan para pesertanya yang kebanyakan anak muda yang engga malu-malu menjajakan dagangannya.

Sebagai pecinta kuliner rasanya terpanggil buat ikutan hal serupa walaupun saya belum punya persiapan apa apa. Nah, baca info dari Teh Nita Sellya tadi, rasanya terbayang-bayang bagaimana si @sepotongkue ini bisa eksis atau hadir di event itu atau lebih tepatnya memberanikan diri buat memperkenalkan produknya ke pasar yang sesungguhnya.

Tanpa buang waktu saya telepon penyelenggara menanyakan persyaratan dan lain lain. Lantas mendapatkan kabar bahwa space masih tersedia, budget ya masuk sih, karena target saya bukan omset tapi menantang keberanian diri buat jualan sesungguhnya. Saya pun daftar. Continue reading →

Antara Anyer, Joe Taslim, Juke, Tongsis dan…. Jakarta

anyer

Anyer? Pernah dong kesana…..:)

Joe Taslim

Joe Taslim? Hah? Atlit Judo? Pemain Film? Model? Fast and Furious 6? Ya.. bisa jadiii! Eh iya bener yang ini!

Juke? Nissan Juke mobil dengan jenis crossover yakni perpaduan antara SUV dengan Sedan, mobil SUV yang pertama kali diproduksi oleh pabrikan Nissan.

Tongsis? Tongkat Narsis?? Benda yang awalnya bernama Quik Pod ditemukan oleh Fromm Work, perusahaan yang dimiliki oleh pasangan ayah dan anak bernama Wayne Fromm dan Sage fromm, yang pernah diundang ke acara Oprah Winfrey.

Jakarta? Ibukota tercinta yang selalu menjadi titik poin awal keberangkatan sebuah perjalanan dan tentunya.. Ke Jakarta Aku.. kan Kembaliiii…

Kalau bukan karena PolimoliDotCom dan Nissan Motor Indonesia, maka ke lima kata ini tidak akan menjadi sebuah cerita.

Yak sip… Continue reading →

Catatan Kecil di Gerakan Unjuk Rasa Mahasiswa 1998

Kirana, Keponakanku..

Umurmu belumlah setahun saat aku menuliskan sedikit catatan ini.

Disini aku berfoto bareng dengan seseorang, dulu dia idola Ibumu. Ibumu dulu tahun 1998 tidak mau aku jemput pulang dari kampus UI Salemba. Karena dia kekeuh mau turun kejalan untuk ikut aksi unjuk rasa mahasiswa yang mungkin yang terbesar yang pernah terjadi di era orde baru. Dia hanya minta dibawakan baju dan celana jeans untuk baju gantinya.

Sehari setelah itu, aku menerima telpon dari RS Jakarta yang mengabarkan kondisi ibumu yang katanya tertembak dibagian kepala. Panik, kaget dan tak karuan rasanya, segera aku, Pakdhe Iqbal dan Ayah Ario mencari ibumu diantara ratusan mahasiswa dan mahasiswi dan bergeletakan dari mulai lobby hingga seluruh pojok kamar pasien yang ada di RS Jakarta. Aku akhirnya menemukan Ibumu terbaring diatas ranjang salah satu kamar di sana, masih menggunakan kaos milikku yang dia pinjam saat dia menolak kujemput pulang sehari sebelumnya, yang berhias noda lumuran darah dari pelipisnya plus bonus memar cap sepatu tentara dipunggungnya.

Ibumu sendiri tidak ingat apa yang terjadi sesungguhnya, dia cerita kepadaku, yang dia ingat hanyalah dia bergabung berunjuk rasa bersama tim medis dari UI, tiba tiba suasana tak terkendali, dia hanya ingat menarik jaket dari orang yang posisinya terdekat dia saat itu tapi hanya jaketnya saja, orangnya entah kemana. Ibumu melihat oknum yang mengarahkan senjatanya jarak dekat ke kepalanya, syukurlah peluru hanya mampir melintas disisi kepalanya tapi setelah itu dia tidak ingat apa apalagi.

Sejak siang Ibumu tergeletak di RS tanpa bisa mendapatkan obat sakit kepala atau penawar rasa sakit yang dia minta dari rumah sakit. Mungkin karena situasi begitu tak karuan saat itu dan banyaknya pasien yang ada disana hingga untuk sebutir obat sakit kepalapun belum dia dapatkan. Kalau saja dini hari saat itu Pak Mar’ie Muhammad tidak datang bercelana pendek dan melihat keadaan semua mahasiswa mahasiswi disana yang terluka, mungkin ibumu tidak bisa diobati maksimal.

Jelang subuh ibumu di evakuasi ke RSCM, masih dengan kaos yang sama, aku duduk diambulans menemani ibumu, melintasi jalan Jenderal Sudirman yang masih diselimuti asap tebal dari ban ban mobil yang dibakar dan sampah sisa unjuk rasa. Sepi,.. Ngeri… Gelap,… Mencekam… Continue reading →

Terjebak Nostalgia

Hujan sempat turun cukup deras sore tadi, bahkan pelangi pun sempat hadir di langit senja tapi walaupun tidak utuh. Sekarang, sisa hujan berupa hawa dingin tapi bau tanah segar tersiram air menggoda saya untuk mematikan AC mobil dan membuka kaca, menikmati udara malam sisa hujan, melintas jalan sepi, menuju rumah lengkap dengan kabut ikut menciptakan nuansa yang teduh, temaram, dan cukup bikin galau.

Di radio terdengar suara indah Raisa menyanyikan lagu “Terjebak Nostalgia”. Coba bayangin kalau kamu yang ada di belakang kemudi seperti saya sekarang, pasti pikiranmu tergoda menerawang entah kemana, belum lagi suara serangga malam hari sayup sayup terdengar karena kaca jendela mobil yang terbuka tadi.

Kalau belum bisa ngebayangin juga karena engga tau lagunya, ih tapi terlalu deh kamu kalau engga tau lagu ini. Jangan jangan kamu itu angkatan 66 jaman Supersemar, atau angkatan 45? yang lebih akrab sama lagu-lagu perjuangan macam ‘Halo Halo Bandung’ atau ‘Kopral Jono?’ . Sebentar, jadi kepikir kenapa Ismail Marzuki sang pencipta lagu Halo Halo Bandung itu memberi judul karyanya pake kata ‘Halo’ ya?. … apa karena beliau dapat idenya habis teleponan dengan sahabatnya atau seandainya lagu itu diciptakan di sekitar tahun 90-an atau tahun 1995 gitu saat perusahaan telekomunikasi Telkomsel baru berdiri, pasti lagu ini bisa jadi akan diendors oleh Telkomsel, ah.. sudahlah, saya cuma mau nulis kalau kamu memang engga tau lagunya Raisa tadi nih saya kasih sepenggal, maksudnya sedikit kutipan liriknya : Continue reading →

Satu Hari yang Sarat Makna

Selama lebih dari dua puluh hari melakukan aktifitas yang memerlukan fisik wajib dalam kondisi prima, emosi yang stabil yang tentunya sulit dilakukan dalam keadaan lelah dan bukan hanya lelah, tapi berada dalam situasi emosi yang naik turun karena menemukan hal hal yang belum pernah ditemukan, dilihat, dilakukan sebelumnya bukanlah hal yang mudah.

Ya pertama kali saya pergi ke Jazirah Arab adalah di tahun 2012, bukan hanya untuk berumroh, tapi juga berhaji. Pengalaman yang rasanya tidak akan pernah dapat dilukiskan, dituangkan, diceritakan dengan lengkap karena memang akan menjadi cerita yang sangat panjang untuk ditulis,. Mungkin pelan pelan saya akan menuliskan bagian bagian yang setiap detiknya itu akan selalu teringat dalam sepanjang kehidupan saya, karena sampai sekarangpun saya masih belajar memaknai, mengerti, mensyukuri, menikmati ataupun menerapkan apa yang saya dapat ataupun apa yang tersirat dari setiap detik perjalanan spritual yang indah itu dalam kehidupan saya sehari hari.

Tapi satu hal yang menarik untuk diingat adalah setelah melalui perjalanan panjang itu saya mendapat kesempatan untuk melepas lelah, penat, juga melakukan perenungan lebih dalam soal perjalanan itu di sebuah tempat yang sangat indah.

Hari itu kami dan rombongan tidak menyangka akan dibawa ke tempat seperti apa, atau tepatnya pasrah saja akan dibawa kemana, karena mengingat perjalanan panjang yang dimulai dari sebuah apartemen yang sederhana tapi konon ratenya lebih dari hotel bintang lima di daerah Aziziah, karena pada musim haji daerah ini bagaikan lokasi emas bagi para jamaah. Dari situ perjalanan di lanjutkan denga bermalam di Mina, kawasan yang memang menjadi sentral kegiatan berhaji, disinilah kami bergabung dengan jutaan umat muslim dari seluruh penjuru dunia, tinggal di salah satu tenda besar diatas padang pasir yang dikelilingi oleh gunung bebatuan, dimana keberadaan Air Conditioner di sana terasa menjadi tidak penting lagi, plus antrian kamar mandi yang rasanya lebih dari antri sembako ditanah air tapi tetap meninggalkan sejuta kenangan indah. Melempar jumrah, wukuf di Arafah, bermalam di Muzdalifah, satu persatu kegiatan kami lalui, kemudian berangkat ke salah satu hotel di Madinah yang dekat dengan Masjid Nabawi, masjid yang akan selalu meninggalkan kerinduan di hati setiap jamaah yang pernah datang dan shalat atau bahkan melantunkan doa dengan khusuk dimakam Baginda Rasulullah SAW. Lanjut ke sebuah hotel di Mekkah dimana setiap detiknya terasa mengaduk aduk perasaan kami karena menyaksikan langsung jutaaan jamaah yang sepertinya tiada henti melakukan thawaf mengelilingi Ka’bah dan bukan hanya karena kemegahan dan aura dari Masjidil Haram, tapi kesempatan untuk melakukan Shalat Fardhu disetiap sudut atau lantai masjid, Shalat Jenazah, Multazam, Hajar Aswad, Rukun Yamani, Hijr Ismail, suara Muadzin, lantunan ayat ayat suci dari Imam besar disana, rasanya sudah menguras habis seluruh energi lahir dan bathin yang berbalut kepasrahan, keringat dan airmata, tapi terbayar dengan semua rasa syukur bahwa satu persatu rukun haji sudah terlaksana dengan baik. Ya karena tentu itulah tujuan utama kami para jamaah yang berangkat kesana. Continue reading →

Maya

Saya mengenal Maya, Gadis cantik yang sekarang usianya 18 tahun dari Ibunya.
Ibunya sudah seperti keluarga buat saya, dulu aktif sebagai relawan di salah satu radio yang saya pernah bekerja. Kami sering kerja bareng setiap ada kegiatan menggelar posko bencana. Ibunya aktif dari mulai mendengar radio, menggalang bantuan, bawain kopi untuk para relawan, terjun langsung ke posko, sampai pernah mengantar saya muter muter di pasar rumput untuk mencari salah satu preman di pasar itu, karena ada seorang nenek yang jatuh sakit berhari hari di pasar itu tanpa ada yang mengurus dan akhirnya meninggal. Karena sebatang kara, dan nenek itu kesehariannya ada dipasar itu, maka untuk mengurus surat jenazah sebelum dikuburkan harus ada tanda tangan ‘keluarga’ dari sang nenek, yang otomatis harus ditanda tangan oleh sebut saja Bang Bosi ini karena dialah penguasa pasar pada saat itu.

Ibunya Maya pekerja keras, kesehariannya dia menjahit baju kebaya. Pelanggannya banyak, dari orang biasa sampai orang orang terkenal. Dari ketekunannya inilah dia bisa membesarkan anak anaknya termasuk Maya. Continue reading →

Untitled

Butuh banyak waktu untuk memulai menuliskan sesuatu yang sebenarnya masih terasa sedih untuk ditulis. 15 February 2013, hari terakhir saya mengudara di sebuah stasiun radio yang enam tahun lebih bahkan hampir tujuh tahun saya bergabung. Bukan karena engga bisa menuliskan apa apa tapi lebih karena beberapa rentetan kejadian yang rasanya begitu menusuk perasaan saya begitu dalam….

Last Day

Last Day

Sekitar dua minggu setelah siaran terakhir saya di program Delta Delight 99,1 Delta FM Jakarta, Minggu sore 3 Maret 2013, saat sedang mengantri dikasir sebuah tempat perbelanjaan bersama Ibuku, antrian yang panjang dan bikin bête, tiba tiba telepon saya berdering ternyata dari sahabat yang justru bukan dari lingkungan radio tempat saya pernah bekerja yang menanyakan kebenaran kabar kepergian sahabat saya Bipi Nastoto, Penyiar, Teman, Sahabat yang saya kenal sejak pertama bergabung di Delta FM. Sontak saya kaget dan membuka semua pesan di bbm, twitter, sms, dan ternyata banyak missed call disana, salah satunya dari sahabat saya sesama mantan penyiar Delta FM, Adenita, semua mengabarkan dan menanyakan hal yang sama.

Beatles Nite

Beatles Nite

Saya engga serta merta percaya, langsung saya telepon ke nomor Bipi, dan terdengar suara wanita, saya engga yakin itu istrinya karena kalaulah memang kabar itu benar, engga mungkin Mbak Irma yang kerap disapa Mbak Aping ( istri Bipi ) yang mengangkat, pasti dia sedang berduka, ternyata.. Mbak Aping sendiri yang mengangkat dan membenarkan kabar itu. Lutut saya lemas, dan seketika saya sibuk mengontak teman teman. Continue reading →