SepotongKue.com

Sepotong Kue, Secangkir Kopi, Alunan Musik dan Sebuah Cerita

Wisata Hati

Mei20

Pernahkah anda mampir mengunjungi tempat anak anak yang kurang beruntung di hari libur?
Saya tercengang melihat beberapa dari mereka mengenakan pakaian seragam putih merah yg biasa digunakan untuk sekolah, karena mereka tidak lagi punya pakaian yang menurut mereka layak digunakan untuk menerima tamu.

Salah satu bocah cilik berbaju putih merah itu terkantuk kantuk saat berdoa bersama, sesekali kepalanya menyentuh mimbar di mushola tempat mereka berkumpul karena sesaat terlelap, tapi dia sejenak terbangun karena teman disebelahnya membangunkan seraya menyikutnya.

Sekitar 50 anak yang berasal dari beberapa wilayah di Depok ataupun ada yg berasal dari beberapa daerah di Jawa ini tinggal di sini, mereka bersekolah sampai setingkat SMP, diajar oleh 5 orang guru yang hidupnya untuk mengabdi, karena tak ada sepeserpun gaji yang mereka terima setiap bulannya.

Mereka tidur di ruangan bawah dari tempat mereka sekolah, bangunan yang nampaknya belum selesai dibangun, entah kapan akan selesai karena Bapak Nurjaya S. Ag lulusan Gontor bersama sang istri Ibu Maesaroh sajalah yg mengurus mereka bersama ke 5 guru pengabdi tadi.

Kamar itu tak lebih baik dari tempat singgah yang mempunyai kelebihan tidak membuat penghuninya kehujanan atau kepanasan, tidur diatas kasur busa seadanya tanpa seprai yang sudah lusuh yang ditumpuk di sudut ruangan. Pengap, bercat putih yang pudar karena kotor, tidak ada satupun barang mewah disana kecuali satu TV sekitar 14 Inchi yang sudah tua yg menjadi rebutan anak anak itu dikala ingin menonton.

Dari sorot mata mereka yang tubuhnya terbalut pakaian kumal lengkap dengan peci dan sarung, ada keyakinan bahwa hidup mereka disini jauh lebih baik ketimbang dijalanan menjadi peminta-minta atau di kampung asal mereka. Disini mereka belajar menulis, membaca, mengaji dan apa saja yang bisa diturunkan ilmunya dari 5 orang guru yang luar biasa. Di ruangan tempat anak-anak perempuan tidur, hanya kutemukan satu buah baju yang tergantung rapi, karena menurut si anak, itulah satu satunya baju terindah yang dia miliki.

Mereka tak kenal Mc D, Kentucky, Hoka Hoka Bento atau apalah itu, bahkan buku kumal dan pakaian seadanya merekapun pernah hanyut dikala musim banjir karena tempat mereka tinggal terletak bersebelahan dengan sungai di Kampung Pitara Depok.

“Teh, kalau ada baju layak pakai untuk anak, seragam, sepatu, buku, atau apapun sudilah kiranya dibawa kesini…” Pesan Ibu Maesaroh istri Pak Nurjaya yang juga mengabdikan hidupnya untuk anak anak ini, dia tidak meminta beras, uang, atau hal lain yang tanpa diceritakan sayapun tahu mereka membutuhkan.

Pesan itulah yang ingin saya bagi ke anda, sudilah kiranya anda mampir sebentar saja, mensucikan hati dan jiwa yang kadang selalu terasa dahaga tak terkira.. mereka pasti menyambut bahagia dengan penuh doa…

Yayasan Yatim Piatu Al Ma’unah
Jln Pitara Raya no 41 Sengon, Pancoran Mas Depok
Bpk Nurjaya S. Ag
021 70240607
021 70608887

Dari Jendela inilah anak anak itu menatap harapan mereka ke depan..

posted under Cerita | No Comments »

Berbagi..

Maret29

Dalam tayangan di sebuah stasiun televisi swasta nasional, setiap aja bencana biasanya pasti ada ajakan untuk menyumbang korban bencana. Beberapa waktu lalu saya ingat sekali ada sebuah acara penggalangan dana untuk bencana gempa di Cianjur. Menurut saya tentunya tidak ada yang salah dengan acara ini, apalagi memang di stasiun TV itu tertulis dalam running text-nya bahwa bantuan masih banyak dibutuhkan dan banyak yang belum sampai. Hanya saja saya pribadi merasa ada yang sesekali membuat saya agak berfikir karena sang pembawa acara berkali kali bertanya : “mau menyumbang berapa?”, tentunya ini bukan pertanyaan yang salah, karena tujuan acara ini adalah begitu mulia yaitu penggalangan dana (kalau tujuannya adalah penjualan buah pasti pertanyaannya akan menjadi “mau berapa kilo?” :) ). Jawaban yang masuk baik via telepon ataupun hadirin yang ada distudio sana pun beragam, mulai ratusan ribu, jutaan, puluhan juta, ratusan juta bahkan milyaran baik dari pribadi ataupun institusi. Angka yang fantastis dan mencerminkan bahwa sebenarnya bangsa kita adalah sungguh sungguh bangsa yang peduli sesama (bahkan ternyata banyak orang kaya di Indonesia terbukti ada pribadi yang menyumbang sampai 20 Milyar rupiah).

Tiba tiba saya teringat dengan kedatangan 3 orang kestudio kami beberapa bulan lalu. Mereka adalah perwakilan dari Ladies Wear Department dari sebuah pusat perbelanjaan terkemuka di Jakarta, datang membawa beberapa kardus besar berisi pakaian layak pakai untuk disumbangkan untuk Delta berbagi cinta. Pada saat saya bertanya, bagaimana ini dikumpulkan, mereka bilang ini adalah agenda tahunan (ada atau tidak ada bencana), dan sebelum bencana terjadi mereka sudah mengumpulkan pakaian ini, yang tujuannya diberikan kepada yang lebih membutuhkan. Dalam bayangan saya, pakaian layak pakai ini datang dari para karyawan/ti yang mungkin belum sanggup jika harus menyumbang jutaan bahkan milyaran rupiah. Mereka mungkin saja belum memiliki rumah, tinggal masih mengontrak, kekantor masih naik kendaraan umum dan lain lain… Tapi intinya adalah, mereka mengumpulkan ini sebagai agenda tahunan, ada atau tidak ada bencana, dan mereka pasti melakukannya dengan setulus hati, tanpa mengharapkan sebuah publikasi, mereka pun tidak menyangka bahwa kami pun meminta mewawancara mereka selama 3 menit saja diradio sebagai ungkapan terima kasih.

Saya pun jadi teringat lagi dengan seorang pensiunan guru yang menitipkan sejumlah uang kepada saya untuk disumbangkan ke para korban gempa, karena beliau yakin saya yang mungkin dimata beliau mewakili radio Delta bisa menyampaikankan ke pihak yang berhak. Jumlahnya pun lagi lagi jauh dari hitungan juta apalagi milyar. Kembali lagi saya jadi teringat sebuah ajaran dalam agama saya, bahwa jika kita ingin beramal, kalau bisa tangan sebelah kita pun tidak perlu mengetahui, dan ini mengingatkan saya akan sebuah nilai ketulusan yang tergambar dari teman teman karyawan sebuah Ladies Wear Departement tadi. Tanpa mengurangi rasa kagum dan hormat saya kepada orang orang yang menyumbang via manapun , diliput ataupun tidak oleh media massa apapun, saya pun meyakini bahwa, yang Di Atas pun pasti akan menilai apa yang mereka berikan menjadi Milyaran atau bahkan Trilyunan ataupun lebih karena sekali lagi mereka memberikan itu dengan ketulusan hati. Insya Allah..

posted under Cerita | 6 Comments »

Andrea Hirata – One Hour on Thursday 99,1 Delta FM -

Maret29

Hari itu adalah kali kesekian saya bertemu Andrea Hirata, setelah sebelumnya bertemu di acara nonton bareng film Sang Pemimpi, dan juga di studio Metro TV untuk  acara Kick Andy Heroes. Di kesempatan terakhir itulah saya mengajak Andrea untuk hadir di siaran saya untuk 102 One Hour on Thursday.

Setengah jam sebelum on air, Andre sudah hadir distudio, padahal hari itu adalah hari pertandingan antara Persib vs Persija dimana letak studio kami berdekatan dengan kawasan Gelora Bung Karno. Ternyata Andrea hadir ke studio menggunakan jasa ojeg, karena mobilnya yang berplat D kena timpukan supporter Jakmania sehingga terpaksa harus ditinggal di kawasan Kuningan, dari sanapun dia bercerita tidak ada taxi yang mau mengantar ke Ratu Plaza karena takut akan terjadi kerusuhan.

Andre hadir kelihatan begitu casual, kemeja putih, jeans dan tidak ketinggalan topi ala pelukis yang katanya mengingatkan dia pada seseorang yang katakanlah Bapak asuhnya pada saat dia menimba ilmu di Prancis, sosok itu terlihat begitu tenang saat menghadapi kanvas-nya dan itulah yang membuatnya memiliki koleksi topi itu.

Kecintaannya pada Bu Mus sang guru SD yang senantiasa ada di hatinya tercermin pada saat kami memutar suara Bu Mus yang memang kami rekam untuk menceritakan sosok Andrea di matanya, Bu Mus bercerita hal yang Andrea sudah tidak ingat lagi yaitu saat Andrea menimpuk sarang lebah dan harus menceburkan diri ke sumur untuk menghindari kejaran lebah. Air mukanya pun berubah haru saat Bu Mus berpesan agar Andre tetap menjadi orang yang tidak lupa dengan Allah SWT dalam menjalani harinya, pesan itu juga yang Andre dapat saat terakhir berjumpa Bu Mus saat pemutaran layar tancap film Sang Pemimpi di Belitung, bahkan saat kami memutar lagu Restu Cinta dari Gigi, Andrea juga tampak haru.

Kesuksesan buku Laskar Pelangi diceritakan Andre bukan hanya jutaan eksemplar yang sudah dicetak di Indonesia tapi juga diterbitkannya buku ini dalam edisi Bahasa Inggris dan kabar baiknya sudah ada agen di Cina yang akan menterjemahkan novel ini dalam bahasa setempat, ironisnya sebanyak tiga kali lipat dari jumlah eksemplar resmi versi bajakan Novel ini juga beredar di Indonesia. Bahkan lebih dari sekali Andrea ditawari buku bajakannya sendiri di beberapa kawasan di Jakarta, yang di tawarkan dengan harga Rp. 25.000,- saja.

Menjadi seorang publik figur yang dengan label pembicara termahal untuk kategori penulis buku diakui Andre itu berawal dari ketidaksengajaan, yang tadinya dimaksudkan untuk menolak tawaran menjadi pembicara  karena tidak enak hati ke pihak pengundang sehingga menawarkan harga tinggi, ternyata malah disanggupi. Tapi menurut Andre yang harus diingat adalah dia juga seringkali hadir berbicara di sekolah atau perguruan tinggi tanpa bayaran.

Bukanlah hal yang selalu menyenangkan menjadi sorotan publik, kerap kali ada info kalau Andrea tidak suka diusik soal keluarga, biasanya kemudian publik akan mulai menghubungkan dengan kenyataan status Andrea yang konon pernah menikah.  Tapi pada saat kami menanyakan apakah benar karena ketenarannya sekarang itu dia harus menghadapi banyak hal seperti salah satunya rumah keluarganya di Belitong yang selalu dikuntit orang, bahkan sampai ada yg memanjat pohon untuk melongok kedalam, Andrea membenarkan, dan dengan kerendahan hati dia meminta agar sekiranya bisa dimengerti keadaan orang tuanya yang sudah berumur dan membutuhkan ketenangan karena dalam kondisi sakit. Andrea mengajak media atau siapapun yang ingin bertemu dengan keluarganya agar sebelumnya bisa berkomunikasi dengan dia sehingga bisa diatur di waktu dan tempat yang lebih baik.

Apakah kemudian ketenaran ini juga mengubah sosoknya menjadi kebanyakan publik figur lain?, Andrea bercerita kalau sesekali dia pernah keluar rumah menggunakan jibab ataupun masker yang biasa digunakan oleh perawat atau penderita flu.

Kesehariannya Andrea mengaku tidak memiliki dompet, dia menaruh uangnya dalam tas, tidak punya kartu kredit dan bahkan  menggunakan kartu prabayar untuk keperluan telekomunikasinya. Akankah ini berubah setelah dua novel terbarunya di launch dalam waktu dekat?  Buat saya Andrea adalah sosok yang sederhana dan selalu mencoba menebar virus untuk menulis seperti yang dia lakukan setelah siaran kami usai.

Soes Week Di NCC

Nopember12

Terinspirasi dari menonton Film ‘This Is It” Michael Jackson, anakku si ganteng tergila gila dengan salah satu lagunya : Black Or White.

Maka jadilah sus ini yang tipsnya pada saat mencetak kulitnya adonan putih dan coklat digabung yang sebelumnya masing masing dimasukan ke piping bag, dan kembali disatukan dalam piping bag besar.

Isinya adalah ganache coklat yang ditambah irisan strawberry segar untuk memberikan variasi rasa.

Resepnya :

Adonan Kulit menggunakan resep dasar sus NCC

Adonan Dasar Kulit Sus

Bahan:
200 ml air
125 gr Margarine
1 sdm gula pasir
150 gr tepung terigu
4 btr telur

Cara membuatnya:

  1. Masak air, mentega dan gula hingga mendidih.
  2. Masukkan tepung terigu, aduk cepat hingga kalis, angkat, dinginkan.
  3. Masukkan telur satu persatu sambil dikocok hingga rata.
  4. Adonan dibagi dua, satu bagian ditambah coklat bubuk kurleb 30 gram, masing masing dimasukan ke plastik segitiga
  5. Dua plastik segitiga yang sudah berisi adonan, dipotong ujungnya dan kembali dimasukan  kedalam plastik segitiga, semprotkan diatas loyang yang sudah dioles mentega dan ditabur tepung.
  6. Cetak dan Panggang dengan suhu tinggi

Isi sus

Bahan

Whipped Cream cair 300ml

Coklat Masak 200 gram, dicairkan dengan cara di tim

Strawberry Segar dipotong kecil kecil

Cara membuat;

Kocok whipped cream sampai kaku, campurkan coklat cair, kocok sampai rata, tambahkan strawberry segar dan isikan ke dalam sus.

happy baking ! :)

KLA Returns…

Juni15

Saya bukanlah pengamat musik, tapi cuma seorang penikmat musik, dan buat seorang penikmat musik rasanya wajib dong datang ke konser KLA Returns, yang kemarin diselenggarakan di Ballroom XXI Djakarta Theatre 12 Juni kemarin. Saya kenal KLA pertama kali waktu SD, waktu itu lagu “Tentang Kita’ lagi top banget… bayangin…. SD…. ngerti pacaran aja belum tapi hafal mati sama lagunya….!! Makanya biar ngantuk di bela-belain deh nonton konser ini.

Pulang siaran jumat, walaupun muka udah mukabantalmodeon, teteup semangat ‘09 (bukan semangat ‘45 lagi) bareng sama Mas Budi Utomo, eksekutif produser untuk Deltanesia, langsung menuju ke venue, ambil ID di Mbak Ewie *thank you Mbak :) * , KLA sudah membuka konsernya dengan Romansa , wah udah rame banget tuh didalem, surprise juga melihat deretan bangku hampir penuh, walaupun harga tiket dijual cukup mahal Rp. 400.000,-. Secara hal ini sempet diragukan beberapa teman, bakal rame engga yah konsernya.. dan ternyataaaa… tunggu dong ceritanya sampe selesai.. :)

O iya, salah seorang sahabat Delta yg membeli tiket di kami juga sempat menanyakan seperti apa sih ballroom Djakarta Theatre itu, sepertinya dia takut kalau nanti akan seperti nonton konser konser musisi/artist import di JCC atau Gelora. Saya cuma bisa bilang : “tenang aja deh… pasti nyaman…”

Dan terbukti penonton cukup nyaman untuk menikmati konser ini, didukung dengan visualisasi yang manis dari setiap lagu yg dinyanyikan, suguhannya terasa pas banget. Gedung yang berkapasitas 1000 orang ini pun terasa cukup ramai, tapi tentunya tidak berlebih juga. Smoking area tersedia di sisi kiri belakang, dan kita pun bebas memesan beverage di kanan belakang.

Saya sendiri lebih memilih deretan bangku paling belakang sambil mengamati suasana secara keseluruhan, (sebenernya sih didepan emang udah penuh juga, wong salah sendiri datengnya telat…:p)

Selesai Romansa, Saujana, Waktu Tersisa -pun dilantunkan, wah… waktu tersisa bener bener indah didengar, dibandingkan waktu lagu ini dinyanyikan KLA di Gedung Kesenian secara akustik (di youtube juga ada tuh videonya) saya pribadi lebih suka yang ini. Hey … dan akhirnya lagu terbaru dari KLA yang berjudul : Someday. Sebelum lagu ini dinyanyikan Katon sempat bercakap cakap dengan penonton tentunya dengan gaya bertutur yang sangat “KLA”, dia bilang tidak mau menjadi musisi kalau tidak lagi berkarya. Lagu Someday – pun dilantunkan dengan visualisasi video klip terbarunya yang bernuansa futuristik, (jadi inget, waktu video klip ini dibuat, besoknya pagi pagi KLA diundang di acara 1st anniversary-nya Deltanesia). Ada nuansa rock, dan rap dalam lagu ini, tapi KLA memang adalah KLA yang selalu mencipta nada nada yang menurut saya tidak pernah terasa ‘basi’, belum lagi kekuatan lirik dari semua lagu KLA yang juara banget deh… kayaknya sih sampe sekarang belum ada yang menandingi deh..

Selesai lagu Someday , lagu yg diambill dari album ke 8 mereka di tahun 97 Sintesa pun dinyanyikan, Katon sempat bercerita kalau sebenarnya KLA sangat total dalam mencipta lagu ini, tapi ternyata album ini gatot, alias gagal total. Yah….kalo pendapatku sih sebenernya engga ada yang salah sama lagu ini, bahkan lagu ini kalau dibandingkan dengan lagu-lagu indonesia yang direlease di tahun yang sama jauh lebih ‘berisi’, mungkin yang salah adalah kenapa lagu ini direlease pada saat krismon, mungkin orang orang udah pusing sama PHK, jadi musik diprioritas ke sekian, (barang kali loooh, secara saya bukan pengamat ekonomi juga… tapi waktu itu ngalamin krismon juga sih sampe bank tempatku bekerja harus merger…:(, jadi bagus atau tidaknya musik buat saya waktu itu jadi prioritas ke sekian….alias musik apa aja juga didenger kaleee….yang penting bisa bikin happy).

Lepas lagu ini, kemudian giliran lagu Pasir Putih yang dulu di release tahun 92. Kemudian saya bilang ke Mas Budi dan Nadia, pokoknya kalo habis lagu ini yg dinyanyiin lagu Semoga , gw bakal teriak deh… dan ternyataaaaaa…. memang feeling saya selalu so good.. denting piano dari Adi memulai lagu Semoga pun dimainkan, dan jadilah saya beneran menjerit, penonton pun engga tahan untuk ikut bernyanyi dari awal sampai akhir…. Selepas lagu ini, kita kayak di hajar habis-habisan sama lagu-lagu Nostalgia KLA lainnya, seperti: Rentang Asmara , (posisi Siska digantikan oleh Sierra). Nah feeling saya bilang pasti habis lagu ini ada lagu manis lagi, kayaknya i really need a cup of coffee… sambil berjalan ke arah kanan, eh sepertinya saya melihat seseorang dalam kegelapan, secara orangnya juga gelap jadi musti dua kali menoleh :) ), betul ternyata ada Andre Hehanusa yg lagi berdiri sambil senyum-senyum sama pasukan-nya… jadilah kita ngobrol sebentar, menikmati kopi, sambil mendengar lagu… Jogja, Jogja, Jogja ……… O iya saya juga sempet tanya pendapat dia soal konser ini, dia bilang sih, secara umum ok, dan setuju kalo visualisasi setiap lagunya menambah manis penampilan KLA, tapi tidak berlebih. Buat para pecinta KKEB , jangan bilang-bilang yaaaahh.. katanya Andre juga mau menggelar konser juga lhooooo…..

Huuuh… puas sama Jogjaaaa? bellluum… ada lagu Terpurukku Disini, Meski Tlah Jauh, dan Laguku .. *ya sedikit bergoyang dangdut deh*, Gerimis, salah satu lagu tadi Lilo sempat nyanyi sendirian diiringi teriakan dari Andre dari belakang “Lilo I luv Yooouuuu!! “… dan akhirnya….. Bulan Merah Jambu.. upps maksudnya Tak Bisa Kelain Hati(jangan diterusin sambil diplesetin ya… tapi bisa kelain body… iih basiiii deeeyy. Kayaknya strateginya memang kita sengaja dibikin orgasme habis habisan (hush jangan mikir yang lain2 dulu ya…. itu istilah kita kita para penikmat musik, kalo denger musik musik indah), karena lagu lagu manis dinyanyiin secara beruntun. Oh iya.. sempet ketemu Mas Kadri juga *thank u for the CD :) *, didengerin deeeeh lagunyaaaa….! Mas Kadri rupanya ‘terpaksa’ duduk manis yah… walaupun udah gatel pengen berdiri juga….he he he

Akhirnya konser diakhiri dengan lagu Rentang Asmara , Katon meminta seluruh penonton buat berdiri, (kalo kita sih udah berdiri dari tadi kalee…..mana enak nonton konser musik begini duduk maniiisss). Walopun KLA meng-klaim udah nyanyiin 16 lagu, (saya sih engga ngitungin boooo..! mana berasa… enak enak semua gilaaaaa…!!), dan Katon udah say thanks dan ritual perkenalan setiap pemain musik sudah dilakukan, tapi nampaknya penonton tetep malas beranjak pergi, berharap ada additional song gitu? engga la yaw….

Intinya…that was a great nite, great show, bukan cuma nostalgia, tapi pembuktian bahwa Indonesia masih memiliki musisi musisi berkualitas baik dari segi musik, lirik…. Bravo KLA, semoga seperti yang Katon bilang : “‘Semoga… Semoga KLA bisa lebih dari 10 tahun lagi bisa terus ‘menangis lagi’. Matur nuhun semoga Tuhan membalas,”

Satu lagu yang bikin sempet saya ‘menangis’ :

Surya terpancar dari wajah kita
Bagai menghalau mendung hitam tiba

Sekejap badai datang
Mengoyak kedamaian
Segala musnah
Lalu gerimis langit pun menangis

Kekasih, andai saja kau mengerti
Harusnya kita mampu lewati itu semua

Dan bukan menyerah untuk berpisah …

Sekejap badai datang
Mengoyak kedamaian
Segala musnah
Lalu gerimis langit pun menangis

Kekasih, andai saja kau mengerti
Harusnya kita mampu lewati itu semua
Kekasih, andai saja kau sadari
Semua hanya satu ujian ‘tuk cinta kita

Dan bukan alasan untuk berpisah …

*Coba bayangin.. kalo nulis lirik aja begini…. gemana waktu mereka nge-gombalin pacarnya ya? bukan termehek-mehek lagi kali…*
Oh iya Farhan, Heka, you guys really missed the great show, but…… MMS- gw udah nyampe kaaaaannn? hua hua hua….:p

posted under Cerita, Musik | 1 Comment »

My 1st Japanase Cheese Cake

Januari29

I was opened up my refrigerator last nite, and oops.. I found cheese cream which almost expired. Hm.. mau dibikin apa ya… ada jeruk lemon, whipped cream (sayangnya bukan Baker Mix, secara susah banget ya cari merk itu ☹ ) dan selai apricot yang waktu itu beli di Titan dan belum sempet di-apa2 in., jadi teringat sama satu cheese cake yang lembut dan yummy banget.. dulu sih ada yang di Singapore yang .. hmm lupa apa merknya, sekarang sih udah ada di mall taman anggrek kayaknya…

Buka buka kotak Pandora, dapet deh resep dari milis NCC, tapi..wah harus pake loyang bong-pas (bongkar pasang), sementara loyang bongpas ku diameternya bukan 22 cm seperti yang di resep… baca baca lagi..ternyata my beloved friend – dan suhu terbaik aku – almh Ruri pernah nulis di blognya, kalo ternyata Japanese cotton cake ini ternyata bisa dibalik… ( thanks a lot Mbak Ruri, I’m sure you already in heaven now!)

Yah…. secara ritual jenis cheese cake beginian` harus di au bain marie alias di tim, dan si otang (Oven Tangkring) tercintaku (yang usianya as old as my Grand Mom) engga gede2 amat ukurannya, butuh a lot of efforts to make this cake yang tadinya cuma ada dikhayalan gw beberapa hari ini, come true…Ga takut sama “Kutukan Japanese Cheese Cake” yang selalu dateng ke para pemula..???….. yaaah.. sapa takuuuutt!

Berbekal 1001 tips soal au bain marie, yang kupelajari dari suhu suhu terbaik NCC, Uni Dewi, Jeng Riana, Jeng Nadrah… such as…. Loyang bawahnya di kasih alumunium foil dulu (daripada bocor), terus… menuang air panasnya diakalin pake poci yang suka dipake buat nge-tea pagi2 (karena lehernya jenjang kayak angsa yang cantik),.. dan posisi si otang yang udah diganjel masih aja keganjenan agak miring, belum lagi my oven termometer yang mendadak kehilangan kejantanannya… (masa angkanya stabil di 250 derajat bo……!), akhirnya main feeling aja lah hay….tunggu punya tunggu, resah gelisah (halaaahh.. lebay amad seeeeh).. akhirnya sesuai petunjuk resep setelah kurang lebih 75 menit….ku intip my beloved otang….sambil mata kreyep2.. eh… jadi juga coy, tapi…(teteuub ada tapinyah) bingung juga sih, kalo jadinya kayak gini… termasuk kena kutukan JCC ato engga ya…..nah paginya masih penasaran sama si JCC ini… buka2 kotak Pandora lagi…ternyataaaaaaaaaaaa ada tips yang lupa gw praktekin euy…. Ini dikutip dari email Mbak Fatmah Bahalwan, Guru Besar Natural Cooking Club, (*biar ga lupa lagiiiiii..*)

MENGENAL COTTON CAKE

Membaca diskusi tentang Cotton Cake, jadi inget Yongky Gunawan-pakar kuliner yang suka sekali memberi nama cake dengan sebutan yang cantik dan berbeda-beda untuk cake yang sama dengan sedikit pengembangan pada resep. Beliau ini memang luar biasa. Cotton Cake, atau kue kapas ini sebetulnya adalah sejenis Taiwan Cake, atau malah boleh dikatakan “ya, emang Taiwan Cake”. Cara pembuatannya serupa tapi tak sama dengan Chiffon Cake. Bila Chiffon memadukan adonan pasta dengan adonan putih telur kaku, maka pada Cotton Cake pasta dibuat dari adonan yang dimasak, persis teknik membuat adonan cheese pada Japanese Chees Cake (JCC), dengan adonan putih telur kaku.

Kunci sukses pembuatan Cotton Cake adalah:

1. Pengocokan putih telur yang harus sampai kaku tapi tak boleh sampai kering pecah. Ini yang sering kita sebut sebagai Soft Peak. Yaitu putih telur kaku dan masih berekor bila ujung mixer diangkat.
2. jaga agar adonan cair (kuning telur, susu dan bahan lain) tetap hangat pada saat putih telur dicampurkan kedalam adonan.

Apa yang terjadi bila adonan putih telur terlalu kering kaku???…..Cotton Cake akan mudah pecah permukaannya. Kedua, cotton cake akan mengembang saat dipanggang dan mengempis saat dikeluarkan dari oven.

Apa yang terjadi bila adonan cair dingin???……begitu dicampurkan putih telur, adonan akan mencair, tidak menjadi adonan sponge yang membal. Otomatis cotton cake akan bantat keras. Lalu bagaimana menjaga agar adonan cair tetap hangat sementara mengocok putih telur???…..rendam saja pancinya diatas air panas. Ingat adonan cukup hangat, bukan ‘panas’.
Tekstur Cotton Cake sangat halus dan lembut, mirip dengan chiffon cake. Bila ditekan perlahan cotton cake terasa ‘membal’ seperti sponge cake. Karena dimatangkan dengan Au Bain Marie (Steam Bake), maka akan didapat cake yang lembab, lembut sekali dengan permukaan kering tapi bagian bawah tetap lembut tak ada gosong sama sekali.

Bila pada teknik Bain Marie umumnya menggunakan air panas, pada pemanggangan cotton cake justru menggunakan air dingin biasa. Suhu oven diperlukan normal saja sekitar 180’C.
Ketika dikeluarkan dari oven, permukaan cake akan terasa keras. Diamkan sebentar maka dia akan lembut kembali.

Tapi.. jadinya yang bener yang mana dong, au bain marie dengan air suhu normal atau udah panas nehhh…?

posted under Cake | 2 Comments »

Studio dan Kamar Mayat

Oktober29

Sekali di Udara, Tetap di Udara.

Mungkin kata itu anda kenal sebagai semboyan RRI. Buat anda mungkin itu adalah slogan semata, buat kami orang-orang yang berkecimpung di dunia radio mungkin kami memaknainya sedikit lebih dalam. Tapi apakah anda tahu darimana dan bagaimana semboyan itu bisa ada. Siapakah yang pemekik semboyan itu? apakah ada hubungannya dengan Teks Proklamasi yang sekarang kita dengar di monas dan beredar dimana mana itu terasa begitu senyap, tidak ada kobaran semangat Bung Karno yang berapi-api…

Siapakah Dokter Karbol? Bagaimana rasanya siaran didekat kamar mayat yang setiap pulang siaran harus merendam pakaian selama 7 hari, baru bau nya hilang?

Bagaimana seorang Jusuf Ronodipuro, Bapak Radio Indonesia harus menanggung cacat seumur hidupnya karena memperjuangkan agar pekik proklamasi terdengar diluar negeri? Dan bagaimana beliau diselamatkan oleh Puccini?

Bagaimana juga sang Pahlawan ini menghabiskan sisa hidupnya seolah sebagai seorang pesakitan yang sepertinya tidak lagi bangsa ini menghiraukannya…

Dan sebenarnya.. siapakah yang membawa Secarik Teks Proklamasi yang begitu berharga kepada Jusuf Ronodipuro untuk dibacakan dan seluruh dunia tahu bahwa Indonesia telah merdeka? Des Alwi?

Inilah obrolanku di Chill Out Friday, edisi 22 Agustus 2008 bersama Louisa Tuhatu, wanita yang pernah mendampingi seorang sejarawan besar pada masa masa sebelum akhir hayatnya.

Louisa Tuhatu, berbagi untuk kita, sepenggal sejarah yang sangat berarti tapi mungkin anda belum mengetahui.

Setelah mendengarkan ini… mudah mudahan kita bisa memaknai lebih dalam ” Sekali diudara, tetap di udara…!!”

posted under Cerita | 2 Comments »

In Memoriam, Aki penjual Mie Jawa di Buncit.

Oktober29
My Favourite...

My Favourite...

Bakmi Jawa, salah satu makanan favoritku apalagi yang dimasak asli masih pake arang.
Di Buncit, tepatnya jalan margasatwa sebelah salah satu showroom mobil, dimana kalo siang jadi bengkel, ada salah satu tempat menjual Mie Jawa Favoritku.

Favoritku Mie Rebus, ditambah beberapa potongan cabe rawit, panas, pedas…hmmm…juga secangkir teh poci dengan sedikit gula batu.

Memang sih harus penuh perjuangan nunggunya, karena Aki (Aku memanggil dia Aki, asalnya dari bahasa sunda yang berarti Bapak Tua atau Kakek), lelaki tua yang perawakannya kurus, kulitnya gelap seperti kebanyakan orang jawa, dan sudah mulai kehilangan banyak giginya, harus memasak mie pesanan orang-orang satu persatu. Tapi dia masih kuat memasak 100 mangkuk lebih untuk satu malam. Jangan harap bisa kebagian kalau udah jam 10 malam sampe disini.

Singkat cerita karena intensitas yang lumayan sering, aku jadi sering ngobrol dengan Aki. Bahkan aku pernah iseng memperhatikan Aki masak sambil ku-foto alakadarnya pake kameraphone. Kadang Aki juga makan bersama kita, walau beda meja, karena mungkin dia memang belum makan malam.

Pernah sepulang siaran dan karena macet, hampir jam sebelas aku makan sendirian disini. Alhamdulillah masih kebagian, karena mungkin saat itu hujan, jadi orang males keluar rumah.

Aki cerita bahwa dia kepingin sekali punya gerobak sendiri, katanya sehabis lebaran mudah-mudahan dia punya gerobak jadi bisa jualan sendiri. Aku baru tau teryata Aki statusnya masih kerja sama orang lain. Dia tau persis berapa omset bersih dan kotor dari bisnis ini, engga heran karena Aki yang mengerjakan segala sesuatunya dari mulai belanja bahan baku, meracik bumbu, memasak, sampe terima pembayaran. Sehari hari, Aki cuma dibantu anaknya saja yang lelaki, ada juga seorang lelaki muda, mungkin masih keluarganya juga. Aki juga pernah memperlihatkan kartu nama beberapa orang yang ingin mengajak Aki berbisnis dalam hal ini jualan Mie Jawa. Aki juga cerita kalau dia lagi menabung supaya habis lebaran dia bisa jualan Mie Jawa sendiri di daerah lenteng agung (wah deket tempatku dong, aku udah seneng aja waktu itu). Singkat cerita, beberapa teman sudah kuajak tempat ini atau bahkan cuma kuceritain, sampe akhirnya mereka terbujuk untuk coba Mie Jawa si Aki.

Selepas libur lebaran, aku kangen juga makan masakan Aki.
Tapi, sampai disana aku engga melihat si Aki, apa dia sakit? pikirku… Ada seorang wanita yang belum pernah kulihat sebelumnya, Anak si Aki yang biasanya membuatkan minuman justru yang memasak, juga seorang lagi wanita muda, sepertinya sih teman dekat anak Aki.

Aku langsung tanya soal Aki, karena aku mau ber-minal aidin dengan Aki.
Jawabannya… membuat aku shock…. Aki sudah meninggal dunia…

Sebelum lebaran ketika sedang mencari makan sahur dia dan anaknya menyebrang jalan, seorang lelaki yang mengenderai motor dalam keadaan mabuk dibulan suci telah menabrak Aki, sampai kaki Aki patah! Aki sempat pulang dan berobat di Sukabumi, tapi Allah SWT mungkin memilih Aki untuk istirahat selamanya.. daripada memasak mangkuk demi mangkuk Mie Jawa.. dan berangan untuk punya gerobak sendiri….

Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun… Selamat Jalan Aki..Semoga Tenang disisi-Nya.
Aki… aku belum sempat bertanya, siapa nama panjang Aki..:(

Selamat Jalan Aki..

Selamat Jalan Aki..

posted under Cerita | 2 Comments »

Ya, Saya sudah pernah minum Kopi Luwak

September20

Kalo pernah nonton film Bucket List yang dibintangi oleh Morgan Foreman dan Jack Nicholson (beberapa shootnya bisa liat di Youtube deh) pasti inget banget bahwa kopi luwak ini menjadi perbincangan yang cukup dominan. Ternyata bukan cuma difilm ini kopi luwak sempat muncul, beberapa film sepeerti serial tv lain juga sempat memunculkan kopi luwak ini.

Kopi ini menjadi mahal karena memang cukup sulit didapat, karena mengutip dari wikipedia : Kopi Luwak adalah jenis kopi dari biji kopi yang telah dimakan dan melewati saluran pencernaan binatang bernama luwak. Kemasyhuran kopi ini telah terkenal sampai luar negeri. Bahkan di Amerika Serikat, terdapat kafe atau kedai yang menjual kopi luwak (Civet Coffee) dengan harga yang cukup mahal. Kopi yang dikais dari kotoran luwak ini bisa mencapai harga AS$100 per 450 gram. Hanya saja kebenaran kopi yang dijual adalah benar-benar kopi luwak masih dipertentangkan.

Kemasyhuran kopi ini diyakini karena mitos pada masa lalu, ketika perkebunan kopi dibuka besar-besaran pada masa pemerintahan Hindia Belanda sampai dekade 1950-an, di mana saat itu masih banyak terdapat binatang luwak sejenis musang.

Binatang luwak senang sekali mencari buah buahan yang cukup baik termasuk buah kopi sebagai makanannya. Biji kopi dari buah kopi yang terbaik yang sangat digemari luwak, setelah dimakan dibuang beserta kotorannya, yang sebelumnya difermentasikan dalam perut luwak. Biji kopi seperti ini, pada masa lalu sering diburu para petani kopi, karena diyakini berasal dari biji kopi terbaik dan difermentasikan secara alami. Dan menurut keyakinan, rasa kopi luwak ini memang benar benar berbeda dan spesial dikalangan para penggemar dan penikmat kopi.

Namun binatang Luwak saat ini sekarang sukar untuk ditemukan. Dagingnya yang dipercaya dapat mengobati penyakit Asma membuat hewan ini terus diburu. Disayangkan kenikmatan kopi yang berasal dari memungut biji-biji kopi dari kotoran Luwak hanya tinggal mitos.

“Kopi Luwak” sekarang telah menjadi merek dagang dari sebuah perusahaan kopi. Umumnya, kopi dengan merek ini dapat ditemui di pertokoan atau kafe atau kedai seperti di Mall Atrium di daerah Senen , atau Mall Ciputra, Grogol, Jakarta yang terdapat Cafe “Kopi Luwak”. Namun belum tentu racikan kopi yang dijual disana benar-benar berasal dari Luwak atau tepatnya “kotoran” Luwak.

Mahalnya memang lumayan deh karena satu kilogramnya kalo diluar Indonesia bisa mencapai diatas Rp. 5 juta,-

Dan sebagai warga negara – yang seharusnya berbangga hati dong – dari penghasil kopi ini senangnya dapat kesempatan mencoba kopi ini walaupun waktu minumnya jangan pernah ngebayangin mahalnya ataupun kopi ini berasal dari mananya si luwak ini…

Yang pasti kita diberi 3 jenis kopi dan kita harus meraba raba, mencium cium, merasa rasa, menebak nebak, manakah dari ketiga jenis kopi ini yang merupakan : Kopi Luwak Liar, Kopi Luwak Peternakan dan Kopi Mandheling Grade 1 Export.

Secara saya bukan penikmat kopi sejati, jadi daripada menghitung kancing saya lebih mengutamakan naluri dan insting yang saya punya. Salah satunya mencoba mencium bau dari masing-masing kopi dan mengira-ngira hmm.. si luwak habis makan apa ya… kalo kopinya baunya kayak begini :) )

Hasilnya, bisa jadi saya punya bakat jadi cenayang karena tebakannya adalah benar :)

Rasanya ?… hmm susah dilukiskan dengan kata kata.. yang pasti jauh lebih ‘kopi’ dari yang biasa saya temui.

Misinya adalah membuktikan seputar mitos apakah kopi luwak itu paling enak? 
Yang jelas dari peserta yang datang hanya 3 yang menjawab benar. Sisanya kebanyakan memilih kopi mandheling grade 1 eksport, yang harganya perkilogram hanya sekitar Rp. 50.000,-.

Terima kasih buat Kang Irfan, Mas Adi dari jalan sutera.

Yang seru (dan konyol) dari nonton konsernya Al Jarreau & George Benson. (2)

September16

Berada di deretan kursi pemegang id card ‘press’ udah tentu nyaman dong… mengutip kalimat : posisi menentukan prestasi, jadi wajar kalau teman teman press ini dapat tempat yang strategis. Barisan depan, sudah terisi, jadilah saya ambil tempat agak ke tengah.
Teman teman wartawan yang duduk di sini kelihatannya sih sudah paham banget musik jazz karena pastinya itulah yang membuat mereka ada disini (menurutku lho..).

Saat para musisi memecah keheningan dengan memulai memainkan medley potongan lagu lagu andalan Jarreau dan Benson, seperti Morning, Give Me the Night, We’re in This Love dan saya lupa apalagi, soalnya sudah keburu seneng berarti mau mulai niiihh… Sontak saja mas Agung Wahono, yang kerap dipanggil AW, temanku penyiar, penyair, produser, dan perayu ulung karena suaranya di gila-gilai para wanita di Surabaya, dan juga penikmat musik jazz sejati dari radio Delta Surabaya yang duduk selisih satu kursi dari sebelahku langsung ikut menyanyikan lirik dari lagu lagu itu.. Dan ini menarik perhatian beberapa teman wartawan yang duduk dibarisan depan kami, lantas perbincangan pun dimulai dengan : “ Suka musik jazz ya Mas…?”, Mas AW pun langsung menyahut dengan rentetan cerita soal ini (ya iya lah..penyiar ditanya…. nyerocos deh langsung :p). Ternyata teman wartawan yang bertanya itu berasal dari satu kota dengan mas AW yang juga mewakili salah satu media terkemuka di Jakarta, jadilah kemudian pembicaraan berubah laksana lagi menonton pertandingan sepakbola Persebaya vs Persija.. serasa berada ditengah tengah bonek ha ha ha…..medog bo….!

Lagu pertama yang dikumandangkan (proklamasi kali..) oleh Jarreau adalah Breezin’. Mas AW pun yang hafal mati sama lagu ini (kayaknya ini lagu andalan dia deh kalo karaokean) langsung menyanyi tanpa melewatkan satu penggal lirik pun.. dan disambut dengan pertanyaan dari teman yang baru kenal tadi “Mas ini judul lagunya apa…?”, mas AW-pun menjawab dengan lugas dan mulailah teman – teman itu menulis kebetan dihandphone masing masing bakal nulis liputan nanti. Lagu lain pun dinyanyikan, Your Song, We’re in This Love.. dst.. dst.. dan ternyata pertanyaan “Ini judul lagunya apa mas?” masih berlanjut terussss… Mas AW sih dengan senang hati memberikan penjelasan bukan cuma judul tapi ditambah dengan informasi tambahan seperti yang biasanya terdapat pada detail info di i tunes seperti : lagu ini berasal dari album yang mana, tahun berapa dsb… Wah udah kayak jadi Denny Sakrie dadakan nih :D . Pembicaraan makin seru karena sesekali ditimpali oleh teman wartawan dibarisan belakang kami yang ilmu musik jazz-nya lumayan canggih juga.

Perkara tukar menukar informasi dalam melakukan tugas peliputan adalah hal yang sangaaaaatt wajar dilakukan oleh para press ini dengan tujuan saling menambah info yang bisa mempercantik hasil liputannya nanti. Bahkan dulu waktu masih suka liputan kriminal yang notabene kita harus on time sampe di TKP (tempat kejadian perkara) yang venue-nya engga pernah pake undangan atau press conference–pun kerap kali dilakukan buat reporter yang datengnya telat walopun udah bela-belain naek ojeg buat sampe ke TKP. Musik jazz memang belum tentu disukai oleh teman teman wartawan ini. Tapi kok rasanya aneh juga ya… kalo memang sama sekali engga tau kenapa engga cari tau dulu sebelum nonton. Toh Mas Denny Sakrie beneran yang pegang kamus berjalan soal referensi musik apapun udah menuliskan diforum salah satu situs dan sudah ditambah sebuah saran “ Buat yang mau nonton Al Jarreau dan George Benson, baiknya baca yang ini dulu”, yang isinya ulasan soal album ‘Givin’ it Up’ yang sebenernya sudah dirilis dari tahun 2006 ini bisa didapat dengan mudahnya yaitu dengan sedikit melakukan ritual googling.

Dan pertanyaan yang menurutku paling lucu adalah, pada saat George Benson menyanyikan lagu yang super duper kondang yang membuat hampir seluruh penonton bernyanyi adalah (apa hayoooo… tau enggaaaaaaa…?) yaitu…. : Nothing’s Gonna Change My Love for you…… sambil ikutan nyanyi (karena tau lagunya dong..)..teman baru kami ini berujar..”Oooo…. ini lagunya George Benson tohhh….”… yaolooooo…plis deh mas…………

Untungnya pada saat setelah lagu ini selesai dan dilanjutkan dengan “Greatest Love of All” yang dibawakan dengan sempurna oleh mas Benson, si mas itu engga bilang……”Lho.. ini bukan lagunya Bon Jovi ya…..?”

posted under Cerita | No Comments »
« Older Entries