Soes Week Di NCC

Terinspirasi dari menonton Film ‘This Is It” Michael Jackson, anakku si ganteng tergila gila dengan salah satu lagunya : Black Or White.

Maka jadilah sus ini yang tipsnya pada saat mencetak kulitnya adonan putih dan coklat digabung yang sebelumnya masing masing dimasukan ke piping bag, dan kembali disatukan dalam piping bag besar.

Isinya adalah ganache coklat yang ditambah irisan strawberry segar untuk memberikan variasi rasa.

Resepnya :

Adonan Kulit menggunakan resep dasar sus NCC

Adonan Dasar Kulit Sus

Bahan:
200 ml air
125 gr Margarine
1 sdm gula pasir
150 gr tepung terigu
4 btr telur

Cara membuatnya:

  1. Masak air, mentega dan gula hingga mendidih.
  2. Masukkan tepung terigu, aduk cepat hingga kalis, angkat, dinginkan.
  3. Masukkan telur satu persatu sambil dikocok hingga rata.
  4. Adonan dibagi dua, satu bagian ditambah coklat bubuk kurleb 30 gram, masing masing dimasukan ke plastik segitiga
  5. Dua plastik segitiga yang sudah berisi adonan, dipotong ujungnya dan kembali dimasukan  kedalam plastik segitiga, semprotkan diatas loyang yang sudah dioles mentega dan ditabur tepung.
  6. Cetak dan Panggang dengan suhu tinggi

Isi sus

Bahan

Whipped Cream cair 300ml

Coklat Masak 200 gram, dicairkan dengan cara di tim

Strawberry Segar dipotong kecil kecil

Cara membuat;

Kocok whipped cream sampai kaku, campurkan coklat cair, kocok sampai rata, tambahkan strawberry segar dan isikan ke dalam sus.

happy baking ! :)

Posted on Nopember 12th, 2009 by Raynia  |  No Comments »

KLA Returns…

Saya bukanlah pengamat musik, tapi cuma seorang penikmat musik, dan buat seorang penikmat musik rasanya wajib dong datang ke konser KLA Returns, yang kemarin diselenggarakan di Ballroom XXI Djakarta Theatre 12 Juni kemarin. Saya kenal KLA pertama kali waktu SD, waktu itu lagu “Tentang Kita’ lagi top banget… bayangin…. SD…. ngerti pacaran aja belum tapi hafal mati sama lagunya….!! Makanya biar ngantuk di bela-belain deh nonton konser ini.

Pulang siaran jumat, walaupun muka udah mukabantalmodeon, teteup semangat ‘09 (bukan semangat ‘45 lagi) bareng sama Mas Budi Utomo, eksekutif produser untuk Deltanesia, langsung menuju ke venue, ambil ID di Mbak Ewie *thank you Mbak :)* , KLA sudah membuka konsernya dengan Romansa , wah udah rame banget tuh didalem, surprise juga melihat deretan bangku hampir penuh, walaupun harga tiket dijual cukup mahal Rp. 400.000,-. Secara hal ini sempet diragukan beberapa teman, bakal rame engga yah konsernya.. dan ternyataaaa… tunggu dong ceritanya sampe selesai.. :)

O iya, salah seorang sahabat Delta yg membeli tiket di kami juga sempat menanyakan seperti apa sih ballroom Djakarta Theatre itu, sepertinya dia takut kalau nanti akan seperti nonton konser konser musisi/artist import di JCC atau Gelora. Saya cuma bisa bilang : “tenang aja deh… pasti nyaman…”

Dan terbukti penonton cukup nyaman untuk menikmati konser ini, didukung dengan visualisasi yang manis dari setiap lagu yg dinyanyikan, suguhannya terasa pas banget. Gedung yang berkapasitas 1000 orang ini pun terasa cukup ramai, tapi tentunya tidak berlebih juga. Smoking area tersedia di sisi kiri belakang, dan kita pun bebas memesan beverage di kanan belakang.

Saya sendiri lebih memilih deretan bangku paling belakang sambil mengamati suasana secara keseluruhan, (sebenernya sih didepan emang udah penuh juga, wong salah sendiri datengnya telat…:p)

Selesai Romansa, Saujana, Waktu Tersisa -pun dilantunkan, wah… waktu tersisa bener bener indah didengar, dibandingkan waktu lagu ini dinyanyikan KLA di Gedung Kesenian secara akustik (di youtube juga ada tuh videonya) saya pribadi lebih suka yang ini. Hey … dan akhirnya lagu terbaru dari KLA yang berjudul : Someday. Sebelum lagu ini dinyanyikan Katon sempat bercakap cakap dengan penonton tentunya dengan gaya bertutur yang sangat “KLA”, dia bilang tidak mau menjadi musisi kalau tidak lagi berkarya. Lagu Someday - pun dilantunkan dengan visualisasi video klip terbarunya yang bernuansa futuristik, (jadi inget, waktu video klip ini dibuat, besoknya pagi pagi KLA diundang di acara 1st anniversary-nya Deltanesia). Ada nuansa rock, dan rap dalam lagu ini, tapi KLA memang adalah KLA yang selalu mencipta nada nada yang menurut saya tidak pernah terasa ‘basi’, belum lagi kekuatan lirik dari semua lagu KLA yang juara banget deh… kayaknya sih sampe sekarang belum ada yang menandingi deh..

Selesai lagu Someday , lagu yg diambill dari album ke 8 mereka di tahun 97 Sintesa pun dinyanyikan, Katon sempat bercerita kalau sebenarnya KLA sangat total dalam mencipta lagu ini, tapi ternyata album ini gatot, alias gagal total. Yah….kalo pendapatku sih sebenernya engga ada yang salah sama lagu ini, bahkan lagu ini kalau dibandingkan dengan lagu-lagu indonesia yang direlease di tahun yang sama jauh lebih ‘berisi’, mungkin yang salah adalah kenapa lagu ini direlease pada saat krismon, mungkin orang orang udah pusing sama PHK, jadi musik diprioritas ke sekian, (barang kali loooh, secara saya bukan pengamat ekonomi juga… tapi waktu itu ngalamin krismon juga sih sampe bank tempatku bekerja harus merger…:(, jadi bagus atau tidaknya musik buat saya waktu itu jadi prioritas ke sekian….alias musik apa aja juga didenger kaleee….yang penting bisa bikin happy).

Lepas lagu ini, kemudian giliran lagu Pasir Putih yang dulu di release tahun 92. Kemudian saya bilang ke Mas Budi dan Nadia, pokoknya kalo habis lagu ini yg dinyanyiin lagu Semoga , gw bakal teriak deh… dan ternyataaaaaa…. memang feeling saya selalu so good.. denting piano dari Adi memulai lagu Semoga pun dimainkan, dan jadilah saya beneran menjerit, penonton pun engga tahan untuk ikut bernyanyi dari awal sampai akhir…. Selepas lagu ini, kita kayak di hajar habis-habisan sama lagu-lagu Nostalgia KLA lainnya, seperti: Rentang Asmara , (posisi Siska digantikan oleh Sierra). Nah feeling saya bilang pasti habis lagu ini ada lagu manis lagi, kayaknya i really need a cup of coffee… sambil berjalan ke arah kanan, eh sepertinya saya melihat seseorang dalam kegelapan, secara orangnya juga gelap jadi musti dua kali menoleh :)), betul ternyata ada Andre Hehanusa yg lagi berdiri sambil senyum-senyum sama pasukan-nya… jadilah kita ngobrol sebentar, menikmati kopi, sambil mendengar lagu… Jogja, Jogja, Jogja ……… O iya saya juga sempet tanya pendapat dia soal konser ini, dia bilang sih, secara umum ok, dan setuju kalo visualisasi setiap lagunya menambah manis penampilan KLA, tapi tidak berlebih. Buat para pecinta KKEB , jangan bilang-bilang yaaaahh.. katanya Andre juga mau menggelar konser juga lhooooo…..

Huuuh… puas sama Jogjaaaa? bellluum… ada lagu Terpurukku Disini, Meski Tlah Jauh, dan Laguku .. *ya sedikit bergoyang dangdut deh*, Gerimis, salah satu lagu tadi Lilo sempat nyanyi sendirian diiringi teriakan dari Andre dari belakang “Lilo I luv Yooouuuu!! “… dan akhirnya….. Bulan Merah Jambu.. upps maksudnya Tak Bisa Kelain Hati(jangan diterusin sambil diplesetin ya… tapi bisa kelain body… iih basiiii deeeyy. Kayaknya strateginya memang kita sengaja dibikin orgasme habis habisan (hush jangan mikir yang lain2 dulu ya…. itu istilah kita kita para penikmat musik, kalo denger musik musik indah), karena lagu lagu manis dinyanyiin secara beruntun. Oh iya.. sempet ketemu Mas Kadri juga *thank u for the CD :)*, didengerin deeeeh lagunyaaaa….! Mas Kadri rupanya ‘terpaksa’ duduk manis yah… walaupun udah gatel pengen berdiri juga….he he he

Akhirnya konser diakhiri dengan lagu Rentang Asmara , Katon meminta seluruh penonton buat berdiri, (kalo kita sih udah berdiri dari tadi kalee…..mana enak nonton konser musik begini duduk maniiisss). Walopun KLA meng-klaim udah nyanyiin 16 lagu, (saya sih engga ngitungin boooo..! mana berasa… enak enak semua gilaaaaa…!!), dan Katon udah say thanks dan ritual perkenalan setiap pemain musik sudah dilakukan, tapi nampaknya penonton tetep malas beranjak pergi, berharap ada additional song gitu? engga la yaw….

Intinya…that was a great nite, great show, bukan cuma nostalgia, tapi pembuktian bahwa Indonesia masih memiliki musisi musisi berkualitas baik dari segi musik, lirik…. Bravo KLA, semoga seperti yang Katon bilang : “‘Semoga… Semoga KLA bisa lebih dari 10 tahun lagi bisa terus ‘menangis lagi’. Matur nuhun semoga Tuhan membalas,”

Satu lagu yang bikin sempet saya ‘menangis’ :

Surya terpancar dari wajah kita
Bagai menghalau mendung hitam tiba

Sekejap badai datang
Mengoyak kedamaian
Segala musnah
Lalu gerimis langit pun menangis

Kekasih, andai saja kau mengerti
Harusnya kita mampu lewati itu semua

Dan bukan menyerah untuk berpisah …

Sekejap badai datang
Mengoyak kedamaian
Segala musnah
Lalu gerimis langit pun menangis

Kekasih, andai saja kau mengerti
Harusnya kita mampu lewati itu semua
Kekasih, andai saja kau sadari
Semua hanya satu ujian ‘tuk cinta kita

Dan bukan alasan untuk berpisah …

*Coba bayangin.. kalo nulis lirik aja begini…. gemana waktu mereka nge-gombalin pacarnya ya? bukan termehek-mehek lagi kali…*
Oh iya Farhan, Heka, you guys really missed the great show, but…… MMS- gw udah nyampe kaaaaannn? hua hua hua….:p

Posted on Juni 15th, 2009 by Raynia  |  No Comments »

My 1st Japanase Cheese Cake

I was opened up my refrigerator last nite, and oops.. I found cheese cream which almost expired. Hm.. mau dibikin apa ya… ada jeruk lemon, whipped cream (sayangnya bukan Baker Mix, secara susah banget ya cari merk itu ☹ ) dan selai apricot yang waktu itu beli di Titan dan belum sempet di-apa2 in., jadi teringat sama satu cheese cake yang lembut dan yummy banget.. dulu sih ada yang di Singapore yang .. hmm lupa apa merknya, sekarang sih udah ada di mall taman anggrek kayaknya…

Buka buka kotak Pandora, dapet deh resep dari milis NCC, tapi..wah harus pake loyang bong-pas (bongkar pasang), sementara loyang bongpas ku diameternya bukan 22 cm seperti yang di resep… baca baca lagi..ternyata my beloved friend – dan suhu terbaik aku – almh Ruri pernah nulis di blognya, kalo ternyata Japanese cotton cake ini ternyata bisa dibalik… ( thanks a lot Mbak Ruri, I’m sure you already in heaven now!)

Yah…. secara ritual jenis cheese cake beginian` harus di au bain marie alias di tim, dan si otang (Oven Tangkring) tercintaku (yang usianya as old as my Grand Mom) engga gede2 amat ukurannya, butuh a lot of efforts to make this cake yang tadinya cuma ada dikhayalan gw beberapa hari ini, come true…Ga takut sama “Kutukan Japanese Cheese Cake” yang selalu dateng ke para pemula..???….. yaaah.. sapa takuuuutt!

Berbekal 1001 tips soal au bain marie, yang kupelajari dari suhu suhu terbaik NCC, Uni Dewi, Jeng Riana, Jeng Nadrah… such as…. Loyang bawahnya di kasih alumunium foil dulu (daripada bocor), terus… menuang air panasnya diakalin pake poci yang suka dipake buat nge-tea pagi2 (karena lehernya jenjang kayak angsa yang cantik),.. dan posisi si otang yang udah diganjel masih aja keganjenan agak miring, belum lagi my oven termometer yang mendadak kehilangan kejantanannya… (masa angkanya stabil di 250 derajat bo……!), akhirnya main feeling aja lah hay….tunggu punya tunggu, resah gelisah (halaaahh.. lebay amad seeeeh).. akhirnya sesuai petunjuk resep setelah kurang lebih 75 menit….ku intip my beloved otang….sambil mata kreyep2.. eh… jadi juga coy, tapi…(teteuub ada tapinyah) bingung juga sih, kalo jadinya kayak gini… termasuk kena kutukan JCC ato engga ya…..nah paginya masih penasaran sama si JCC ini… buka2 kotak Pandora lagi…ternyataaaaaaaaaaaa ada tips yang lupa gw praktekin euy…. Ini dikutip dari email Mbak Fatmah Bahalwan, Guru Besar Natural Cooking Club, (*biar ga lupa lagiiiiii..*)

MENGENAL COTTON CAKE

Membaca diskusi tentang Cotton Cake, jadi inget Yongky Gunawan-pakar kuliner yang suka sekali memberi nama cake dengan sebutan yang cantik dan berbeda-beda untuk cake yang sama dengan sedikit pengembangan pada resep. Beliau ini memang luar biasa. Cotton Cake, atau kue kapas ini sebetulnya adalah sejenis Taiwan Cake, atau malah boleh dikatakan “ya, emang Taiwan Cake”. Cara pembuatannya serupa tapi tak sama dengan Chiffon Cake. Bila Chiffon memadukan adonan pasta dengan adonan putih telur kaku, maka pada Cotton Cake pasta dibuat dari adonan yang dimasak, persis teknik membuat adonan cheese pada Japanese Chees Cake (JCC), dengan adonan putih telur kaku.

Kunci sukses pembuatan Cotton Cake adalah:

1. Pengocokan putih telur yang harus sampai kaku tapi tak boleh sampai kering pecah. Ini yang sering kita sebut sebagai Soft Peak. Yaitu putih telur kaku dan masih berekor bila ujung mixer diangkat.
2. jaga agar adonan cair (kuning telur, susu dan bahan lain) tetap hangat pada saat putih telur dicampurkan kedalam adonan.

Apa yang terjadi bila adonan putih telur terlalu kering kaku???…..Cotton Cake akan mudah pecah permukaannya. Kedua, cotton cake akan mengembang saat dipanggang dan mengempis saat dikeluarkan dari oven.

Apa yang terjadi bila adonan cair dingin???……begitu dicampurkan putih telur, adonan akan mencair, tidak menjadi adonan sponge yang membal. Otomatis cotton cake akan bantat keras. Lalu bagaimana menjaga agar adonan cair tetap hangat sementara mengocok putih telur???…..rendam saja pancinya diatas air panas. Ingat adonan cukup hangat, bukan ‘panas’.
Tekstur Cotton Cake sangat halus dan lembut, mirip dengan chiffon cake. Bila ditekan perlahan cotton cake terasa ‘membal’ seperti sponge cake. Karena dimatangkan dengan Au Bain Marie (Steam Bake), maka akan didapat cake yang lembab, lembut sekali dengan permukaan kering tapi bagian bawah tetap lembut tak ada gosong sama sekali.

Bila pada teknik Bain Marie umumnya menggunakan air panas, pada pemanggangan cotton cake justru menggunakan air dingin biasa. Suhu oven diperlukan normal saja sekitar 180’C.
Ketika dikeluarkan dari oven, permukaan cake akan terasa keras. Diamkan sebentar maka dia akan lembut kembali.

Tapi.. jadinya yang bener yang mana dong, au bain marie dengan air suhu normal atau udah panas nehhh…?

Posted on Januari 29th, 2009 by Raynia  |  No Comments »

Studio dan Kamar Mayat

Sekali di Udara, Tetap di Udara.

Mungkin kata itu anda kenal sebagai semboyan RRI. Buat anda mungkin itu adalah slogan semata, buat kami orang-orang yang berkecimpung di dunia radio mungkin kami memaknainya sedikit lebih dalam. Tapi apakah anda tahu darimana dan bagaimana semboyan itu bisa ada. Siapakah yang pemekik semboyan itu? apakah ada hubungannya dengan Teks Proklamasi yang sekarang kita dengar di monas dan beredar dimana mana itu terasa begitu senyap, tidak ada kobaran semangat Bung Karno yang berapi-api…

Siapakah Dokter Karbol? Bagaimana rasanya siaran didekat kamar mayat yang setiap pulang siaran harus merendam pakaian selama 7 hari, baru bau nya hilang?

Bagaimana seorang Jusuf Ronodipuro, Bapak Radio Indonesia harus menanggung cacat seumur hidupnya karena memperjuangkan agar pekik proklamasi terdengar diluar negeri? Dan bagaimana beliau diselamatkan oleh Puccini?

Bagaimana juga sang Pahlawan ini menghabiskan sisa hidupnya seolah sebagai seorang pesakitan yang sepertinya tidak lagi bangsa ini menghiraukannya…

Dan sebenarnya.. siapakah yang membawa Secarik Teks Proklamasi yang begitu berharga kepada Jusuf Ronodipuro untuk dibacakan dan seluruh dunia tahu bahwa Indonesia telah merdeka? Des Alwi?

Inilah obrolanku di Chill Out Friday, edisi 22 Agustus 2008 bersama Louisa Tuhatu, wanita yang pernah mendampingi seorang sejarawan besar pada masa masa sebelum akhir hayatnya.

Louisa Tuhatu, berbagi untuk kita, sepenggal sejarah yang sangat berarti tapi mungkin anda belum mengetahui.

Setelah mendengarkan ini… mudah mudahan kita bisa memaknai lebih dalam ” Sekali diudara, tetap di udara…!!”

Posted on Oktober 29th, 2008 by Raynia  |  1 Comment »

In Memoriam, Aki penjual Mie Jawa di Buncit.

My Favourite...

My Favourite...

Bakmi Jawa, salah satu makanan favoritku apalagi yang dimasak asli masih pake arang.
Di Buncit, tepatnya jalan margasatwa sebelah salah satu showroom mobil, dimana kalo siang jadi bengkel, ada salah satu tempat menjual Mie Jawa Favoritku.

Favoritku Mie Rebus, ditambah beberapa potongan cabe rawit, panas, pedas…hmmm…juga secangkir teh poci dengan sedikit gula batu.

Memang sih harus penuh perjuangan nunggunya, karena Aki (Aku memanggil dia Aki, asalnya dari bahasa sunda yang berarti Bapak Tua atau Kakek), lelaki tua yang perawakannya kurus, kulitnya gelap seperti kebanyakan orang jawa, dan sudah mulai kehilangan banyak giginya, harus memasak mie pesanan orang-orang satu persatu. Tapi dia masih kuat memasak 100 mangkuk lebih untuk satu malam. Jangan harap bisa kebagian kalau udah jam 10 malam sampe disini.

Singkat cerita karena intensitas yang lumayan sering, aku jadi sering ngobrol dengan Aki. Bahkan aku pernah iseng memperhatikan Aki masak sambil ku-foto alakadarnya pake kameraphone. Kadang Aki juga makan bersama kita, walau beda meja, karena mungkin dia memang belum makan malam.

Pernah sepulang siaran dan karena macet, hampir jam sebelas aku makan sendirian disini. Alhamdulillah masih kebagian, karena mungkin saat itu hujan, jadi orang males keluar rumah.

Aki cerita bahwa dia kepingin sekali punya gerobak sendiri, katanya sehabis lebaran mudah-mudahan dia punya gerobak jadi bisa jualan sendiri. Aku baru tau teryata Aki statusnya masih kerja sama orang lain. Dia tau persis berapa omset bersih dan kotor dari bisnis ini, engga heran karena Aki yang mengerjakan segala sesuatunya dari mulai belanja bahan baku, meracik bumbu, memasak, sampe terima pembayaran. Sehari hari, Aki cuma dibantu anaknya saja yang lelaki, ada juga seorang lelaki muda, mungkin masih keluarganya juga. Aki juga pernah memperlihatkan kartu nama beberapa orang yang ingin mengajak Aki berbisnis dalam hal ini jualan Mie Jawa. Aki juga cerita kalau dia lagi menabung supaya habis lebaran dia bisa jualan Mie Jawa sendiri di daerah lenteng agung (wah deket tempatku dong, aku udah seneng aja waktu itu). Singkat cerita, beberapa teman sudah kuajak tempat ini atau bahkan cuma kuceritain, sampe akhirnya mereka terbujuk untuk coba Mie Jawa si Aki.

Selepas libur lebaran, aku kangen juga makan masakan Aki.
Tapi, sampai disana aku engga melihat si Aki, apa dia sakit? pikirku… Ada seorang wanita yang belum pernah kulihat sebelumnya, Anak si Aki yang biasanya membuatkan minuman justru yang memasak, juga seorang lagi wanita muda, sepertinya sih teman dekat anak Aki.

Aku langsung tanya soal Aki, karena aku mau ber-minal aidin dengan Aki.
Jawabannya… membuat aku shock…. Aki sudah meninggal dunia…

Sebelum lebaran ketika sedang mencari makan sahur dia dan anaknya menyebrang jalan, seorang lelaki yang mengenderai motor dalam keadaan mabuk dibulan suci telah menabrak Aki, sampai kaki Aki patah! Aki sempat pulang dan berobat di Sukabumi, tapi Allah SWT mungkin memilih Aki untuk istirahat selamanya.. daripada memasak mangkuk demi mangkuk Mie Jawa.. dan berangan untuk punya gerobak sendiri….

Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun… Selamat Jalan Aki..Semoga Tenang disisi-Nya.
Aki… aku belum sempat bertanya, siapa nama panjang Aki..:(

Selamat Jalan Aki..

Selamat Jalan Aki..

Posted on Oktober 29th, 2008 by Raynia  |  No Comments »

Ya, Saya sudah pernah minum Kopi Luwak

Kalo pernah nonton film Bucket List yang dibintangi oleh Morgan Foreman dan Jack Nicholson (beberapa shootnya bisa liat di Youtube deh) pasti inget banget bahwa kopi luwak ini menjadi perbincangan yang cukup dominan. Ternyata bukan cuma difilm ini kopi luwak sempat muncul, beberapa film sepeerti serial tv lain juga sempat memunculkan kopi luwak ini.

Kopi ini menjadi mahal karena memang cukup sulit didapat, karena mengutip dari wikipedia : Kopi Luwak adalah jenis kopi dari biji kopi yang telah dimakan dan melewati saluran pencernaan binatang bernama luwak. Kemasyhuran kopi ini telah terkenal sampai luar negeri. Bahkan di Amerika Serikat, terdapat kafe atau kedai yang menjual kopi luwak (Civet Coffee) dengan harga yang cukup mahal. Kopi yang dikais dari kotoran luwak ini bisa mencapai harga AS$100 per 450 gram. Hanya saja kebenaran kopi yang dijual adalah benar-benar kopi luwak masih dipertentangkan.

Kemasyhuran kopi ini diyakini karena mitos pada masa lalu, ketika perkebunan kopi dibuka besar-besaran pada masa pemerintahan Hindia Belanda sampai dekade 1950-an, di mana saat itu masih banyak terdapat binatang luwak sejenis musang.

Binatang luwak senang sekali mencari buah buahan yang cukup baik termasuk buah kopi sebagai makanannya. Biji kopi dari buah kopi yang terbaik yang sangat digemari luwak, setelah dimakan dibuang beserta kotorannya, yang sebelumnya difermentasikan dalam perut luwak. Biji kopi seperti ini, pada masa lalu sering diburu para petani kopi, karena diyakini berasal dari biji kopi terbaik dan difermentasikan secara alami. Dan menurut keyakinan, rasa kopi luwak ini memang benar benar berbeda dan spesial dikalangan para penggemar dan penikmat kopi.

Namun binatang Luwak saat ini sekarang sukar untuk ditemukan. Dagingnya yang dipercaya dapat mengobati penyakit Asma membuat hewan ini terus diburu. Disayangkan kenikmatan kopi yang berasal dari memungut biji-biji kopi dari kotoran Luwak hanya tinggal mitos.

“Kopi Luwak” sekarang telah menjadi merek dagang dari sebuah perusahaan kopi. Umumnya, kopi dengan merek ini dapat ditemui di pertokoan atau kafe atau kedai seperti di Mall Atrium di daerah Senen , atau Mall Ciputra, Grogol, Jakarta yang terdapat Cafe “Kopi Luwak”. Namun belum tentu racikan kopi yang dijual disana benar-benar berasal dari Luwak atau tepatnya “kotoran” Luwak.

Mahalnya memang lumayan deh karena satu kilogramnya kalo diluar Indonesia bisa mencapai diatas Rp. 5 juta,-

Dan sebagai warga negara - yang seharusnya berbangga hati dong - dari penghasil kopi ini senangnya dapat kesempatan mencoba kopi ini walaupun waktu minumnya jangan pernah ngebayangin mahalnya ataupun kopi ini berasal dari mananya si luwak ini…

Yang pasti kita diberi 3 jenis kopi dan kita harus meraba raba, mencium cium, merasa rasa, menebak nebak, manakah dari ketiga jenis kopi ini yang merupakan : Kopi Luwak Liar, Kopi Luwak Peternakan dan Kopi Mandheling Grade 1 Export.

Secara saya bukan penikmat kopi sejati, jadi daripada menghitung kancing saya lebih mengutamakan naluri dan insting yang saya punya. Salah satunya mencoba mencium bau dari masing-masing kopi dan mengira-ngira hmm.. si luwak habis makan apa ya… kalo kopinya baunya kayak begini :))

Hasilnya, bisa jadi saya punya bakat jadi cenayang karena tebakannya adalah benar :)

Rasanya ?… hmm susah dilukiskan dengan kata kata.. yang pasti jauh lebih ‘kopi’ dari yang biasa saya temui.

Misinya adalah membuktikan seputar mitos apakah kopi luwak itu paling enak? 
Yang jelas dari peserta yang datang hanya 3 yang menjawab benar. Sisanya kebanyakan memilih kopi mandheling grade 1 eksport, yang harganya perkilogram hanya sekitar Rp. 50.000,-.

Terima kasih buat Kang Irfan, Mas Adi dari jalan sutera.

Posted on September 20th, 2008 by Raynia  |  6 Comments »

Yang seru (dan konyol) dari nonton konsernya Al Jarreau & George Benson. (2)

Berada di deretan kursi pemegang id card ‘press’ udah tentu nyaman dong… mengutip kalimat : posisi menentukan prestasi, jadi wajar kalau teman teman press ini dapat tempat yang strategis. Barisan depan, sudah terisi, jadilah saya ambil tempat agak ke tengah.
Teman teman wartawan yang duduk di sini kelihatannya sih sudah paham banget musik jazz karena pastinya itulah yang membuat mereka ada disini (menurutku lho..).

Saat para musisi memecah keheningan dengan memulai memainkan medley potongan lagu lagu andalan Jarreau dan Benson, seperti Morning, Give Me the Night, We’re in This Love dan saya lupa apalagi, soalnya sudah keburu seneng berarti mau mulai niiihh… Sontak saja mas Agung Wahono, yang kerap dipanggil AW, temanku penyiar, penyair, produser, dan perayu ulung karena suaranya di gila-gilai para wanita di Surabaya, dan juga penikmat musik jazz sejati dari radio Delta Surabaya yang duduk selisih satu kursi dari sebelahku langsung ikut menyanyikan lirik dari lagu lagu itu.. Dan ini menarik perhatian beberapa teman wartawan yang duduk dibarisan depan kami, lantas perbincangan pun dimulai dengan : “ Suka musik jazz ya Mas…?”, Mas AW pun langsung menyahut dengan rentetan cerita soal ini (ya iya lah..penyiar ditanya…. nyerocos deh langsung :p). Ternyata teman wartawan yang bertanya itu berasal dari satu kota dengan mas AW yang juga mewakili salah satu media terkemuka di Jakarta, jadilah kemudian pembicaraan berubah laksana lagi menonton pertandingan sepakbola Persebaya vs Persija.. serasa berada ditengah tengah bonek ha ha ha…..medog bo….!

Lagu pertama yang dikumandangkan (proklamasi kali..) oleh Jarreau adalah Breezin’. Mas AW pun yang hafal mati sama lagu ini (kayaknya ini lagu andalan dia deh kalo karaokean) langsung menyanyi tanpa melewatkan satu penggal lirik pun.. dan disambut dengan pertanyaan dari teman yang baru kenal tadi “Mas ini judul lagunya apa…?”, mas AW-pun menjawab dengan lugas dan mulailah teman - teman itu menulis kebetan dihandphone masing masing bakal nulis liputan nanti. Lagu lain pun dinyanyikan, Your Song, We’re in This Love.. dst.. dst.. dan ternyata pertanyaan “Ini judul lagunya apa mas?” masih berlanjut terussss… Mas AW sih dengan senang hati memberikan penjelasan bukan cuma judul tapi ditambah dengan informasi tambahan seperti yang biasanya terdapat pada detail info di i tunes seperti : lagu ini berasal dari album yang mana, tahun berapa dsb… Wah udah kayak jadi Denny Sakrie dadakan nih :D. Pembicaraan makin seru karena sesekali ditimpali oleh teman wartawan dibarisan belakang kami yang ilmu musik jazz-nya lumayan canggih juga.

Perkara tukar menukar informasi dalam melakukan tugas peliputan adalah hal yang sangaaaaatt wajar dilakukan oleh para press ini dengan tujuan saling menambah info yang bisa mempercantik hasil liputannya nanti. Bahkan dulu waktu masih suka liputan kriminal yang notabene kita harus on time sampe di TKP (tempat kejadian perkara) yang venue-nya engga pernah pake undangan atau press conference–pun kerap kali dilakukan buat reporter yang datengnya telat walopun udah bela-belain naek ojeg buat sampe ke TKP. Musik jazz memang belum tentu disukai oleh teman teman wartawan ini. Tapi kok rasanya aneh juga ya… kalo memang sama sekali engga tau kenapa engga cari tau dulu sebelum nonton. Toh Mas Denny Sakrie beneran yang pegang kamus berjalan soal referensi musik apapun udah menuliskan diforum salah satu situs dan sudah ditambah sebuah saran “ Buat yang mau nonton Al Jarreau dan George Benson, baiknya baca yang ini dulu”, yang isinya ulasan soal album ‘Givin’ it Up’ yang sebenernya sudah dirilis dari tahun 2006 ini bisa didapat dengan mudahnya yaitu dengan sedikit melakukan ritual googling.

Dan pertanyaan yang menurutku paling lucu adalah, pada saat George Benson menyanyikan lagu yang super duper kondang yang membuat hampir seluruh penonton bernyanyi adalah (apa hayoooo… tau enggaaaaaaa…?) yaitu…. : Nothing’s Gonna Change My Love for you…… sambil ikutan nyanyi (karena tau lagunya dong..)..teman baru kami ini berujar..”Oooo…. ini lagunya George Benson tohhh….”… yaolooooo…plis deh mas…………

Untungnya pada saat setelah lagu ini selesai dan dilanjutkan dengan “Greatest Love of All” yang dibawakan dengan sempurna oleh mas Benson, si mas itu engga bilang……”Lho.. ini bukan lagunya Bon Jovi ya…..?”

Posted on September 16th, 2008 by Raynia  |  No Comments »

Yang seru dari nonton konsernya Al Jarreau & George Benson. (1)

Beberapa catatan kurang penting yang sempat dilihat di konser dua musisi besar dunia yang sempat terekam kemarin di JCC sabtu kemarin adalah :

Sebelumnya kenapa dibilang kurang penting, karena sebenernya engga ada hubungannya dengan dua musisi itu sendiri, tapi lebih kepada para penikmat musik yang datang menonton konsernya.

Salah satu kelebihan kita kita yang mendapatkan id card sebagai ‘press’ adalah kita bisa dapat posisi yang strategis buat menonton konser itu ataupun mengamati penonton. Dari awal masuk ke lobby JCC, seperti biasa kalau ada perhelatan musik para pemegang id press ini sudah ambil posisi untuk mencari gambar, video, ataupun narasumber yang tentunya bisa mendukung peliputan mereka. Sayapun yang memang punya kebiasaan suka memperhatikan dengan seksama satu persatu orang yang lalu lalang di depan muka (naluri kali yaa..) seolah olah mendapatkan object yang pas banget dilobby JCC ini.

Dua perdua (bukan satu persatu lagi) para penikmat musik jazz (mudah mudahan semua begitu) mulai berdatangan dengan bermacam macam dandanan. Ada yang bergaya casual, cukup dengan jeans dan t-shirt, ada pula yang dressed up -terkesan berlebih juga sih-, gimana engga, ada yang pake sepatu boots kulit coklat tinggi (sempet juga sih dalam hati iseng mau tanya, mbak- mbak.. kudanya diparkir dimana..?), ada juga yang datang bagaikan mau kondangan dengan full make up, aksoseris dan gaun backless dress yang memamerkan keindahan punggungnya, ataupun dress bertali yang cukup sexy dan tentu saja dinikmati oleh banyak lelaki yang sedari tadi matanya sama seperti saya engga bisa tertib. Kitapun bertanya-tanya apakah ada artis pembuka yang akan tampil sebelum konser ini dimulai, rasanya sih dari data yang kami punya engga ada tuh. Ya… sah sah aja kok setiap mau datang dengan penampilan yang bagaimana, mengingat ini adalah event musik jazz yang sering dikategorikan ‘berkelas’. Belum lagi kita pasti bakal ketemu teman, kolega, gebetan, mantan pacar (engga dink yang ini mah) atau syukur syukur kena shoot jadi bisa mejeng di salah satu stasuin TV (halaah engga banget deh yang ini). Tapi, buat orang-orang yang sudah sering menonton event musik yang kerapkali digelar disini, pastinya sudah tau banget kalau air conditioner disini bekerja dengan sangat baik, yang artinya… kalau kita akan berada disalah satu ruangan di JCC ini lebih dari satu jam, engga mungkin aja engga kekamar kecil..(itu sih aku…engga tau kalo yang lain he he), dan kedua, ada satu aksesoris yang haram hukumnya kalo ditinggal alias wajib ketimbang high heel shoes ataupun sepatu boots yaitu : JAKET. Benda yang satu itu ampuh banget mengusir rasa dingin kalo lagi nonton konser selain jamu tolak angin dan makan dulu sebelum nonton konser dong pastinya…(soal jamu tolak angin cair, itu andalannya temanku Mbak Ria, wong ke kekantor aja pasti dibawa kok hehe.. sorry mbak Ria ;) aku juga udah mulai ketularan kok, cuma kemaren aja engga bawa.. stoknya habis)

Konser yang sedianya dimulai jam 9 malam akhirnya mulai juga dengan sedikit ngaret (duh…jakarta time banget ya ☹). Nunggu-nunggu kapan Al Jarreau & George Benson keluar beberapa kali tampak seseorang keluar masuk stage untuk sekedar mengecek kesiapan alat musik yang sudah dipajang sejak kita masuk. Mungkin karena iseng salah satu dari penonton tepuk tangan lantas diikuti dengan tepuk tangan plus disambut keriuhan oleh penonton yang lain. Ngeledek sih maksudnya, soalnya yang bolak balik keluar itu sudah pasti bukan dua musisi yang ditunggu-tunggu, wong badannya aja segede gaban dan berambut gonjes. Yah…lumayan deh buat seru-seruan aja..

Akhirnya para musisi masuk ke-stage dan memulai konser dengan membangkitkan semangat para penonton dengan memainkan medley dari lagu lagu andalan kedua musisi yang bakal segera naik panggung. Nah kalau gimana jalannya konser saya tidak akan tulis disini.. itukan tugasnya wartawan yang ngeliput disana .. kasian dong entar hasil liputannya engga dibaca karena ada disini…

Tapi intinya konser berlangsung mulus selama hampir dua jam deh kita berada di ruangan ber-AC dingin itu. Saya sendiri harus beberapa kali bolak balik ke toilet yang pastinya ketemu dengan para wanita (ya ia lah,,, masa pria, wong toiletnya wanita kok), yang ekspresinya kedingingan sambil menahan pingin pipis. Untungnya karena akses para pemegang id card ‘press’ ini dari kiri bawah, jadi kita punya toilet khusus yang engga terlalu rame. Tidak terasa sudah lewat jam sebelas malam pada saat Al & George (bukan sok akrab nulisnya begitu, tapi memang begitulah kedua musisi itu saling memanggil diatas panggung) menyanyikan potongan lagu …”everytime you go away…” which is artinya ‘Woy penonton…udah lagu terakhir nih……!” (lenong kaleeee..). Sesaat setelah itu sudah pasti seperti layaknya bubaran nonton bioskop, toilet pun diserbu…..

Jaket plus syal yang saya gunakan buat menghangatkan badan dan leher rasanya kurang nendang melawan hawa dingin di plenary hall. Setiap event Java Jazz pun dimana yang datang hitungannya berkali lipat dari konser ini, rasa dingin tetap terasa menusuk. Citra, temanku yang kelupaan membawa jaket (walaupun dia engga pake baju yang terbilang kategorinya kurang bahan) jadi kurang nyaman menikmati konser karena kedinginan, beruntung dia harus keluar beberapa kali buat live report diradio walaupun momentnya salah.. karena pas setiap dia keluar pasti lagu yang lagi ditampilkan adalah lagu andalan ☹. Kebayang.. bagaimana para penonton yang berbaju minim itu.. apakah besok punggung mulusnya harus merah merah karena kerokan? Belum tentu juga sih.. siapa tau mereka memang udah biasa sama dingin –nya AC disana.. kita aja kali yang rada rada katro.. ☺ [kalau kalimat ini dibaca para ABG, pasti di sambung… KITA??? Gw engga tuuh…loe aja kaleeee…]

Posted on September 16th, 2008 by Raynia  |  1 Comment »

H Rosihan Anwar, Kekerasan hati yang tak pernah padam

Jelang 17 agustus 2008, 63 tahun Indonesiaku, aku berkesempatan untuk bertemu dengan Rosihan Anwar, wartawan, sastrawan bahkan budayawan yang telah melalui banyak zaman. Gambaran kekerasan hati itu sudah mulai tampak saat kami mengetuk pintu rumahnya dan beliau langsung mempersilahkan kami untuk memulai sesi wawancara. Beliau sedang kurang sehat saat tu, tepatnya senin 11 Agustus 2008.

Selembar sapu tangan handuk putih beliau pegang dan sesekali digunakan untuk menyeka hidungnya selama wawancara berlangsung. Ada rasa engga PD juga sih waktu ketemu beliau, mengingat nama besar beliau dan banyak sekali hal hal yang sebenernya ada dikepala ingin ditanyakan, tapi kembali lagi ke rumusan komunikasi yang ampuh berdasarkan teori Think On Your Feet yang dipelajari di chill out friday juli lalu ;) Simpel, langsung ke pokok permasalahan dan ketiga harus mengandung unsur persuasif dalam arti relevan dengan orang yang kita ajak bicara jadilah saya bertanya berdasarkan konsep yang sudah disiapkan Citra, produserku itu loh..

Straight to the point, kritis, langsung terkesan dari pertemuan ini. Dari mulai beliau mengomentari alat perekam yang digunakan masa kini yang semakin canggih tapi sering ada kendala jika dibanding zaman dulu yang hanya menggunakan kertas dan pulpen. Kamera pun hanya dimiliki oleh wartawan foto dan merupakan barang yang langka karena harganya cukup mahal.

Cerita dimulai dengan justru pada peristiwa pertempuran di Surabaya sepuluh november dimana beliau ditugaskan turun langsung meliput disurabaya bertemu dengan pejuang di Surabaya. Tentunya tidak ada fasilitas tiket pesawat ataupun hotel yang didapat layaknya wartawan zaman sekarang yang bertugas diluar kota. (rekaman wawancara-nya sudah bisa didengar di bawah lho!)

Bukan karena sikap loyal ke sesama jurnalis yang membuat beliau mendukung penuh usulan Aliansi Jurnalis Independent agar gaji wartawan bisa minimal Rp 4 Juta/bulan tapi karena beliau paham betul bagaimana bisa hidup hanya dengan gaji yang kecil seperti yang masih banyak diterima wartawan saat ini.

Kekecewaan yang mendalam terhadap pemerintah tercermin disetiap jawaban yang dilontarkan pada setiap pertanyaan yang berhubungan dengan apa yang terjadi dengan negeri ini. Beliau hampir tidak pernah menonton tayangan televisi lokal karena tidak ada satupun yang bisa mendidik menurutnya, dan ketika ditanya apakah yang harus dilakukan untuk negeri ini, beliau bilang, jangan salahkan siapapun karena pemerintah yang ada saat ini adalah hasil pilihanmu sendiri (makanya jangan jadi golput coy…. itu namanya ente kaga peduli lagi ame ini negare…), dan peranan keluarga dalam arti orang tua mendidik anak anak saat ini sangat berperan dalam menentukan Indonesia ke depan..(hhwalaahh wong bapak-bapak dan ibu-ibu sekarang dah pada sibuk cari duit terus bukaaannn? ).

Pertemuan kami memang tidak lama karena beliau harus pergi segera, tapi dari balik semua jawaban yang terkesan arogan banyak hal yang membuat saya jadi berfikir bahwa semua orang bisa melakukan yang terbaik untuk negara ini lewat caranya masing-masing, siapapun dirimu…(hhwwah semangat nasionalisme berkobar-kobar nih…) Bagaimanapun juga H Rosihan Anwar adalah tokoh besar yang telah memberikan yang terbaik dari seluruh hidupnya untuk bangsa ini dan beliau adalah saksi sejarah, yang saat ini tidak banyak yang bisa kita temui lagi. Dibalik semua komentarnya yang seringkali membuat dada ini terhentak, beliau tetap mengungkapkan kecintaannya terhadap negeri ini, dengan mengucap Dirgahayu Republik Indonesia….! Adalah kesempatan yang sangat berharga buatku bisa bertemu beliau tahun ini..!

Tapi yang paling menarik adalah komentar beliau soal para artis yang lagi getol mencalonkan diri untuk berkiprah didunia politik, Beliau benar-benar ‘anti’ dengan hal ini, bahkan menganggapnya ini bagai sebuah dagelan dan berkomentar agar mereka berkaca diri lah… Wong dia sendiri saja menolak untuk dijadikan duta besar Indonesia untuk Vietnam pada era Pak Harto jadi presiden seperti yang ditulisnya untuk Kilas Balik Presiden Suharto :

H Rosihan Anwar

H Rosihan Anwar

Tahun 1970, saat Presiden Soeharto mengunjungi Amerika Serikat atas undangan
Presiden Nixon, saya sebagai Pemimpin Redaksi Pedoman ikut rombongannya, begitu juga Pemred Kompas Jakob Oetama. Begitu naik pesawat di Bandara Kemayoran, anggota pers ditemui Soeharto yang didampingi Letkol Sudarmono dan Kapten Murdiono. Itu pertemuan saya ketiga dengan Soeharto. Dia masih tidak banyak bicara.

Saat terbang di atas Pasifik di waktu malam, Ny Tien Soeharto datang duduk di
samping saya. Dia bertanya, “Mengapa kok tidak membantu pemerintah dan Pak Harto?” Saya jawab sambil berfilsafat seperti orang Jawa, “Begini Bu, kita di dunia ini punya lakon masing-masing yang mesti dijalani. Lakon saya di dunia pers, Pak Harto di dunia pemerintah. Jadi melu lakone wae (mengikuti perannya saja), Bu.”

Ini hasil rekaman wawancaraku dengan beliau: Rosihan Anwar Cut 1

Pada cut selanjutnya beliau berpendapat soal kebebasan pers, Simak komentar pedasnya perihal tayangan televisi saat ini, temukan jawabannya disini : Rosihan Anwar Cut 2

Apakah Indonesia saat ini sudah sedemikian terpuruk? apa yang seharusnya kita lakukan? Rosihan Anwar Cut 3

Mudah-mudahan ini bisa jadi renungan untuk kita…

Merdeka!

Posted on Agustus 13th, 2008 by Raynia  |  4 Comments »

Chris Botti in the house… Black Cat Jazz Supper Club

Berkesempatan ngobrol dengan Chris Botti di Black Cat Jazz Supper Club, di Chill Out Friday.. Sudah agak lama sih  tanggal 25 April 2008 lalu. Tapi yaaa…. kayaknya hidupku bakal merana kalau aku ndak posting fotonya diblog-ku sendiri he he he,  what a wonderful moment. :). Dalam satu bulan dia pernah konser lebih dari 20 x, rahasianya : Yoga!.  Kumpul juga dengan temen-temen komunitas fotografi dari ayofoto.com, komunitas blogger dan ada tamu lain juga Romi Rafael. Beberapa foto diatas adalah hasil jepretan dari teman-teman komunitas  Ayofoto, mas Dibya, Mas Jeffry dan my Boss Mas Jerry.

Posted on Agustus 8th, 2008 by Raynia  |  2 Comments »