SepotongKue.com

Sepotong Kue, Secangkir Kopi, Alunan Musik dan Sebuah Cerita

Wisata Hati

Mei20

Pernahkah anda mampir mengunjungi tempat anak anak yang kurang beruntung di hari libur?
Saya tercengang melihat beberapa dari mereka mengenakan pakaian seragam putih merah yg biasa digunakan untuk sekolah, karena mereka tidak lagi punya pakaian yang menurut mereka layak digunakan untuk menerima tamu.

Salah satu bocah cilik berbaju putih merah itu terkantuk kantuk saat berdoa bersama, sesekali kepalanya menyentuh mimbar di mushola tempat mereka berkumpul karena sesaat terlelap, tapi dia sejenak terbangun karena teman disebelahnya membangunkan seraya menyikutnya.

Sekitar 50 anak yang berasal dari beberapa wilayah di Depok ataupun ada yg berasal dari beberapa daerah di Jawa ini tinggal di sini, mereka bersekolah sampai setingkat SMP, diajar oleh 5 orang guru yang hidupnya untuk mengabdi, karena tak ada sepeserpun gaji yang mereka terima setiap bulannya.

Mereka tidur di ruangan bawah dari tempat mereka sekolah, bangunan yang nampaknya belum selesai dibangun, entah kapan akan selesai karena Bapak Nurjaya S. Ag lulusan Gontor bersama sang istri Ibu Maesaroh sajalah yg mengurus mereka bersama ke 5 guru pengabdi tadi.

Kamar itu tak lebih baik dari tempat singgah yang mempunyai kelebihan tidak membuat penghuninya kehujanan atau kepanasan, tidur diatas kasur busa seadanya tanpa seprai yang sudah lusuh yang ditumpuk di sudut ruangan. Pengap, bercat putih yang pudar karena kotor, tidak ada satupun barang mewah disana kecuali satu TV sekitar 14 Inchi yang sudah tua yg menjadi rebutan anak anak itu dikala ingin menonton.

Dari sorot mata mereka yang tubuhnya terbalut pakaian kumal lengkap dengan peci dan sarung, ada keyakinan bahwa hidup mereka disini jauh lebih baik ketimbang dijalanan menjadi peminta-minta atau di kampung asal mereka. Disini mereka belajar menulis, membaca, mengaji dan apa saja yang bisa diturunkan ilmunya dari 5 orang guru yang luar biasa. Di ruangan tempat anak-anak perempuan tidur, hanya kutemukan satu buah baju yang tergantung rapi, karena menurut si anak, itulah satu satunya baju terindah yang dia miliki.

Mereka tak kenal Mc D, Kentucky, Hoka Hoka Bento atau apalah itu, bahkan buku kumal dan pakaian seadanya merekapun pernah hanyut dikala musim banjir karena tempat mereka tinggal terletak bersebelahan dengan sungai di Kampung Pitara Depok.

“Teh, kalau ada baju layak pakai untuk anak, seragam, sepatu, buku, atau apapun sudilah kiranya dibawa kesini…” Pesan Ibu Maesaroh istri Pak Nurjaya yang juga mengabdikan hidupnya untuk anak anak ini, dia tidak meminta beras, uang, atau hal lain yang tanpa diceritakan sayapun tahu mereka membutuhkan.

Pesan itulah yang ingin saya bagi ke anda, sudilah kiranya anda mampir sebentar saja, mensucikan hati dan jiwa yang kadang selalu terasa dahaga tak terkira.. mereka pasti menyambut bahagia dengan penuh doa…

Yayasan Yatim Piatu Al Ma’unah
Jln Pitara Raya no 41 Sengon, Pancoran Mas Depok
Bpk Nurjaya S. Ag
021 70240607
021 70608887

Dari Jendela inilah anak anak itu menatap harapan mereka ke depan..

posted under Cerita | No Comments »

Berbagi..

Maret29

Dalam tayangan di sebuah stasiun televisi swasta nasional, setiap aja bencana biasanya pasti ada ajakan untuk menyumbang korban bencana. Beberapa waktu lalu saya ingat sekali ada sebuah acara penggalangan dana untuk bencana gempa di Cianjur. Menurut saya tentunya tidak ada yang salah dengan acara ini, apalagi memang di stasiun TV itu tertulis dalam running text-nya bahwa bantuan masih banyak dibutuhkan dan banyak yang belum sampai. Hanya saja saya pribadi merasa ada yang sesekali membuat saya agak berfikir karena sang pembawa acara berkali kali bertanya : “mau menyumbang berapa?”, tentunya ini bukan pertanyaan yang salah, karena tujuan acara ini adalah begitu mulia yaitu penggalangan dana (kalau tujuannya adalah penjualan buah pasti pertanyaannya akan menjadi “mau berapa kilo?” :) ). Jawaban yang masuk baik via telepon ataupun hadirin yang ada distudio sana pun beragam, mulai ratusan ribu, jutaan, puluhan juta, ratusan juta bahkan milyaran baik dari pribadi ataupun institusi. Angka yang fantastis dan mencerminkan bahwa sebenarnya bangsa kita adalah sungguh sungguh bangsa yang peduli sesama (bahkan ternyata banyak orang kaya di Indonesia terbukti ada pribadi yang menyumbang sampai 20 Milyar rupiah).

Tiba tiba saya teringat dengan kedatangan 3 orang kestudio kami beberapa bulan lalu. Mereka adalah perwakilan dari Ladies Wear Department dari sebuah pusat perbelanjaan terkemuka di Jakarta, datang membawa beberapa kardus besar berisi pakaian layak pakai untuk disumbangkan untuk Delta berbagi cinta. Pada saat saya bertanya, bagaimana ini dikumpulkan, mereka bilang ini adalah agenda tahunan (ada atau tidak ada bencana), dan sebelum bencana terjadi mereka sudah mengumpulkan pakaian ini, yang tujuannya diberikan kepada yang lebih membutuhkan. Dalam bayangan saya, pakaian layak pakai ini datang dari para karyawan/ti yang mungkin belum sanggup jika harus menyumbang jutaan bahkan milyaran rupiah. Mereka mungkin saja belum memiliki rumah, tinggal masih mengontrak, kekantor masih naik kendaraan umum dan lain lain… Tapi intinya adalah, mereka mengumpulkan ini sebagai agenda tahunan, ada atau tidak ada bencana, dan mereka pasti melakukannya dengan setulus hati, tanpa mengharapkan sebuah publikasi, mereka pun tidak menyangka bahwa kami pun meminta mewawancara mereka selama 3 menit saja diradio sebagai ungkapan terima kasih.

Saya pun jadi teringat lagi dengan seorang pensiunan guru yang menitipkan sejumlah uang kepada saya untuk disumbangkan ke para korban gempa, karena beliau yakin saya yang mungkin dimata beliau mewakili radio Delta bisa menyampaikankan ke pihak yang berhak. Jumlahnya pun lagi lagi jauh dari hitungan juta apalagi milyar. Kembali lagi saya jadi teringat sebuah ajaran dalam agama saya, bahwa jika kita ingin beramal, kalau bisa tangan sebelah kita pun tidak perlu mengetahui, dan ini mengingatkan saya akan sebuah nilai ketulusan yang tergambar dari teman teman karyawan sebuah Ladies Wear Departement tadi. Tanpa mengurangi rasa kagum dan hormat saya kepada orang orang yang menyumbang via manapun , diliput ataupun tidak oleh media massa apapun, saya pun meyakini bahwa, yang Di Atas pun pasti akan menilai apa yang mereka berikan menjadi Milyaran atau bahkan Trilyunan ataupun lebih karena sekali lagi mereka memberikan itu dengan ketulusan hati. Insya Allah..

posted under Cerita | 6 Comments »

Andrea Hirata – One Hour on Thursday 99,1 Delta FM -

Maret29

Hari itu adalah kali kesekian saya bertemu Andrea Hirata, setelah sebelumnya bertemu di acara nonton bareng film Sang Pemimpi, dan juga di studio Metro TV untuk  acara Kick Andy Heroes. Di kesempatan terakhir itulah saya mengajak Andrea untuk hadir di siaran saya untuk 102 One Hour on Thursday.

Setengah jam sebelum on air, Andre sudah hadir distudio, padahal hari itu adalah hari pertandingan antara Persib vs Persija dimana letak studio kami berdekatan dengan kawasan Gelora Bung Karno. Ternyata Andrea hadir ke studio menggunakan jasa ojeg, karena mobilnya yang berplat D kena timpukan supporter Jakmania sehingga terpaksa harus ditinggal di kawasan Kuningan, dari sanapun dia bercerita tidak ada taxi yang mau mengantar ke Ratu Plaza karena takut akan terjadi kerusuhan.

Andre hadir kelihatan begitu casual, kemeja putih, jeans dan tidak ketinggalan topi ala pelukis yang katanya mengingatkan dia pada seseorang yang katakanlah Bapak asuhnya pada saat dia menimba ilmu di Prancis, sosok itu terlihat begitu tenang saat menghadapi kanvas-nya dan itulah yang membuatnya memiliki koleksi topi itu.

Kecintaannya pada Bu Mus sang guru SD yang senantiasa ada di hatinya tercermin pada saat kami memutar suara Bu Mus yang memang kami rekam untuk menceritakan sosok Andrea di matanya, Bu Mus bercerita hal yang Andrea sudah tidak ingat lagi yaitu saat Andrea menimpuk sarang lebah dan harus menceburkan diri ke sumur untuk menghindari kejaran lebah. Air mukanya pun berubah haru saat Bu Mus berpesan agar Andre tetap menjadi orang yang tidak lupa dengan Allah SWT dalam menjalani harinya, pesan itu juga yang Andre dapat saat terakhir berjumpa Bu Mus saat pemutaran layar tancap film Sang Pemimpi di Belitung, bahkan saat kami memutar lagu Restu Cinta dari Gigi, Andrea juga tampak haru.

Kesuksesan buku Laskar Pelangi diceritakan Andre bukan hanya jutaan eksemplar yang sudah dicetak di Indonesia tapi juga diterbitkannya buku ini dalam edisi Bahasa Inggris dan kabar baiknya sudah ada agen di Cina yang akan menterjemahkan novel ini dalam bahasa setempat, ironisnya sebanyak tiga kali lipat dari jumlah eksemplar resmi versi bajakan Novel ini juga beredar di Indonesia. Bahkan lebih dari sekali Andrea ditawari buku bajakannya sendiri di beberapa kawasan di Jakarta, yang di tawarkan dengan harga Rp. 25.000,- saja.

Menjadi seorang publik figur yang dengan label pembicara termahal untuk kategori penulis buku diakui Andre itu berawal dari ketidaksengajaan, yang tadinya dimaksudkan untuk menolak tawaran menjadi pembicara  karena tidak enak hati ke pihak pengundang sehingga menawarkan harga tinggi, ternyata malah disanggupi. Tapi menurut Andre yang harus diingat adalah dia juga seringkali hadir berbicara di sekolah atau perguruan tinggi tanpa bayaran.

Bukanlah hal yang selalu menyenangkan menjadi sorotan publik, kerap kali ada info kalau Andrea tidak suka diusik soal keluarga, biasanya kemudian publik akan mulai menghubungkan dengan kenyataan status Andrea yang konon pernah menikah.  Tapi pada saat kami menanyakan apakah benar karena ketenarannya sekarang itu dia harus menghadapi banyak hal seperti salah satunya rumah keluarganya di Belitong yang selalu dikuntit orang, bahkan sampai ada yg memanjat pohon untuk melongok kedalam, Andrea membenarkan, dan dengan kerendahan hati dia meminta agar sekiranya bisa dimengerti keadaan orang tuanya yang sudah berumur dan membutuhkan ketenangan karena dalam kondisi sakit. Andrea mengajak media atau siapapun yang ingin bertemu dengan keluarganya agar sebelumnya bisa berkomunikasi dengan dia sehingga bisa diatur di waktu dan tempat yang lebih baik.

Apakah kemudian ketenaran ini juga mengubah sosoknya menjadi kebanyakan publik figur lain?, Andrea bercerita kalau sesekali dia pernah keluar rumah menggunakan jibab ataupun masker yang biasa digunakan oleh perawat atau penderita flu.

Kesehariannya Andrea mengaku tidak memiliki dompet, dia menaruh uangnya dalam tas, tidak punya kartu kredit dan bahkan  menggunakan kartu prabayar untuk keperluan telekomunikasinya. Akankah ini berubah setelah dua novel terbarunya di launch dalam waktu dekat?  Buat saya Andrea adalah sosok yang sederhana dan selalu mencoba menebar virus untuk menulis seperti yang dia lakukan setelah siaran kami usai.

KLA Returns…

Juni15

Saya bukanlah pengamat musik, tapi cuma seorang penikmat musik, dan buat seorang penikmat musik rasanya wajib dong datang ke konser KLA Returns, yang kemarin diselenggarakan di Ballroom XXI Djakarta Theatre 12 Juni kemarin. Saya kenal KLA pertama kali waktu SD, waktu itu lagu “Tentang Kita’ lagi top banget… bayangin…. SD…. ngerti pacaran aja belum tapi hafal mati sama lagunya….!! Makanya biar ngantuk di bela-belain deh nonton konser ini.

Pulang siaran jumat, walaupun muka udah mukabantalmodeon, teteup semangat ‘09 (bukan semangat ‘45 lagi) bareng sama Mas Budi Utomo, eksekutif produser untuk Deltanesia, langsung menuju ke venue, ambil ID di Mbak Ewie *thank you Mbak :) * , KLA sudah membuka konsernya dengan Romansa , wah udah rame banget tuh didalem, surprise juga melihat deretan bangku hampir penuh, walaupun harga tiket dijual cukup mahal Rp. 400.000,-. Secara hal ini sempet diragukan beberapa teman, bakal rame engga yah konsernya.. dan ternyataaaa… tunggu dong ceritanya sampe selesai.. :)

O iya, salah seorang sahabat Delta yg membeli tiket di kami juga sempat menanyakan seperti apa sih ballroom Djakarta Theatre itu, sepertinya dia takut kalau nanti akan seperti nonton konser konser musisi/artist import di JCC atau Gelora. Saya cuma bisa bilang : “tenang aja deh… pasti nyaman…”

Dan terbukti penonton cukup nyaman untuk menikmati konser ini, didukung dengan visualisasi yang manis dari setiap lagu yg dinyanyikan, suguhannya terasa pas banget. Gedung yang berkapasitas 1000 orang ini pun terasa cukup ramai, tapi tentunya tidak berlebih juga. Smoking area tersedia di sisi kiri belakang, dan kita pun bebas memesan beverage di kanan belakang.

Saya sendiri lebih memilih deretan bangku paling belakang sambil mengamati suasana secara keseluruhan, (sebenernya sih didepan emang udah penuh juga, wong salah sendiri datengnya telat…:p)

Selesai Romansa, Saujana, Waktu Tersisa -pun dilantunkan, wah… waktu tersisa bener bener indah didengar, dibandingkan waktu lagu ini dinyanyikan KLA di Gedung Kesenian secara akustik (di youtube juga ada tuh videonya) saya pribadi lebih suka yang ini. Hey … dan akhirnya lagu terbaru dari KLA yang berjudul : Someday. Sebelum lagu ini dinyanyikan Katon sempat bercakap cakap dengan penonton tentunya dengan gaya bertutur yang sangat “KLA”, dia bilang tidak mau menjadi musisi kalau tidak lagi berkarya. Lagu Someday – pun dilantunkan dengan visualisasi video klip terbarunya yang bernuansa futuristik, (jadi inget, waktu video klip ini dibuat, besoknya pagi pagi KLA diundang di acara 1st anniversary-nya Deltanesia). Ada nuansa rock, dan rap dalam lagu ini, tapi KLA memang adalah KLA yang selalu mencipta nada nada yang menurut saya tidak pernah terasa ‘basi’, belum lagi kekuatan lirik dari semua lagu KLA yang juara banget deh… kayaknya sih sampe sekarang belum ada yang menandingi deh..

Selesai lagu Someday , lagu yg diambill dari album ke 8 mereka di tahun 97 Sintesa pun dinyanyikan, Katon sempat bercerita kalau sebenarnya KLA sangat total dalam mencipta lagu ini, tapi ternyata album ini gatot, alias gagal total. Yah….kalo pendapatku sih sebenernya engga ada yang salah sama lagu ini, bahkan lagu ini kalau dibandingkan dengan lagu-lagu indonesia yang direlease di tahun yang sama jauh lebih ‘berisi’, mungkin yang salah adalah kenapa lagu ini direlease pada saat krismon, mungkin orang orang udah pusing sama PHK, jadi musik diprioritas ke sekian, (barang kali loooh, secara saya bukan pengamat ekonomi juga… tapi waktu itu ngalamin krismon juga sih sampe bank tempatku bekerja harus merger…:(, jadi bagus atau tidaknya musik buat saya waktu itu jadi prioritas ke sekian….alias musik apa aja juga didenger kaleee….yang penting bisa bikin happy).

Lepas lagu ini, kemudian giliran lagu Pasir Putih yang dulu di release tahun 92. Kemudian saya bilang ke Mas Budi dan Nadia, pokoknya kalo habis lagu ini yg dinyanyiin lagu Semoga , gw bakal teriak deh… dan ternyataaaaaa…. memang feeling saya selalu so good.. denting piano dari Adi memulai lagu Semoga pun dimainkan, dan jadilah saya beneran menjerit, penonton pun engga tahan untuk ikut bernyanyi dari awal sampai akhir…. Selepas lagu ini, kita kayak di hajar habis-habisan sama lagu-lagu Nostalgia KLA lainnya, seperti: Rentang Asmara , (posisi Siska digantikan oleh Sierra). Nah feeling saya bilang pasti habis lagu ini ada lagu manis lagi, kayaknya i really need a cup of coffee… sambil berjalan ke arah kanan, eh sepertinya saya melihat seseorang dalam kegelapan, secara orangnya juga gelap jadi musti dua kali menoleh :) ), betul ternyata ada Andre Hehanusa yg lagi berdiri sambil senyum-senyum sama pasukan-nya… jadilah kita ngobrol sebentar, menikmati kopi, sambil mendengar lagu… Jogja, Jogja, Jogja ……… O iya saya juga sempet tanya pendapat dia soal konser ini, dia bilang sih, secara umum ok, dan setuju kalo visualisasi setiap lagunya menambah manis penampilan KLA, tapi tidak berlebih. Buat para pecinta KKEB , jangan bilang-bilang yaaaahh.. katanya Andre juga mau menggelar konser juga lhooooo…..

Huuuh… puas sama Jogjaaaa? bellluum… ada lagu Terpurukku Disini, Meski Tlah Jauh, dan Laguku .. *ya sedikit bergoyang dangdut deh*, Gerimis, salah satu lagu tadi Lilo sempat nyanyi sendirian diiringi teriakan dari Andre dari belakang “Lilo I luv Yooouuuu!! “… dan akhirnya….. Bulan Merah Jambu.. upps maksudnya Tak Bisa Kelain Hati(jangan diterusin sambil diplesetin ya… tapi bisa kelain body… iih basiiii deeeyy. Kayaknya strateginya memang kita sengaja dibikin orgasme habis habisan (hush jangan mikir yang lain2 dulu ya…. itu istilah kita kita para penikmat musik, kalo denger musik musik indah), karena lagu lagu manis dinyanyiin secara beruntun. Oh iya.. sempet ketemu Mas Kadri juga *thank u for the CD :) *, didengerin deeeeh lagunyaaaa….! Mas Kadri rupanya ‘terpaksa’ duduk manis yah… walaupun udah gatel pengen berdiri juga….he he he

Akhirnya konser diakhiri dengan lagu Rentang Asmara , Katon meminta seluruh penonton buat berdiri, (kalo kita sih udah berdiri dari tadi kalee…..mana enak nonton konser musik begini duduk maniiisss). Walopun KLA meng-klaim udah nyanyiin 16 lagu, (saya sih engga ngitungin boooo..! mana berasa… enak enak semua gilaaaaa…!!), dan Katon udah say thanks dan ritual perkenalan setiap pemain musik sudah dilakukan, tapi nampaknya penonton tetep malas beranjak pergi, berharap ada additional song gitu? engga la yaw….

Intinya…that was a great nite, great show, bukan cuma nostalgia, tapi pembuktian bahwa Indonesia masih memiliki musisi musisi berkualitas baik dari segi musik, lirik…. Bravo KLA, semoga seperti yang Katon bilang : “‘Semoga… Semoga KLA bisa lebih dari 10 tahun lagi bisa terus ‘menangis lagi’. Matur nuhun semoga Tuhan membalas,”

Satu lagu yang bikin sempet saya ‘menangis’ :

Surya terpancar dari wajah kita
Bagai menghalau mendung hitam tiba

Sekejap badai datang
Mengoyak kedamaian
Segala musnah
Lalu gerimis langit pun menangis

Kekasih, andai saja kau mengerti
Harusnya kita mampu lewati itu semua

Dan bukan menyerah untuk berpisah …

Sekejap badai datang
Mengoyak kedamaian
Segala musnah
Lalu gerimis langit pun menangis

Kekasih, andai saja kau mengerti
Harusnya kita mampu lewati itu semua
Kekasih, andai saja kau sadari
Semua hanya satu ujian ‘tuk cinta kita

Dan bukan alasan untuk berpisah …

*Coba bayangin.. kalo nulis lirik aja begini…. gemana waktu mereka nge-gombalin pacarnya ya? bukan termehek-mehek lagi kali…*
Oh iya Farhan, Heka, you guys really missed the great show, but…… MMS- gw udah nyampe kaaaaannn? hua hua hua….:p

posted under Cerita, Musik | 1 Comment »

Studio dan Kamar Mayat

Oktober29

Sekali di Udara, Tetap di Udara.

Mungkin kata itu anda kenal sebagai semboyan RRI. Buat anda mungkin itu adalah slogan semata, buat kami orang-orang yang berkecimpung di dunia radio mungkin kami memaknainya sedikit lebih dalam. Tapi apakah anda tahu darimana dan bagaimana semboyan itu bisa ada. Siapakah yang pemekik semboyan itu? apakah ada hubungannya dengan Teks Proklamasi yang sekarang kita dengar di monas dan beredar dimana mana itu terasa begitu senyap, tidak ada kobaran semangat Bung Karno yang berapi-api…

Siapakah Dokter Karbol? Bagaimana rasanya siaran didekat kamar mayat yang setiap pulang siaran harus merendam pakaian selama 7 hari, baru bau nya hilang?

Bagaimana seorang Jusuf Ronodipuro, Bapak Radio Indonesia harus menanggung cacat seumur hidupnya karena memperjuangkan agar pekik proklamasi terdengar diluar negeri? Dan bagaimana beliau diselamatkan oleh Puccini?

Bagaimana juga sang Pahlawan ini menghabiskan sisa hidupnya seolah sebagai seorang pesakitan yang sepertinya tidak lagi bangsa ini menghiraukannya…

Dan sebenarnya.. siapakah yang membawa Secarik Teks Proklamasi yang begitu berharga kepada Jusuf Ronodipuro untuk dibacakan dan seluruh dunia tahu bahwa Indonesia telah merdeka? Des Alwi?

Inilah obrolanku di Chill Out Friday, edisi 22 Agustus 2008 bersama Louisa Tuhatu, wanita yang pernah mendampingi seorang sejarawan besar pada masa masa sebelum akhir hayatnya.

Louisa Tuhatu, berbagi untuk kita, sepenggal sejarah yang sangat berarti tapi mungkin anda belum mengetahui.

Setelah mendengarkan ini… mudah mudahan kita bisa memaknai lebih dalam ” Sekali diudara, tetap di udara…!!”

posted under Cerita | 2 Comments »

In Memoriam, Aki penjual Mie Jawa di Buncit.

Oktober29
My Favourite...

My Favourite...

Bakmi Jawa, salah satu makanan favoritku apalagi yang dimasak asli masih pake arang.
Di Buncit, tepatnya jalan margasatwa sebelah salah satu showroom mobil, dimana kalo siang jadi bengkel, ada salah satu tempat menjual Mie Jawa Favoritku.

Favoritku Mie Rebus, ditambah beberapa potongan cabe rawit, panas, pedas…hmmm…juga secangkir teh poci dengan sedikit gula batu.

Memang sih harus penuh perjuangan nunggunya, karena Aki (Aku memanggil dia Aki, asalnya dari bahasa sunda yang berarti Bapak Tua atau Kakek), lelaki tua yang perawakannya kurus, kulitnya gelap seperti kebanyakan orang jawa, dan sudah mulai kehilangan banyak giginya, harus memasak mie pesanan orang-orang satu persatu. Tapi dia masih kuat memasak 100 mangkuk lebih untuk satu malam. Jangan harap bisa kebagian kalau udah jam 10 malam sampe disini.

Singkat cerita karena intensitas yang lumayan sering, aku jadi sering ngobrol dengan Aki. Bahkan aku pernah iseng memperhatikan Aki masak sambil ku-foto alakadarnya pake kameraphone. Kadang Aki juga makan bersama kita, walau beda meja, karena mungkin dia memang belum makan malam.

Pernah sepulang siaran dan karena macet, hampir jam sebelas aku makan sendirian disini. Alhamdulillah masih kebagian, karena mungkin saat itu hujan, jadi orang males keluar rumah.

Aki cerita bahwa dia kepingin sekali punya gerobak sendiri, katanya sehabis lebaran mudah-mudahan dia punya gerobak jadi bisa jualan sendiri. Aku baru tau teryata Aki statusnya masih kerja sama orang lain. Dia tau persis berapa omset bersih dan kotor dari bisnis ini, engga heran karena Aki yang mengerjakan segala sesuatunya dari mulai belanja bahan baku, meracik bumbu, memasak, sampe terima pembayaran. Sehari hari, Aki cuma dibantu anaknya saja yang lelaki, ada juga seorang lelaki muda, mungkin masih keluarganya juga. Aki juga pernah memperlihatkan kartu nama beberapa orang yang ingin mengajak Aki berbisnis dalam hal ini jualan Mie Jawa. Aki juga cerita kalau dia lagi menabung supaya habis lebaran dia bisa jualan Mie Jawa sendiri di daerah lenteng agung (wah deket tempatku dong, aku udah seneng aja waktu itu). Singkat cerita, beberapa teman sudah kuajak tempat ini atau bahkan cuma kuceritain, sampe akhirnya mereka terbujuk untuk coba Mie Jawa si Aki.

Selepas libur lebaran, aku kangen juga makan masakan Aki.
Tapi, sampai disana aku engga melihat si Aki, apa dia sakit? pikirku… Ada seorang wanita yang belum pernah kulihat sebelumnya, Anak si Aki yang biasanya membuatkan minuman justru yang memasak, juga seorang lagi wanita muda, sepertinya sih teman dekat anak Aki.

Aku langsung tanya soal Aki, karena aku mau ber-minal aidin dengan Aki.
Jawabannya… membuat aku shock…. Aki sudah meninggal dunia…

Sebelum lebaran ketika sedang mencari makan sahur dia dan anaknya menyebrang jalan, seorang lelaki yang mengenderai motor dalam keadaan mabuk dibulan suci telah menabrak Aki, sampai kaki Aki patah! Aki sempat pulang dan berobat di Sukabumi, tapi Allah SWT mungkin memilih Aki untuk istirahat selamanya.. daripada memasak mangkuk demi mangkuk Mie Jawa.. dan berangan untuk punya gerobak sendiri….

Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun… Selamat Jalan Aki..Semoga Tenang disisi-Nya.
Aki… aku belum sempat bertanya, siapa nama panjang Aki..:(

Selamat Jalan Aki..

Selamat Jalan Aki..

posted under Cerita | 2 Comments »

Ya, Saya sudah pernah minum Kopi Luwak

September20

Kalo pernah nonton film Bucket List yang dibintangi oleh Morgan Foreman dan Jack Nicholson (beberapa shootnya bisa liat di Youtube deh) pasti inget banget bahwa kopi luwak ini menjadi perbincangan yang cukup dominan. Ternyata bukan cuma difilm ini kopi luwak sempat muncul, beberapa film sepeerti serial tv lain juga sempat memunculkan kopi luwak ini.

Kopi ini menjadi mahal karena memang cukup sulit didapat, karena mengutip dari wikipedia : Kopi Luwak adalah jenis kopi dari biji kopi yang telah dimakan dan melewati saluran pencernaan binatang bernama luwak. Kemasyhuran kopi ini telah terkenal sampai luar negeri. Bahkan di Amerika Serikat, terdapat kafe atau kedai yang menjual kopi luwak (Civet Coffee) dengan harga yang cukup mahal. Kopi yang dikais dari kotoran luwak ini bisa mencapai harga AS$100 per 450 gram. Hanya saja kebenaran kopi yang dijual adalah benar-benar kopi luwak masih dipertentangkan.

Kemasyhuran kopi ini diyakini karena mitos pada masa lalu, ketika perkebunan kopi dibuka besar-besaran pada masa pemerintahan Hindia Belanda sampai dekade 1950-an, di mana saat itu masih banyak terdapat binatang luwak sejenis musang.

Binatang luwak senang sekali mencari buah buahan yang cukup baik termasuk buah kopi sebagai makanannya. Biji kopi dari buah kopi yang terbaik yang sangat digemari luwak, setelah dimakan dibuang beserta kotorannya, yang sebelumnya difermentasikan dalam perut luwak. Biji kopi seperti ini, pada masa lalu sering diburu para petani kopi, karena diyakini berasal dari biji kopi terbaik dan difermentasikan secara alami. Dan menurut keyakinan, rasa kopi luwak ini memang benar benar berbeda dan spesial dikalangan para penggemar dan penikmat kopi.

Namun binatang Luwak saat ini sekarang sukar untuk ditemukan. Dagingnya yang dipercaya dapat mengobati penyakit Asma membuat hewan ini terus diburu. Disayangkan kenikmatan kopi yang berasal dari memungut biji-biji kopi dari kotoran Luwak hanya tinggal mitos.

“Kopi Luwak” sekarang telah menjadi merek dagang dari sebuah perusahaan kopi. Umumnya, kopi dengan merek ini dapat ditemui di pertokoan atau kafe atau kedai seperti di Mall Atrium di daerah Senen , atau Mall Ciputra, Grogol, Jakarta yang terdapat Cafe “Kopi Luwak”. Namun belum tentu racikan kopi yang dijual disana benar-benar berasal dari Luwak atau tepatnya “kotoran” Luwak.

Mahalnya memang lumayan deh karena satu kilogramnya kalo diluar Indonesia bisa mencapai diatas Rp. 5 juta,-

Dan sebagai warga negara – yang seharusnya berbangga hati dong – dari penghasil kopi ini senangnya dapat kesempatan mencoba kopi ini walaupun waktu minumnya jangan pernah ngebayangin mahalnya ataupun kopi ini berasal dari mananya si luwak ini…

Yang pasti kita diberi 3 jenis kopi dan kita harus meraba raba, mencium cium, merasa rasa, menebak nebak, manakah dari ketiga jenis kopi ini yang merupakan : Kopi Luwak Liar, Kopi Luwak Peternakan dan Kopi Mandheling Grade 1 Export.

Secara saya bukan penikmat kopi sejati, jadi daripada menghitung kancing saya lebih mengutamakan naluri dan insting yang saya punya. Salah satunya mencoba mencium bau dari masing-masing kopi dan mengira-ngira hmm.. si luwak habis makan apa ya… kalo kopinya baunya kayak begini :) )

Hasilnya, bisa jadi saya punya bakat jadi cenayang karena tebakannya adalah benar :)

Rasanya ?… hmm susah dilukiskan dengan kata kata.. yang pasti jauh lebih ‘kopi’ dari yang biasa saya temui.

Misinya adalah membuktikan seputar mitos apakah kopi luwak itu paling enak? 
Yang jelas dari peserta yang datang hanya 3 yang menjawab benar. Sisanya kebanyakan memilih kopi mandheling grade 1 eksport, yang harganya perkilogram hanya sekitar Rp. 50.000,-.

Terima kasih buat Kang Irfan, Mas Adi dari jalan sutera.

Yang seru (dan konyol) dari nonton konsernya Al Jarreau & George Benson. (2)

September16

Berada di deretan kursi pemegang id card ‘press’ udah tentu nyaman dong… mengutip kalimat : posisi menentukan prestasi, jadi wajar kalau teman teman press ini dapat tempat yang strategis. Barisan depan, sudah terisi, jadilah saya ambil tempat agak ke tengah.
Teman teman wartawan yang duduk di sini kelihatannya sih sudah paham banget musik jazz karena pastinya itulah yang membuat mereka ada disini (menurutku lho..).

Saat para musisi memecah keheningan dengan memulai memainkan medley potongan lagu lagu andalan Jarreau dan Benson, seperti Morning, Give Me the Night, We’re in This Love dan saya lupa apalagi, soalnya sudah keburu seneng berarti mau mulai niiihh… Sontak saja mas Agung Wahono, yang kerap dipanggil AW, temanku penyiar, penyair, produser, dan perayu ulung karena suaranya di gila-gilai para wanita di Surabaya, dan juga penikmat musik jazz sejati dari radio Delta Surabaya yang duduk selisih satu kursi dari sebelahku langsung ikut menyanyikan lirik dari lagu lagu itu.. Dan ini menarik perhatian beberapa teman wartawan yang duduk dibarisan depan kami, lantas perbincangan pun dimulai dengan : “ Suka musik jazz ya Mas…?”, Mas AW pun langsung menyahut dengan rentetan cerita soal ini (ya iya lah..penyiar ditanya…. nyerocos deh langsung :p). Ternyata teman wartawan yang bertanya itu berasal dari satu kota dengan mas AW yang juga mewakili salah satu media terkemuka di Jakarta, jadilah kemudian pembicaraan berubah laksana lagi menonton pertandingan sepakbola Persebaya vs Persija.. serasa berada ditengah tengah bonek ha ha ha…..medog bo….!

Lagu pertama yang dikumandangkan (proklamasi kali..) oleh Jarreau adalah Breezin’. Mas AW pun yang hafal mati sama lagu ini (kayaknya ini lagu andalan dia deh kalo karaokean) langsung menyanyi tanpa melewatkan satu penggal lirik pun.. dan disambut dengan pertanyaan dari teman yang baru kenal tadi “Mas ini judul lagunya apa…?”, mas AW-pun menjawab dengan lugas dan mulailah teman – teman itu menulis kebetan dihandphone masing masing bakal nulis liputan nanti. Lagu lain pun dinyanyikan, Your Song, We’re in This Love.. dst.. dst.. dan ternyata pertanyaan “Ini judul lagunya apa mas?” masih berlanjut terussss… Mas AW sih dengan senang hati memberikan penjelasan bukan cuma judul tapi ditambah dengan informasi tambahan seperti yang biasanya terdapat pada detail info di i tunes seperti : lagu ini berasal dari album yang mana, tahun berapa dsb… Wah udah kayak jadi Denny Sakrie dadakan nih :D . Pembicaraan makin seru karena sesekali ditimpali oleh teman wartawan dibarisan belakang kami yang ilmu musik jazz-nya lumayan canggih juga.

Perkara tukar menukar informasi dalam melakukan tugas peliputan adalah hal yang sangaaaaatt wajar dilakukan oleh para press ini dengan tujuan saling menambah info yang bisa mempercantik hasil liputannya nanti. Bahkan dulu waktu masih suka liputan kriminal yang notabene kita harus on time sampe di TKP (tempat kejadian perkara) yang venue-nya engga pernah pake undangan atau press conference–pun kerap kali dilakukan buat reporter yang datengnya telat walopun udah bela-belain naek ojeg buat sampe ke TKP. Musik jazz memang belum tentu disukai oleh teman teman wartawan ini. Tapi kok rasanya aneh juga ya… kalo memang sama sekali engga tau kenapa engga cari tau dulu sebelum nonton. Toh Mas Denny Sakrie beneran yang pegang kamus berjalan soal referensi musik apapun udah menuliskan diforum salah satu situs dan sudah ditambah sebuah saran “ Buat yang mau nonton Al Jarreau dan George Benson, baiknya baca yang ini dulu”, yang isinya ulasan soal album ‘Givin’ it Up’ yang sebenernya sudah dirilis dari tahun 2006 ini bisa didapat dengan mudahnya yaitu dengan sedikit melakukan ritual googling.

Dan pertanyaan yang menurutku paling lucu adalah, pada saat George Benson menyanyikan lagu yang super duper kondang yang membuat hampir seluruh penonton bernyanyi adalah (apa hayoooo… tau enggaaaaaaa…?) yaitu…. : Nothing’s Gonna Change My Love for you…… sambil ikutan nyanyi (karena tau lagunya dong..)..teman baru kami ini berujar..”Oooo…. ini lagunya George Benson tohhh….”… yaolooooo…plis deh mas…………

Untungnya pada saat setelah lagu ini selesai dan dilanjutkan dengan “Greatest Love of All” yang dibawakan dengan sempurna oleh mas Benson, si mas itu engga bilang……”Lho.. ini bukan lagunya Bon Jovi ya…..?”

posted under Cerita | No Comments »

Yang seru dari nonton konsernya Al Jarreau & George Benson. (1)

September16

Beberapa catatan kurang penting yang sempat dilihat di konser dua musisi besar dunia yang sempat terekam kemarin di JCC sabtu kemarin adalah :

Sebelumnya kenapa dibilang kurang penting, karena sebenernya engga ada hubungannya dengan dua musisi itu sendiri, tapi lebih kepada para penikmat musik yang datang menonton konsernya.

Salah satu kelebihan kita kita yang mendapatkan id card sebagai ‘press’ adalah kita bisa dapat posisi yang strategis buat menonton konser itu ataupun mengamati penonton. Dari awal masuk ke lobby JCC, seperti biasa kalau ada perhelatan musik para pemegang id press ini sudah ambil posisi untuk mencari gambar, video, ataupun narasumber yang tentunya bisa mendukung peliputan mereka. Sayapun yang memang punya kebiasaan suka memperhatikan dengan seksama satu persatu orang yang lalu lalang di depan muka (naluri kali yaa..) seolah olah mendapatkan object yang pas banget dilobby JCC ini.

Dua perdua (bukan satu persatu lagi) para penikmat musik jazz (mudah mudahan semua begitu) mulai berdatangan dengan bermacam macam dandanan. Ada yang bergaya casual, cukup dengan jeans dan t-shirt, ada pula yang dressed up -terkesan berlebih juga sih-, gimana engga, ada yang pake sepatu boots kulit coklat tinggi (sempet juga sih dalam hati iseng mau tanya, mbak- mbak.. kudanya diparkir dimana..?), ada juga yang datang bagaikan mau kondangan dengan full make up, aksoseris dan gaun backless dress yang memamerkan keindahan punggungnya, ataupun dress bertali yang cukup sexy dan tentu saja dinikmati oleh banyak lelaki yang sedari tadi matanya sama seperti saya engga bisa tertib. Kitapun bertanya-tanya apakah ada artis pembuka yang akan tampil sebelum konser ini dimulai, rasanya sih dari data yang kami punya engga ada tuh. Ya… sah sah aja kok setiap mau datang dengan penampilan yang bagaimana, mengingat ini adalah event musik jazz yang sering dikategorikan ‘berkelas’. Belum lagi kita pasti bakal ketemu teman, kolega, gebetan, mantan pacar (engga dink yang ini mah) atau syukur syukur kena shoot jadi bisa mejeng di salah satu stasuin TV (halaah engga banget deh yang ini). Tapi, buat orang-orang yang sudah sering menonton event musik yang kerapkali digelar disini, pastinya sudah tau banget kalau air conditioner disini bekerja dengan sangat baik, yang artinya… kalau kita akan berada disalah satu ruangan di JCC ini lebih dari satu jam, engga mungkin aja engga kekamar kecil..(itu sih aku…engga tau kalo yang lain he he), dan kedua, ada satu aksesoris yang haram hukumnya kalo ditinggal alias wajib ketimbang high heel shoes ataupun sepatu boots yaitu : JAKET. Benda yang satu itu ampuh banget mengusir rasa dingin kalo lagi nonton konser selain jamu tolak angin dan makan dulu sebelum nonton konser dong pastinya…(soal jamu tolak angin cair, itu andalannya temanku Mbak Ria, wong ke kekantor aja pasti dibawa kok hehe.. sorry mbak Ria ;) aku juga udah mulai ketularan kok, cuma kemaren aja engga bawa.. stoknya habis)

Konser yang sedianya dimulai jam 9 malam akhirnya mulai juga dengan sedikit ngaret (duh…jakarta time banget ya ☹). Nunggu-nunggu kapan Al Jarreau & George Benson keluar beberapa kali tampak seseorang keluar masuk stage untuk sekedar mengecek kesiapan alat musik yang sudah dipajang sejak kita masuk. Mungkin karena iseng salah satu dari penonton tepuk tangan lantas diikuti dengan tepuk tangan plus disambut keriuhan oleh penonton yang lain. Ngeledek sih maksudnya, soalnya yang bolak balik keluar itu sudah pasti bukan dua musisi yang ditunggu-tunggu, wong badannya aja segede gaban dan berambut gonjes. Yah…lumayan deh buat seru-seruan aja..

Akhirnya para musisi masuk ke-stage dan memulai konser dengan membangkitkan semangat para penonton dengan memainkan medley dari lagu lagu andalan kedua musisi yang bakal segera naik panggung. Nah kalau gimana jalannya konser saya tidak akan tulis disini.. itukan tugasnya wartawan yang ngeliput disana .. kasian dong entar hasil liputannya engga dibaca karena ada disini…

Tapi intinya konser berlangsung mulus selama hampir dua jam deh kita berada di ruangan ber-AC dingin itu. Saya sendiri harus beberapa kali bolak balik ke toilet yang pastinya ketemu dengan para wanita (ya ia lah,,, masa pria, wong toiletnya wanita kok), yang ekspresinya kedingingan sambil menahan pingin pipis. Untungnya karena akses para pemegang id card ‘press’ ini dari kiri bawah, jadi kita punya toilet khusus yang engga terlalu rame. Tidak terasa sudah lewat jam sebelas malam pada saat Al & George (bukan sok akrab nulisnya begitu, tapi memang begitulah kedua musisi itu saling memanggil diatas panggung) menyanyikan potongan lagu …”everytime you go away…” which is artinya ‘Woy penonton…udah lagu terakhir nih……!” (lenong kaleeee..). Sesaat setelah itu sudah pasti seperti layaknya bubaran nonton bioskop, toilet pun diserbu…..

Jaket plus syal yang saya gunakan buat menghangatkan badan dan leher rasanya kurang nendang melawan hawa dingin di plenary hall. Setiap event Java Jazz pun dimana yang datang hitungannya berkali lipat dari konser ini, rasa dingin tetap terasa menusuk. Citra, temanku yang kelupaan membawa jaket (walaupun dia engga pake baju yang terbilang kategorinya kurang bahan) jadi kurang nyaman menikmati konser karena kedinginan, beruntung dia harus keluar beberapa kali buat live report diradio walaupun momentnya salah.. karena pas setiap dia keluar pasti lagu yang lagi ditampilkan adalah lagu andalan ☹. Kebayang.. bagaimana para penonton yang berbaju minim itu.. apakah besok punggung mulusnya harus merah merah karena kerokan? Belum tentu juga sih.. siapa tau mereka memang udah biasa sama dingin –nya AC disana.. kita aja kali yang rada rada katro.. ☺ [kalau kalimat ini dibaca para ABG, pasti di sambung… KITA??? Gw engga tuuh…loe aja kaleeee…]

posted under Cerita | 1 Comment »

H Rosihan Anwar, Kekerasan hati yang tak pernah padam

Agustus13

Jelang 17 agustus 2008, 63 tahun Indonesiaku, aku berkesempatan untuk bertemu dengan Rosihan Anwar, wartawan, sastrawan bahkan budayawan yang telah melalui banyak zaman. Gambaran kekerasan hati itu sudah mulai tampak saat kami mengetuk pintu rumahnya dan beliau langsung mempersilahkan kami untuk memulai sesi wawancara. Beliau sedang kurang sehat saat tu, tepatnya senin 11 Agustus 2008.

Selembar sapu tangan handuk putih beliau pegang dan sesekali digunakan untuk menyeka hidungnya selama wawancara berlangsung. Ada rasa engga PD juga sih waktu ketemu beliau, mengingat nama besar beliau dan banyak sekali hal hal yang sebenernya ada dikepala ingin ditanyakan, tapi kembali lagi ke rumusan komunikasi yang ampuh berdasarkan teori Think On Your Feet yang dipelajari di chill out friday juli lalu ;) Simpel, langsung ke pokok permasalahan dan ketiga harus mengandung unsur persuasif dalam arti relevan dengan orang yang kita ajak bicara jadilah saya bertanya berdasarkan konsep yang sudah disiapkan Citra, produserku itu loh..

Straight to the point, kritis, langsung terkesan dari pertemuan ini. Dari mulai beliau mengomentari alat perekam yang digunakan masa kini yang semakin canggih tapi sering ada kendala jika dibanding zaman dulu yang hanya menggunakan kertas dan pulpen. Kamera pun hanya dimiliki oleh wartawan foto dan merupakan barang yang langka karena harganya cukup mahal.

Cerita dimulai dengan justru pada peristiwa pertempuran di Surabaya sepuluh november dimana beliau ditugaskan turun langsung meliput disurabaya bertemu dengan pejuang di Surabaya. Tentunya tidak ada fasilitas tiket pesawat ataupun hotel yang didapat layaknya wartawan zaman sekarang yang bertugas diluar kota. (rekaman wawancara-nya sudah bisa didengar di bawah lho!)

Bukan karena sikap loyal ke sesama jurnalis yang membuat beliau mendukung penuh usulan Aliansi Jurnalis Independent agar gaji wartawan bisa minimal Rp 4 Juta/bulan tapi karena beliau paham betul bagaimana bisa hidup hanya dengan gaji yang kecil seperti yang masih banyak diterima wartawan saat ini.

Kekecewaan yang mendalam terhadap pemerintah tercermin disetiap jawaban yang dilontarkan pada setiap pertanyaan yang berhubungan dengan apa yang terjadi dengan negeri ini. Beliau hampir tidak pernah menonton tayangan televisi lokal karena tidak ada satupun yang bisa mendidik menurutnya, dan ketika ditanya apakah yang harus dilakukan untuk negeri ini, beliau bilang, jangan salahkan siapapun karena pemerintah yang ada saat ini adalah hasil pilihanmu sendiri (makanya jangan jadi golput coy…. itu namanya ente kaga peduli lagi ame ini negare…), dan peranan keluarga dalam arti orang tua mendidik anak anak saat ini sangat berperan dalam menentukan Indonesia ke depan..(hhwalaahh wong bapak-bapak dan ibu-ibu sekarang dah pada sibuk cari duit terus bukaaannn? ).

Pertemuan kami memang tidak lama karena beliau harus pergi segera, tapi dari balik semua jawaban yang terkesan arogan banyak hal yang membuat saya jadi berfikir bahwa semua orang bisa melakukan yang terbaik untuk negara ini lewat caranya masing-masing, siapapun dirimu…(hhwwah semangat nasionalisme berkobar-kobar nih…) Bagaimanapun juga H Rosihan Anwar adalah tokoh besar yang telah memberikan yang terbaik dari seluruh hidupnya untuk bangsa ini dan beliau adalah saksi sejarah, yang saat ini tidak banyak yang bisa kita temui lagi. Dibalik semua komentarnya yang seringkali membuat dada ini terhentak, beliau tetap mengungkapkan kecintaannya terhadap negeri ini, dengan mengucap Dirgahayu Republik Indonesia….! Adalah kesempatan yang sangat berharga buatku bisa bertemu beliau tahun ini..!

Tapi yang paling menarik adalah komentar beliau soal para artis yang lagi getol mencalonkan diri untuk berkiprah didunia politik, Beliau benar-benar ‘anti’ dengan hal ini, bahkan menganggapnya ini bagai sebuah dagelan dan berkomentar agar mereka berkaca diri lah… Wong dia sendiri saja menolak untuk dijadikan duta besar Indonesia untuk Vietnam pada era Pak Harto jadi presiden seperti yang ditulisnya untuk Kilas Balik Presiden Suharto :

H Rosihan Anwar

H Rosihan Anwar

Tahun 1970, saat Presiden Soeharto mengunjungi Amerika Serikat atas undangan
Presiden Nixon, saya sebagai Pemimpin Redaksi Pedoman ikut rombongannya, begitu juga Pemred Kompas Jakob Oetama. Begitu naik pesawat di Bandara Kemayoran, anggota pers ditemui Soeharto yang didampingi Letkol Sudarmono dan Kapten Murdiono. Itu pertemuan saya ketiga dengan Soeharto. Dia masih tidak banyak bicara.

Saat terbang di atas Pasifik di waktu malam, Ny Tien Soeharto datang duduk di
samping saya. Dia bertanya, “Mengapa kok tidak membantu pemerintah dan Pak Harto?” Saya jawab sambil berfilsafat seperti orang Jawa, “Begini Bu, kita di dunia ini punya lakon masing-masing yang mesti dijalani. Lakon saya di dunia pers, Pak Harto di dunia pemerintah. Jadi melu lakone wae (mengikuti perannya saja), Bu.”

Ini hasil rekaman wawancaraku dengan beliau: Rosihan Anwar Cut 1

Pada cut selanjutnya beliau berpendapat soal kebebasan pers, Simak komentar pedasnya perihal tayangan televisi saat ini, temukan jawabannya disini : Rosihan Anwar Cut 2

Apakah Indonesia saat ini sudah sedemikian terpuruk? apa yang seharusnya kita lakukan? Rosihan Anwar Cut 3

Mudah-mudahan ini bisa jadi renungan untuk kita…

Merdeka!

posted under Cerita | 6 Comments »
« Older Entries