SepotongKue.com

Sepotong Kue, Secangkir Kopi, Alunan Musik dan Sebuah Cerita

Studio dan Kamar Mayat

Oktober29

Sekali di Udara, Tetap di Udara.

Mungkin kata itu anda kenal sebagai semboyan RRI. Buat anda mungkin itu adalah slogan semata, buat kami orang-orang yang berkecimpung di dunia radio mungkin kami memaknainya sedikit lebih dalam. Tapi apakah anda tahu darimana dan bagaimana semboyan itu bisa ada. Siapakah yang pemekik semboyan itu? apakah ada hubungannya dengan Teks Proklamasi yang sekarang kita dengar di monas dan beredar dimana mana itu terasa begitu senyap, tidak ada kobaran semangat Bung Karno yang berapi-api…

Siapakah Dokter Karbol? Bagaimana rasanya siaran didekat kamar mayat yang setiap pulang siaran harus merendam pakaian selama 7 hari, baru bau nya hilang?

Bagaimana seorang Jusuf Ronodipuro, Bapak Radio Indonesia harus menanggung cacat seumur hidupnya karena memperjuangkan agar pekik proklamasi terdengar diluar negeri? Dan bagaimana beliau diselamatkan oleh Puccini?

Bagaimana juga sang Pahlawan ini menghabiskan sisa hidupnya seolah sebagai seorang pesakitan yang sepertinya tidak lagi bangsa ini menghiraukannya…

Dan sebenarnya.. siapakah yang membawa Secarik Teks Proklamasi yang begitu berharga kepada Jusuf Ronodipuro untuk dibacakan dan seluruh dunia tahu bahwa Indonesia telah merdeka? Des Alwi?

Inilah obrolanku di Chill Out Friday, edisi 22 Agustus 2008 bersama Louisa Tuhatu, wanita yang pernah mendampingi seorang sejarawan besar pada masa masa sebelum akhir hayatnya.

Louisa Tuhatu, berbagi untuk kita, sepenggal sejarah yang sangat berarti tapi mungkin anda belum mengetahui.

Setelah mendengarkan ini… mudah mudahan kita bisa memaknai lebih dalam ” Sekali diudara, tetap di udara…!!”

posted under Cerita | 2 Comments »

In Memoriam, Aki penjual Mie Jawa di Buncit.

Oktober29
My Favourite...

My Favourite...

Bakmi Jawa, salah satu makanan favoritku apalagi yang dimasak asli masih pake arang.
Di Buncit, tepatnya jalan margasatwa sebelah salah satu showroom mobil, dimana kalo siang jadi bengkel, ada salah satu tempat menjual Mie Jawa Favoritku.

Favoritku Mie Rebus, ditambah beberapa potongan cabe rawit, panas, pedas…hmmm…juga secangkir teh poci dengan sedikit gula batu.

Memang sih harus penuh perjuangan nunggunya, karena Aki (Aku memanggil dia Aki, asalnya dari bahasa sunda yang berarti Bapak Tua atau Kakek), lelaki tua yang perawakannya kurus, kulitnya gelap seperti kebanyakan orang jawa, dan sudah mulai kehilangan banyak giginya, harus memasak mie pesanan orang-orang satu persatu. Tapi dia masih kuat memasak 100 mangkuk lebih untuk satu malam. Jangan harap bisa kebagian kalau udah jam 10 malam sampe disini.

Singkat cerita karena intensitas yang lumayan sering, aku jadi sering ngobrol dengan Aki. Bahkan aku pernah iseng memperhatikan Aki masak sambil ku-foto alakadarnya pake kameraphone. Kadang Aki juga makan bersama kita, walau beda meja, karena mungkin dia memang belum makan malam.

Pernah sepulang siaran dan karena macet, hampir jam sebelas aku makan sendirian disini. Alhamdulillah masih kebagian, karena mungkin saat itu hujan, jadi orang males keluar rumah.

Aki cerita bahwa dia kepingin sekali punya gerobak sendiri, katanya sehabis lebaran mudah-mudahan dia punya gerobak jadi bisa jualan sendiri. Aku baru tau teryata Aki statusnya masih kerja sama orang lain. Dia tau persis berapa omset bersih dan kotor dari bisnis ini, engga heran karena Aki yang mengerjakan segala sesuatunya dari mulai belanja bahan baku, meracik bumbu, memasak, sampe terima pembayaran. Sehari hari, Aki cuma dibantu anaknya saja yang lelaki, ada juga seorang lelaki muda, mungkin masih keluarganya juga. Aki juga pernah memperlihatkan kartu nama beberapa orang yang ingin mengajak Aki berbisnis dalam hal ini jualan Mie Jawa. Aki juga cerita kalau dia lagi menabung supaya habis lebaran dia bisa jualan Mie Jawa sendiri di daerah lenteng agung (wah deket tempatku dong, aku udah seneng aja waktu itu). Singkat cerita, beberapa teman sudah kuajak tempat ini atau bahkan cuma kuceritain, sampe akhirnya mereka terbujuk untuk coba Mie Jawa si Aki.

Selepas libur lebaran, aku kangen juga makan masakan Aki.
Tapi, sampai disana aku engga melihat si Aki, apa dia sakit? pikirku… Ada seorang wanita yang belum pernah kulihat sebelumnya, Anak si Aki yang biasanya membuatkan minuman justru yang memasak, juga seorang lagi wanita muda, sepertinya sih teman dekat anak Aki.

Aku langsung tanya soal Aki, karena aku mau ber-minal aidin dengan Aki.
Jawabannya… membuat aku shock…. Aki sudah meninggal dunia…

Sebelum lebaran ketika sedang mencari makan sahur dia dan anaknya menyebrang jalan, seorang lelaki yang mengenderai motor dalam keadaan mabuk dibulan suci telah menabrak Aki, sampai kaki Aki patah! Aki sempat pulang dan berobat di Sukabumi, tapi Allah SWT mungkin memilih Aki untuk istirahat selamanya.. daripada memasak mangkuk demi mangkuk Mie Jawa.. dan berangan untuk punya gerobak sendiri….

Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun… Selamat Jalan Aki..Semoga Tenang disisi-Nya.
Aki… aku belum sempat bertanya, siapa nama panjang Aki..:(

Selamat Jalan Aki..

Selamat Jalan Aki..

posted under Cerita | 2 Comments »