Studio dan Kamar Mayat

Sekali di Udara, Tetap di Udara.

Mungkin kata itu anda kenal sebagai semboyan RRI. Buat anda mungkin itu adalah slogan semata, buat kami orang-orang yang berkecimpung di dunia radio mungkin kami memaknainya sedikit lebih dalam. Tapi apakah anda tahu darimana dan bagaimana semboyan itu bisa ada. Siapakah yang pemekik semboyan itu? apakah ada hubungannya dengan Teks Proklamasi yang sekarang kita dengar di monas dan beredar dimana mana itu terasa begitu senyap, tidak ada kobaran semangat Bung Karno yang berapi-api…

Siapakah Dokter Karbol? Bagaimana rasanya siaran didekat kamar mayat yang setiap pulang siaran harus merendam pakaian selama 7 hari, baru bau nya hilang?

Bagaimana seorang Jusuf Ronodipuro, Bapak Radio Indonesia harus menanggung cacat seumur hidupnya karena memperjuangkan agar pekik proklamasi terdengar diluar negeri? Dan bagaimana beliau diselamatkan oleh Puccini?

Bagaimana juga sang Pahlawan ini menghabiskan sisa hidupnya seolah sebagai seorang pesakitan yang sepertinya tidak lagi bangsa ini menghiraukannya…

Dan sebenarnya.. siapakah yang membawa Secarik Teks Proklamasi yang begitu berharga kepada Jusuf Ronodipuro untuk dibacakan dan seluruh dunia tahu bahwa Indonesia telah merdeka? Des Alwi?

Inilah obrolanku di Chill Out Friday, edisi 22 Agustus 2008 bersama Louisa Tuhatu, wanita yang pernah mendampingi seorang sejarawan besar pada masa masa sebelum akhir hayatnya.

Louisa Tuhatu, berbagi untuk kita, sepenggal sejarah yang sangat berarti tapi mungkin anda belum mengetahui.

Louisa Tuhatu

Setelah mendengarkan ini… mudah mudahan kita bisa memaknai lebih dalam ” Sekali diudara, tetap di udara…!!”

2 comments

Tinggalkan Balasan


- 5 = one