Surat Untuk Anakku

Surat untuk putriku, Ardhanareswari.

Anakku, entah kenapa aku ingin menamaimu Ardhanareswari. Dari buku buku yang aku baca soal jaman majapahit, konon Ardhanareswari berarti tetesan Dewi, wanita yang akan menjadi ratu, perempuan cantik dan mulia yang akan menurunkan raja raja, konon Ken Dedes itu juga titisan Ardhanareswari.

Apakah engkau perempuan? Aku tidak tahu, karena usiamu baru 11 minggu dalam kandunganku. Tapi sebagai ibu aku punya feeling engkau adalah perempuan. Lantas siapa nama depan, nama panggilan, atau nama akhirmu? Aku juga belum tau, biasanya dalam keluarga besar kita ada tradisi menamakan anak perempuan dengan nama bunga, jika lelaki maka ada nama wayang, seperti kakakmu, Rayhan Galih Kamajaya.

Anakku, 27 Juni 2011 tepat dua hari sebelum ulang tahunku, aku baru mengetahui kalau aku hamil. Sehari sebelumnya Mbok Lastri pemijat langgananku datang karena aku merasa tak enak badan, dia bilang sepertinya aku hamil karena dalam perutku terasa ada sesuatu. Akupun esoknya bergegas ke dokter untuk memastikan kehadiranmu, dan hasilnya Dokterpun kagum akan kecanggihan mbok Lastri meraba kehadiranmu. Ya test pack sebelumnya juga mengatakan aku positif. Tentunya aku senang, walaupun aku sedang mengagendakan sesuatu di tahun ini yang sekiranya agak berat dijalankan jika aku mengandung. Akupun bertanya ke Dokter soal rencana itu, Dokter mengatakan jika itu sudah menjadi niat, jalankanlah… Allah mengatur semua.

Minggu depannya aku kembali menemui Dokter, aku yakin akan apa yang sudah digariskan, kami ingin engkau ada dalam kehidupan kami sebagaimana mestinya. Semenjak itu hari demi hari aku lalui dengan berjuta rasa. Ya.. mual, muntah, pusing, lemas adalah keseharianku. Tapi aku tak ingin menyerah, aku berusaha kekantor untuk tetap menjalankan profesiku, walau terasa sangat berat, karena setiap lepas jam 6 sore badanku lemas, sementara aku harus siaran jam 4 sore-9 malam.

Anakku, teman teman, rekan kerja semua membantuku, aku diperbolehkan pulang lebih cepat. Hari hari aku lalui hanya ke kantor saja, tak ada tujuan lain. Akhir pekanpun aku memilih tertidur dikamar, tidak ingin kemana mana.

Aku sangat sensitif dengan bau atau wangi. Aku mulai membenahi ibadahku, ingin rasanya aku curhat kepada Allah setiap saat.

11 Juli 2011

Aku terkesima mendengar detak jantung atau apapun itu yg berasal dari alat USG yang speakernya diaktifkan. Dokter bilang kamu sehat, baik. Akupun senang. Walaupun hari kulalui semakin berat, 12 kali muntah dalam sehari aku alami, ulu hatiku terasa terbakar aku nikmati. Tekanan darahku yang senantiasa rendah pun aku telan, pusing, lelah sudah jadi bagian hariku. Tapi aku senang, aku akan menimangmu, menyusuimu nanti.

Mulailah aku bertanya-tanya, mencari info soal pemberian ASI eksklusif yg dulu belum kulakukan dengan benar untuk kakakmu. Mencari informasi, dan bahkan sahabatku mengirimkan buku soal kehamilan yg luar biasa, terimakasih Tante Adenita. Dan malam malamku pun penuh dengan mimpi yang berbagai macam, khas mimpi yg dilalui ibu hamil.

Ah semakin berat nafasku menjalankan hari, karena aku tidaklah berpostur tinggi semampai, jadi kehadiran engkau yang masih sangat kecil beserta rumahmu diperutku kerap membuatku terengah-engah. Tapi aku bahagia, aku pasrah dengan apapun yang akan terjadi.

8 Agustus 2011

Entah kenapa minggu lalu perutku memang rasanya tak bersahabat, konstipasi yang memang wajar untuk ibu hamil membuat ku agak kerepotan. Seminggu terakhir aku rasanya selalu emosi. Hari ini aku meminta izin untuk ke Dokter karena gangguan BAB yang aku rasa sejak minggu lalu. Memang ini tanggal yang tepat untuk mengontrol kandunganku. Hari ini aku memutuskan datang lebih cepat ke rumah sakit.

Dan semuanya bermulai saat Dokter memeriksamu via alat USG, air mukanya terlihat tegang, krn tidak bisa melihatmu dengan jelas dengan alat yg ditempel ke perut. Dokter meminta izin melihat lebih dalam, dan dia kaget, karena kamu tidak menunjukan perkembangan, konon kamu hanya sebesar janin 9 minggu, bukan 11, itu pertanda buruk. Terlebih lagi tidak ada warna merah atau biru yg menjadi indikator adanya kehidupan disitu……..

Ya…. Dokter bilang kamu sudah pergi. Kamu tidak bisa ada dirahimku lagi.

Maafkan aku anakku, aku sedih, kakakmu pun yang semula semangat ingin melihat fotomu, matanyapun berkaca-kaca saat aku jelaskan kamu sudah pergi.

Ah.. sulit rasanya menjelaskan apa perasaanku. Aku hanya ingin kau tau… kami mencintaimu amat sangat walau engkau hanya berusia 11 minggu. Kami yakin seandainya engkau terus ada kau pasti secantik dewi. Biar bagaimanapun engkau tetap bagian dari kami.

Maafkan aku anakku, jikalau aku tidak merawatmu sebagaimana kau mau. Maafkan aku apabila doa doa yang ku ucap setiap saat belum bisa melindungimu atau membuatmu merasa lebih baik.

Maafkan aku jikalau ada sesuatu yang kulakukan dan membuatmu bersedih atau terluka, Maafkan aku…

Besok aku harus merelakan kepergianmu dari rahimku. Tak akan kurasa lagi getar halus dari dalam perutku, rasa mual yang hebat, pusing yang tak bisa kuhalau, atau lemah tak berdaya yang tak mampu aku lawan, tapi aku akan sangat sangat kehilangan.

Anakku, Allah pasti memiliki rencana lain untukmu, untukku, juga untuk kami semua yang bahagia saat mendengar kabarmu bulan Juni lalu.

Anakku Ardhanareswari, kamu selalu aku belai, kecup, dekap setiap saat. Bukan berarti jika engkau tak ada lagi disini aku tidak melakukan itu lagi, aku akan tetap melakukannya lewat doaku… dan aku sudah memulainya dengan untaian surat Yassin yang aku selesaikan sebelum aku menulis surat ini.

Selamat Jalan Anakku, Kamu pergi di bulan Ramadhan, Bulan penuh berkah, penuh rahmat, penuh ampunan, dan hanya Allah yang tahu apa makna kepergianmu, aku ikhlas Nak…. Inna Lillahi Wa Inna Illaihi Rajiun.

Kami selalu mencintaimu…

Ibu, Kakak dan Ayah.

00.14. 9 Agustus 2011

4 comments

Tinggalkan Balasan


8 + eight =