Nidji dulu, Nidji sekarang, Nidji di Karnaval Mandiri

Nidji

Nidji

7 Oktober 2012, siang hari saat memasuki area parkir timur senayan hingar bingar suara musik sudah terdengar dari kejauhan. Saya kenal betul vokal dari sang penyanyi, yang tentu juga disambut dengan riuh rendah penonton yang sebagian dari mereka yang menyebut dirinya “Nidjiholic”

Ya, Nidji hadir meramaikan ulang tahun Bank Mandiri ke 14 di event Karnaval Nusantara. Giring, sang vokalis memang tidak pernah kehilangan aura “star”-nya dari tahun ke tahun. Saya sendiri mengenal Nidji saat masih bekerja diperusahaan, digital entertainment yang juga content provider di tahun 2006. Saat itu perusahaan tempat saya bekerja dipercaya oleh Musica Studio, Label yang menaungi Nidji untuk bekerja sama menjual produk mobile content dari Nidji . Saat itu bisnis mobile content sedang berkembang pesat di Indonesia.
Tidak mudah menjalin kerjasama dengan salah satu label besar seperti Musica Studio, dan saat itu kamilah yang pertama.

Nidji saat itu baru akan merilis album pertama mereka yang berjudul “Breakthru”. Saat itu belum banyak pihak yang percaya akan kesuksesan Nidji, kami sempat menawarkan ke salah satu perusahaan produsen gadget yang sedang mencari duta untuk produknya, dan kami memperkenalkan mereka ke Nidji, tapi mereka menolak ☺.

Karena salah satu tugas kami adalah membuatkan mini website untuk Nidji, kami sempat mengundang Nidji Band, utk datang ke kantor dan ‘manggung’ di koridor kantor kami yang saat itu lokasinya di Cyber Bulding, Jakarta.
Semua personil Nidji hadir tepat waktu, berkumpul di meeting room sebelum persiapan manggung seadanya di kantor kami. Sayup sayup kami mendengar suara gitar yang dan lirik lagu “Bila Aku Jatuh Cinta” oleh beberapa personil Nidji yang sedang ‘nongkrong’ santai di karpet depan meeting room.
Giring, sang vokalis yang khas dengan rambut keritingnya, melepas blazer kemudian memakai lagi sambil melakukan sedikit pemanasan vokal. Sayapun bertanya apakah dia merasa gugup atau nervous, dia mengaku sesekali masih suka nervous sebelum manggung, walaupun mereka sudah sering manggung di panggung-panggung indie band.

Singkat cerita pementasan alakadarnya di koridor kantor kamipun berjalan lancar. Kami terpesona oleh vokal Giring yang ‘bening’, yang jarang rasanya ditemukan dari band band Indonesia yang sekarang pun mungkin sudah dalam kategori band yang sudah terkenal.

Selepas itu hubungan kami dan Nidji secara profesi berjalan dengan baik. Saya sempat menghadiri acara tumpengan sederhana di markas mereka dikawasan perdatam untuk selamatan ulang tahun, ataupun diundang pihak Musica untuk hadir diacara acara yang berhubungan dengan artis yang dinaungi mereka.
Penampilan Nidji diacara Karnaval Mandiri tentunya jauh lebih matang ketimbang saat pertama kali saya mengenal mereka.

Siang itu saya melambaikan tangan kemereka karena saya berdiri tidak jauh dari panggung, Randy sang keyboardist dan Giring membalas lambaian saya, saya pikir itu adalah cara mereka menghargai para Nidjiholic, karena mereka memang dikenal sangat ramah kepada para penggemar, bukan karena mereka masih mengingat saya.
Selesai acara, karena siGanteng anakku ingin berfoto saya mendekat ke sisi panggung, saya kaget karena ternyata Randy masih mengenal saya dan langsung mengajak utk berfoto di belakang panggung tempat mereka beristirahat karena petugas keamanannya cukup galak saat itu.

Jadilah saya dan siGanteng berfoto dengan leluasa disana, sayapun kaget karena Andro, sang bassist juga masih bisa mengenal dan menyebut nama saya dengan benar, karena tentulah Nidji yang sekarang bukanlah Nidji yang dulu yang masih suka nervous saat mau manggung dan mereka sudah dikenal bukan hanya di Negara ini.
Keramahan para personilnya, sepi dari gossip yang aneh anah, aksi panggung yang memukau, vokal Giring yang tidak jauh berbeda dari hasil rekamanpun menjadi nilai plus.

Siang itu menjadi sempurna karena hanya berbekal e toll card saya bisa menikmati banyak pilihan makan siang yang harganya di discount hingga 50%!
Dari mulai es Justmine Pisang Ijo, Kedai Kak Ani, Baso Kota Cak Man, Burger Aussy, Mpek Mpek Abing, Javapuccino, karya dari para entrepreneur kuliner jebolan wirasaha Mandiri, dinikmati dengan potongan harga sambil menikmati aksi three on three di area basket. Asal bersabar, bisa deh menikmati semua jajanan disana dengan harga yang fantastis.

Saya bisa kenyang membeli Burger Aussy, tiga porsi, membawa pulang 3 bungkus abon Rani, minuman dingin sampai kembung, dan beberapa cemilan lain, tidak lebih dari Rp. 120.000,- saja.
Sayapun pulang sebelum bisa menikmati aksi Maliq & d’Essentials yang jadi aksi pamungkas, sayang banget memang, tapi yah apa mau dikata harus segera pulang untuk persiapan hari senin, nasib pekerja diJakarta ☺

Tapi sehari sebelumnya saya puas mengelilingi area JCC karena digelar juga Pasar Nusantara dimata sejauh mata memandang ada rasa bangga bahwa banyak hasil hasil karya anak negeri yang indah bahkan dibanderol dengan harga tinggi karena memang sudah selayaknya kita menghargai produk produk negeri sendiri.

Selamat Ulang Tahun Bank Mandiri, semoga perhelatan ulang tahun dari tahun ke tahun bisa terus menginsiprasi dan menambah kecintaan pada negeri ini.

Tinggalkan Balasan


- 3 = six