live, laugh, love @SepotongKue #pasarsanta

choux @abcd_coffee

Satu hari Intan @badutromantis mengirimkan pesan via whatsapp,
“Mbak, Jual sus kamu dong diwarung aku..”
“Dimana?”
“Pasar santa, tapi bukanya dua kali seminggu ☺”
“Lha…kok bisa?”
“Aku telepon yaaa..”

PicsArt_1404664295339

Jadilah kami bertelepon dan saya dapat keterangan kenapa di Pasar Santa hanya buka dua kali seminggu waktu itu. Sayapun untuk pertama kalinya melihat @substore_ kios yang menjual vinyl, kaos dan jeans unik yang ada di santa milik Intan dan Aria yang saat itu masih pacaran belum menjadi suami-istri :)

Singkat cerita sampailah sus buah krim diplomat saya ke @abcd_coffee sebuah sekolah kopi yang dimotori Barista luar biasa handal dan mendunia, Mas Ve dan Mas Hendrik. Setiap saya bawa kesana, selalu habis. Memang saya engga bawa banyak, karena semuanya harus dibuat fresh dan kadangkala saya buatnya sekalian dengan pesanan teman yang sudah order duluan.

Sesekali saya membawa ice cream yang saya buat dirumah sebagai test food, sekaligus mencari tau respon dari siapa saja yang hadir disana.

Disinilah saya berkenalan lebih jauh dengan Pasar Santa, yang dulunya hanya saya tahu satu kalimat : Sate Padang Ajo Ramon.

Hanya dua toko yang sudah buka saat itu dilantai atas Pasar Santa, @Substore_ dan Sekolah Kopi A Bunch Of Caffeine Dealer atau @abcd_coffee ini. Diujung sana ada @Laid Back Blues Record Store yang juga sudah siap memulai perjalanannya. Sesekali saya melihat Bang Levi yang sibuk me-roasting kopi di sudut salah satu kios di pasar ini Orkide Coffe

Sisanya hanya lorong kosong gelap dan kumuh, yang sekitar tujuh tahun mati hampir tak berpenghuni, rasanya ngeri untuk dijelajahi di malam hari. Sampai sayapun harus menahan pipis setiap kesana, karena belum berani masuk ke dalam toiletnya yang ternyata tidak seburuk yang saya bayangkan sebelumnya.

Saat ramadhan saya dan keponakan saya Puput yang masuk di 8 besar Junior MasterChef season 1 ikutan charity, menjual kue disana, dimana semua hasil penjualan kami donasikan untuk anak anak pasar Santa yang kurang beruntung.

Puput

Dari setiap perbincangan dengan orang orang yang saya temui saya menemukan banyak hal , saya juga ketemu dengan @okaoke yang akhirnya membuka warung mie karet @miechino. Waktu itu dia baru pulang dari sekolahnya di Melbourne dan sempet nyicip kue sus andalan. Dia pun mengajak saya seperti yang Intan ajak sebelumnya, Yuk, kita buka disini.

Hm… kenapa engga, harga sewa masih terjangkau, tempat masih banyak yang kosong… tanpa buang waktu saya cari Pak Bambang sang kepala pasar, dan… jadilah saya merenda impian lama, untuk punya warung kecil yang dulu saya tak pernah bayangkan ada dimana letaknya.

Pasar? Warung? Ih, kok mau… di lantai atas sana masih kotor dan gelap gulita. Nyamuknya banyak, dan hffft…. Komentar miring saya dengar dari beberapa kerabat yang pernah saya ajak diskusi. Mungkin mereka belum merasakan aura positif dari teman teman yang datang ke sana, orang orang yang terpanggil untuk melakukan sesuatu untuk pasar ini, orang orang yang membutuhkan ruang untuk kreatifitas mereka, para start up yang masih harus mempertimbangkan banyak hal jika memulai usaha mereka di tempat yang sewanya belasan digit.

Barang barang property bazaar kemarin yang berserakan dirumah mulai saya kumpulkan untuk dibawa ke pasar santa. Gambar design warung mulai dicorat coret, dan Mbak Tini dan Mas Adnan sahabat saya pun ikut repot mempersiapkan warung sambil mereka ikut buka disebelah saya, ADDA, tempat kaos kaos band keren keren dan hasil jahitan tangan Mbak Tini berupa tas tas lucu dan untuk disiapkan untuk dipamerkan disana.

Rencana buka warung setelah lebaran pun harus bergeser karena persoalan tukang yang mudik dan tukang yang sulit dicari. Saat memulai pun harus bermasalah dengan tukang yang memang saya engga kenal, sembarang ambil karena pengen cepat selesai.

kios ku

Beberapa sahabat sudah tau rencana saya soal warung ini akhirnya memberikan deadline, jumat 19 November tiba tiba Mbak @UniLubis bilang kepingin ngumpul dipasar bareng teman teman lain.

“Ni, kamu bikin nasi sama urap aja, nanti kita bawain lauk pauknya… pot luck-an deh” Begitu kata Mbak Uni.

Ya engga tega rasanya kalau cuma buat urap, tumpeng dan kerupuk, jadilah saya buat sambel goreng ati juga.

Sore itu mulailah teman teman berdatangan, Mbak Uni dengan masakan udang andalannya, Eny Firsa dengan tumis jambal pedas andalan, Mbak Djuni Soehardjo dengan tahu pedas yang luar biasa banyak dan pedas, Mbak Ventura Elisawati dengan pepes dan kerupuk, Minus Mbak Febry Meuthia yang ngga bisa datang hari itu, tapi ada Nadya Kamka dengan kue lapis Surabaya coklatnya dan Rara dan Mbak Ochand adik Mbak Uni juga! .. dan voila…. Warung yang belum sempurna itu tetiba menjadi full dan penuh makanan!

Sahabat sejak SMP Winie dan Dewi pun hadir sejak sore sambil tak bosan berkeliling pasar mencari tau apa yang baru. Mas Nukman, Mbak Ira, Mamah Wiwiek pun sempat mampir walaupun hanya sebentar.

tumpengan

Tumpeng keroyokan pun dipotong, sedikit kata pengantar dari Mbak Uni seolah membuat semua jerih payahku resmi dimulai. Bukan Soft Opening, apalagi Grand Opening, tapi ketulusan dari para sahabat yang tidak henti hentinya memberi dukungan.

Sesungguhnya saya terharu biru melihat kehadiran teman teman yang jauh lebih bersemangat melihat warung impian ini dimulai, merasakan supportnya yang rasanya sepadan dengan rasa capek mencari properti warung, membuat menu, test food tiada henti, ah entah bagaimana cara saya berterimakasih atas semua kebahagiaan ini.. biarlah Allah SWT yang membalas semua kebaikan sahabat semua.

:)

Sejak hari itu, mulai resmilah saya jadi #anakpasar yang membuka gembok rolling door kios di upper floor #119, menyapu dan mengepel kiosnya, menyiapkan dagangan, hingga merapikan semua sampah, mencuci semua alat yang digunakan, menyapu dan mengepel lagi dan menutup rolling door dan menggemboknya lagi. Sayapun mulai akrab dengan siapa saja yang ada dipasar setiap harinya, mulai dari abang parkir, pengurus pasar, cleaning service hingga penjaga toilet.

from Mbak Uni

Sejuta cerita penuh warna saya temui dari hari kehari, bertemu teman teman baik, sahabat baru, menjadi rangkaian hari yang selalu indah untuk dijalani walaupun lelah terasa setiap malamnya. Tentu saja dengan perubahan drastis yang terjadi di Pasar Santa dari hari ke hari, semakin banyak hal yang saya dapat, bukan soal materi tapi pengalaman hati yang pasti nanti akan saya bagi :)

5 comments

  1. Percha says:

    wah inspiratif mba ceritanya, saya pas kuliah dulu sempat buka kios kecil-kecila, sebenarnya bukan “kios” sih mba, tapi terpatnyacuma lemari cabinet kaca dan sebuah kursi. namun lambat laun pun saya silau dan menjadi pekerja kantoran saja.

    wah kapan-kapan saya mampir dan nyicipin makanannya ya mba. semoga lancarjaya untuk usahanya :)

  2. Raynia says:

    wah @Percha harus dimulai lagi dong… memang bakal capek banget.. tapi kepuasannya beda. ditunggu mampir di warung aku ya.. terimakasih dan sukses juga buat kamu :)

  3. wenny says:

    Wah ,terharu bacanya mbak. Saya juga masih menyusun mimpi pny toko kue. Selama ini cuma home baker aja. Kkalo ke jakarta aku mampir ah. salam kenal ya mbak ^o^

Tinggalkan Balasan


+ four = 8