My 1st Japanase Cheese Cake

I was opened up my refrigerator last nite, and oops.. I found cheese cream which almost expired. Hm.. mau dibikin apa ya… ada jeruk lemon, whipped cream (sayangnya bukan Baker Mix, secara susah banget ya cari merk itu ☹ ) dan selai apricot yang waktu itu beli di Titan dan belum sempet di-apa2 in., jadi teringat sama satu cheese cake yang lembut dan yummy banget.. dulu sih ada yang di Singapore yang .. hmm lupa apa merknya, sekarang sih udah ada di mall taman anggrek kayaknya…

Buka buka kotak Pandora, dapet deh resep dari milis NCC, tapi..wah harus pake loyang bong-pas (bongkar pasang), sementara loyang bongpas ku diameternya bukan 22 cm seperti yang di resep… baca baca lagi..ternyata my beloved friend – dan suhu terbaik aku – almh Ruri pernah nulis di blognya, kalo ternyata Japanese cotton cake ini ternyata bisa dibalik… ( thanks a lot Mbak Ruri, I’m sure you already in heaven now!)

Yah…. secara ritual jenis cheese cake beginian` harus di au bain marie alias di tim, dan si otang (Oven Tangkring) tercintaku (yang usianya as old as my Grand Mom) engga gede2 amat ukurannya, butuh a lot of efforts to make this cake yang tadinya cuma ada dikhayalan gw beberapa hari ini, come true…Ga takut sama “Kutukan Japanese Cheese Cake” yang selalu dateng ke para pemula..???….. yaaah.. sapa takuuuutt! Continue reading →

Studio dan Kamar Mayat

Sekali di Udara, Tetap di Udara.

Mungkin kata itu anda kenal sebagai semboyan RRI. Buat anda mungkin itu adalah slogan semata, buat kami orang-orang yang berkecimpung di dunia radio mungkin kami memaknainya sedikit lebih dalam. Tapi apakah anda tahu darimana dan bagaimana semboyan itu bisa ada. Siapakah yang pemekik semboyan itu? apakah ada hubungannya dengan Teks Proklamasi yang sekarang kita dengar di monas dan beredar dimana mana itu terasa begitu senyap, tidak ada kobaran semangat Bung Karno yang berapi-api…

Siapakah Dokter Karbol? Bagaimana rasanya siaran didekat kamar mayat yang setiap pulang siaran harus merendam pakaian selama 7 hari, baru bau nya hilang?

Bagaimana seorang Jusuf Ronodipuro, Bapak Radio Indonesia harus menanggung cacat seumur hidupnya karena memperjuangkan agar pekik proklamasi terdengar diluar negeri? Dan bagaimana beliau diselamatkan oleh Puccini?

Bagaimana juga sang Pahlawan ini menghabiskan sisa hidupnya seolah sebagai seorang pesakitan yang sepertinya tidak lagi bangsa ini menghiraukannya…

Dan sebenarnya.. siapakah yang membawa Secarik Teks Proklamasi yang begitu berharga kepada Jusuf Ronodipuro untuk dibacakan dan seluruh dunia tahu bahwa Indonesia telah merdeka? Des Alwi?

Inilah obrolanku di Chill Out Friday, edisi 22 Agustus 2008 bersama Louisa Tuhatu, wanita yang pernah mendampingi seorang sejarawan besar pada masa masa sebelum akhir hayatnya.

Louisa Tuhatu, berbagi untuk kita, sepenggal sejarah yang sangat berarti tapi mungkin anda belum mengetahui.

Louisa Tuhatu

Setelah mendengarkan ini… mudah mudahan kita bisa memaknai lebih dalam ” Sekali diudara, tetap di udara…!!”

In Memoriam, Aki penjual Mie Jawa di Buncit.

My Favourite...

My Favourite…

Bakmi Jawa, salah satu makanan favoritku apalagi yang dimasak asli masih pake arang.
Di Buncit, tepatnya jalan margasatwa sebelah salah satu showroom mobil, dimana kalo siang jadi bengkel, ada salah satu tempat menjual Mie Jawa Favoritku.

Favoritku Mie Rebus, ditambah beberapa potongan cabe rawit, panas, pedas…hmmm…juga secangkir teh poci dengan sedikit gula batu.

Memang sih harus penuh perjuangan nunggunya, karena Aki (Aku memanggil dia Aki, asalnya dari bahasa sunda yang berarti Bapak Tua atau Kakek), lelaki tua yang perawakannya kurus, kulitnya gelap seperti kebanyakan orang jawa, dan sudah mulai kehilangan banyak giginya, harus memasak mie pesanan orang-orang satu persatu. Tapi dia masih kuat memasak 100 mangkuk lebih untuk satu malam. Jangan harap bisa kebagian kalau udah jam 10 malam sampe disini.

Singkat cerita karena intensitas yang lumayan sering, aku jadi sering ngobrol dengan Aki. Bahkan aku pernah iseng memperhatikan Aki masak sambil ku-foto alakadarnya pake kameraphone. Kadang Aki juga makan bersama kita, walau beda meja, karena mungkin dia memang belum makan malam.

Pernah sepulang siaran dan karena macet, hampir jam sebelas aku makan sendirian disini. Alhamdulillah masih kebagian, karena mungkin saat itu hujan, jadi orang males keluar rumah.

Aki cerita bahwa dia kepingin sekali punya gerobak sendiri, katanya sehabis lebaran mudah-mudahan dia punya gerobak jadi bisa jualan sendiri. Aku baru tau teryata Aki statusnya masih kerja sama orang lain. Dia tau persis berapa omset bersih dan kotor dari bisnis ini, engga heran karena Aki yang mengerjakan segala sesuatunya dari mulai belanja bahan baku, meracik bumbu, memasak, sampe terima pembayaran. Sehari hari, Aki cuma dibantu anaknya saja yang lelaki, ada juga seorang lelaki muda, mungkin masih keluarganya juga. Aki juga pernah memperlihatkan kartu nama beberapa orang yang ingin mengajak Aki berbisnis dalam hal ini jualan Mie Jawa. Aki juga cerita kalau dia lagi menabung supaya habis lebaran dia bisa jualan Mie Jawa sendiri di daerah lenteng agung (wah deket tempatku dong, aku udah seneng aja waktu itu). Singkat cerita, beberapa teman sudah kuajak tempat ini atau bahkan cuma kuceritain, sampe akhirnya mereka terbujuk untuk coba Mie Jawa si Aki. Continue reading →

Ya, Saya sudah pernah minum Kopi Luwak

Kalo pernah nonton film Bucket List yang dibintangi oleh Morgan Foreman dan Jack Nicholson (beberapa shootnya bisa liat di Youtube deh) pasti inget banget bahwa kopi luwak ini menjadi perbincangan yang cukup dominan. Ternyata bukan cuma difilm ini kopi luwak sempat muncul, beberapa film sepeerti serial tv lain juga sempat memunculkan kopi luwak ini.

Kopi ini menjadi mahal karena memang cukup sulit didapat, karena mengutip dari wikipedia : Kopi Luwak adalah jenis kopi dari biji kopi yang telah dimakan dan melewati saluran pencernaan binatang bernama luwak. Kemasyhuran kopi ini telah terkenal sampai luar negeri. Bahkan di Amerika Serikat, terdapat kafe atau kedai yang menjual kopi luwak (Civet Coffee) dengan harga yang cukup mahal. Kopi yang dikais dari kotoran luwak ini bisa mencapai harga AS$100 per 450 gram. Hanya saja kebenaran kopi yang dijual adalah benar-benar kopi luwak masih dipertentangkan.

Kemasyhuran kopi ini diyakini karena mitos pada masa lalu, ketika perkebunan kopi dibuka besar-besaran pada masa pemerintahan Hindia Belanda sampai dekade 1950-an, di mana saat itu masih banyak terdapat binatang luwak sejenis musang.

Binatang luwak senang sekali mencari buah buahan yang cukup baik termasuk buah kopi sebagai makanannya. Biji kopi dari buah kopi yang terbaik yang sangat digemari luwak, setelah dimakan dibuang beserta kotorannya, yang sebelumnya difermentasikan dalam perut luwak. Biji kopi seperti ini, pada masa lalu sering diburu para petani kopi, karena diyakini berasal dari biji kopi terbaik dan difermentasikan secara alami. Dan menurut keyakinan, rasa kopi luwak ini memang benar benar berbeda dan spesial dikalangan para penggemar dan penikmat kopi.

Namun binatang Luwak saat ini sekarang sukar untuk ditemukan. Dagingnya yang dipercaya dapat mengobati penyakit Asma membuat hewan ini terus diburu. Disayangkan kenikmatan kopi yang berasal dari memungut biji-biji kopi dari kotoran Luwak hanya tinggal mitos. Continue reading →

Yang seru (dan konyol) dari nonton konsernya Al Jarreau & George Benson. (2)

Berada di deretan kursi pemegang id card ‘press’ udah tentu nyaman dong… mengutip kalimat : posisi menentukan prestasi, jadi wajar kalau teman teman press ini dapat tempat yang strategis. Barisan depan, sudah terisi, jadilah saya ambil tempat agak ke tengah.
Teman teman wartawan yang duduk di sini kelihatannya sih sudah paham banget musik jazz karena pastinya itulah yang membuat mereka ada disini (menurutku lho..).

Saat para musisi memecah keheningan dengan memulai memainkan medley potongan lagu lagu andalan Jarreau dan Benson, seperti Morning, Give Me the Night, We’re in This Love dan saya lupa apalagi, soalnya sudah keburu seneng berarti mau mulai niiihh… Sontak saja mas Agung Wahono, yang kerap dipanggil AW, temanku penyiar, penyair, produser, dan perayu ulung karena suaranya di gila-gilai para wanita di Surabaya, dan juga penikmat musik jazz sejati dari radio Delta Surabaya yang duduk selisih satu kursi dari sebelahku langsung ikut menyanyikan lirik dari lagu lagu itu.. Dan ini menarik perhatian beberapa teman wartawan yang duduk dibarisan depan kami, lantas perbincangan pun dimulai dengan : “ Suka musik jazz ya Mas…?”, Mas AW pun langsung menyahut dengan rentetan cerita soal ini (ya iya lah..penyiar ditanya…. nyerocos deh langsung :p). Ternyata teman wartawan yang bertanya itu berasal dari satu kota dengan mas AW yang juga mewakili salah satu media terkemuka di Jakarta, jadilah kemudian pembicaraan berubah laksana lagi menonton pertandingan sepakbola Persebaya vs Persija.. serasa berada ditengah tengah bonek ha ha ha…..medog bo….!

Lagu pertama yang dikumandangkan (proklamasi kali..) oleh Jarreau adalah Breezin’. Mas AW pun yang hafal mati sama lagu ini (kayaknya ini lagu andalan dia deh kalo karaokean) langsung menyanyi tanpa melewatkan satu penggal lirik pun.. dan disambut dengan pertanyaan dari teman yang baru kenal tadi “Mas ini judul lagunya apa…?”, mas AW-pun menjawab dengan lugas dan mulailah teman – teman itu menulis kebetan dihandphone masing masing bakal nulis liputan nanti. Lagu lain pun dinyanyikan, Your Song, We’re in This Love.. dst.. dst.. dan ternyata pertanyaan “Ini judul lagunya apa mas?” masih berlanjut terussss… Mas AW sih dengan senang hati memberikan penjelasan bukan cuma judul tapi ditambah dengan informasi tambahan seperti yang biasanya terdapat pada detail info di i tunes seperti : lagu ini berasal dari album yang mana, tahun berapa dsb… Wah udah kayak jadi Denny Sakrie dadakan nih :D. Pembicaraan makin seru karena sesekali ditimpali oleh teman wartawan dibarisan belakang kami yang ilmu musik jazz-nya lumayan canggih juga. Continue reading →

Yang seru dari nonton konsernya Al Jarreau & George Benson. (1)

Beberapa catatan kurang penting yang sempat dilihat di konser dua musisi besar dunia yang sempat terekam kemarin di JCC sabtu kemarin adalah :

Sebelumnya kenapa dibilang kurang penting, karena sebenernya engga ada hubungannya dengan dua musisi itu sendiri, tapi lebih kepada para penikmat musik yang datang menonton konsernya.

Salah satu kelebihan kita kita yang mendapatkan id card sebagai ‘press’ adalah kita bisa dapat posisi yang strategis buat menonton konser itu ataupun mengamati penonton. Dari awal masuk ke lobby JCC, seperti biasa kalau ada perhelatan musik para pemegang id press ini sudah ambil posisi untuk mencari gambar, video, ataupun narasumber yang tentunya bisa mendukung peliputan mereka. Sayapun yang memang punya kebiasaan suka memperhatikan dengan seksama satu persatu orang yang lalu lalang di depan muka (naluri kali yaa..) seolah olah mendapatkan object yang pas banget dilobby JCC ini.

Dua perdua (bukan satu persatu lagi) para penikmat musik jazz (mudah mudahan semua begitu) mulai berdatangan dengan bermacam macam dandanan. Ada yang bergaya casual, cukup dengan jeans dan t-shirt, ada pula yang dressed up -terkesan berlebih juga sih-, gimana engga, ada yang pake sepatu boots kulit coklat tinggi (sempet juga sih dalam hati iseng mau tanya, mbak- mbak.. kudanya diparkir dimana..?), ada juga yang datang bagaikan mau kondangan dengan full make up, aksoseris dan gaun backless dress yang memamerkan keindahan punggungnya, ataupun dress bertali yang cukup sexy dan tentu saja dinikmati oleh banyak lelaki yang sedari tadi matanya sama seperti saya engga bisa tertib. Kitapun bertanya-tanya apakah ada artis pembuka yang akan tampil sebelum konser ini dimulai, rasanya sih dari data yang kami punya engga ada tuh. Ya… sah sah aja kok setiap mau datang dengan penampilan yang bagaimana, mengingat ini adalah event musik jazz yang sering dikategorikan ‘berkelas’. Belum lagi kita pasti bakal ketemu teman, kolega, gebetan, mantan pacar (engga dink yang ini mah) atau syukur syukur kena shoot jadi bisa mejeng di salah satu stasuin TV (halaah engga banget deh yang ini). Tapi, buat orang-orang yang sudah sering menonton event musik yang kerapkali digelar disini, pastinya sudah tau banget kalau air conditioner disini bekerja dengan sangat baik, yang artinya… kalau kita akan berada disalah satu ruangan di JCC ini lebih dari satu jam, engga mungkin aja engga kekamar kecil..(itu sih aku…engga tau kalo yang lain he he), dan kedua, ada satu aksesoris yang haram hukumnya kalo ditinggal alias wajib ketimbang high heel shoes ataupun sepatu boots yaitu : JAKET. Benda yang satu itu ampuh banget mengusir rasa dingin kalo lagi nonton konser selain jamu tolak angin dan makan dulu sebelum nonton konser dong pastinya…(soal jamu tolak angin cair, itu andalannya temanku Mbak Ria, wong ke kekantor aja pasti dibawa kok hehe.. sorry mbak Ria 😉 aku juga udah mulai ketularan kok, cuma kemaren aja engga bawa.. stoknya habis)

Continue reading →

H Rosihan Anwar, Kekerasan hati yang tak pernah padam

Jelang 17 agustus 2008, 63 tahun Indonesiaku, aku berkesempatan untuk bertemu dengan Rosihan Anwar, wartawan, sastrawan bahkan budayawan yang telah melalui banyak zaman. Gambaran kekerasan hati itu sudah mulai tampak saat kami mengetuk pintu rumahnya dan beliau langsung mempersilahkan kami untuk memulai sesi wawancara. Beliau sedang kurang sehat saat tu, tepatnya senin 11 Agustus 2008.

Selembar sapu tangan handuk putih beliau pegang dan sesekali digunakan untuk menyeka hidungnya selama wawancara berlangsung. Ada rasa engga PD juga sih waktu ketemu beliau, mengingat nama besar beliau dan banyak sekali hal hal yang sebenernya ada dikepala ingin ditanyakan, tapi kembali lagi ke rumusan komunikasi yang ampuh berdasarkan teori Think On Your Feet yang dipelajari di chill out friday juli lalu 😉 Simpel, langsung ke pokok permasalahan dan ketiga harus mengandung unsur persuasif dalam arti relevan dengan orang yang kita ajak bicara jadilah saya bertanya berdasarkan konsep yang sudah disiapkan Citra, produserku itu loh..

Straight to the point, kritis, langsung terkesan dari pertemuan ini. Dari mulai beliau mengomentari alat perekam yang digunakan masa kini yang semakin canggih tapi sering ada kendala jika dibanding zaman dulu yang hanya menggunakan kertas dan pulpen. Kamera pun hanya dimiliki oleh wartawan foto dan merupakan barang yang langka karena harganya cukup mahal.

Cerita dimulai dengan justru pada peristiwa pertempuran di Surabaya sepuluh november dimana beliau ditugaskan turun langsung meliput disurabaya bertemu dengan pejuang di Surabaya. Tentunya tidak ada fasilitas tiket pesawat ataupun hotel yang didapat layaknya wartawan zaman sekarang yang bertugas diluar kota. (rekaman wawancara-nya sudah bisa didengar di bawah lho!)

Bukan karena sikap loyal ke sesama jurnalis yang membuat beliau mendukung penuh usulan Aliansi Jurnalis Independent agar gaji wartawan bisa minimal Rp 4 Juta/bulan tapi karena beliau paham betul bagaimana bisa hidup hanya dengan gaji yang kecil seperti yang masih banyak diterima wartawan saat ini. Continue reading →

Chris Botti in the house… Black Cat Jazz Supper Club

Dari kamera mas Jerry Justianto

 Ladies... don't be jealous please...;)

Chris Botti

Chris Botti dari kamera mas Dibya

Ini dari kamera mas Jeffry

Mas Jerry CEO dari Masima Content & Channels

nia

Berkesempatan ngobrol dengan Chris Botti di Black Cat Jazz Supper Club, di Chill Out Friday.. Sudah agak lama sih  tanggal 25 April 2008 lalu. Tapi yaaa…. kayaknya hidupku bakal merana kalau aku ndak posting fotonya diblog-ku sendiri he he he,  what a wonderful moment. :). Dalam satu bulan dia pernah konser lebih dari 20 x, rahasianya : Yoga!.  Kumpul juga dengan temen-temen komunitas fotografi dari ayofoto.com, komunitas blogger dan ada tamu lain juga Romi Rafael. Beberapa foto diatas adalah hasil jepretan dari teman-teman komunitas  Ayofoto, mas Dibya, Mas Jeffry dan my Boss Mas Jerry.

Chill Out Friday di Brew & Co Citos with Ten 2 Five

Jumat minggu ke empat dibulan Juli, seperti biasa kita outside broadcast kali ini di Brew & Co Citos, Cilandak Town Square.

Dibuka dengan Obrolan ‘How To Sell Your Self’ dari teman-teman Think on Your Feet, ada mas Bayu sebagai pembicara, lalu ada demo bikin kopi dari Barista-nya Brew & Co, dan pastinya akustikan dari Ten 2 Five. Ternyata nama Ten 2 Five itu diambil dari jam latihan-nya personil Ten 2 Five waktu mereka masih pada kuliah di Australia.

Thanks a lot buat yang pada datang ya…termasuk mas Safir Senduk, dan sukses buat Ten 2 Five yang sudah beralih ke jalur indie :)

cof-brewco2

Tim Chill Out Friday

Kopi yang baru saja didemo-in oleh Barista-nya Brew & Co

Latihan 'jualan' yang baik :)

Demo buat kopi

Ten 2 Five di Outside Broadcast COF

Klappertaart

Seperti yang aku cerita sebelumnya, ini adalah tulisanku yang sudah aku tulis tapi belum sempat diupload, kemudian aku terima berita duka dari Uni Dewi, soal kepergian sahabatku di NCC (Natural Cooking Club) yang memberikan resep ini…Mbak Ruri…

Klappertaart, salah satu menu favorit kalau dateng ke restaurant manado.
Sebenernya ini sejenis puding yang lembut dan tambah maknyus kalau dihidangkan dingin alias baru dikeluarkan dari lemari Es. Cara masaknya pun sebenernya gampang banged, cuma aduk-aduk, cemplung cemplung diatas kuali terus dipanggang sambil di tim, bahasa lainnya Au Bean Marie (mudah-mudahan ga salah nulisnya :))

Banyak yang tanya kenapa harga jual si Klappertaart ini lumayan mahal, tanya kennapaa? Ya iya laaahh… satu kelapa muda aja di Jakarta dijual lumayan mahal, untuk satu resep biasanya aku pake minimal 5 buah, belum lagi kenari yang walaupun dipakai tidak banyak tapi dia suka ngumpet alias susah nyarinya.

Yang paling suka klappertaart sudah pasti si ganteng Rayhan….
Beberapa teman yang sudah mencoba klappertart ku sih katanya mantaff..
Ini aku cantumkan resepnya yang aku dapat dari teman-teman NCC yang mungkin bisa berguna buat yang mau mencoba. Continue reading →